Mengukir Corak Kematian?

Manusia hidup perlu strategi dan trik. Ia tak bisa menjalani langkah untuk menuai sukses, kecuali dengan merumuskan langkah dan cara demi menggapai apa yang ia cita. Dan begitupun dengan kematian.

Meski kematian bagaikan momok yang begitu menakutkan bagi kebanyakan orang, namun mau tidak mau, suka tidak suka, yang jelas kematian pasti datang menjelang. Yang menjadi masalah sebenarnya bukan kematian itu sendiri. Karena semua insan pasti mendatangi telaga kematiannya. Kegemilangan apapun yang telah diraih manusia, ataupun kerendahan apapun yang menghinakannya, namun yang jelas kematian pasti mendatanginya. Tak pandang kaya atau miskin, terpandang atau terbuang, pemenang atau pecundang, alim maupun jahil, muslim ataupun kafir, namun yang pasti semuanya akan merasakan kematian. Sampai Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam pun juga meninggalkan dunia yang fana ini.

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِن مِّتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ (34) كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ (35)

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Al-Anbiya’:34-35)

Warna Kematian

Tak ada kiranya orang yang mengingkari kematian. Sudah berlalu berjuta masa, dan setiap kali itu pula,telah berlalu makhluk yang hidup di masanya, untuk kemudian digantikan dengan generasi-generasi selanjutnya secara bergilir. Namun model dan corak manusia berbeda-beda. Ada yang ingkar kepada Robb nya. Ada yang berusaha untuk lurus dan selalu berupaya untuk memperbarui taubatnya, ada pula kalangan yang tegar di atas jalan Tuhannya, karena ia mengenal Alloh Sang Penciptanya dengan baik. Dan semua golongan tersebut, tak ada yang diberi keistimewaan untuk hidup kekal selamanya. Semuanya pasti mati, meski dengan cara beragam.

Namun meski cara, model dan sebab kematian beragam, namun tetap saja kematian itu satu. Tinggal bagaimana manusia pandai-pandai untuk memilih kematian cara apa yang harus ia ‘rancang’. Seperti ucapan seorang penyair:

مَنْ لَمْ يَمُتْ بِالسَّيْفِ مَاتَ بِغَيْرِهِ تَعَدَّدَتِ الْأسْبَابُ وَالْمَوْتُ وَاحِدُ

Kalaulah seseorang tidak mati karena tebasan pedang, ia akan mati dengan cara lain

Sebab kematian memang bercorak ragam, namun kematian tetaplah satu

Dan orang beriman adalah orang yang pandai lagi cerdas. Dan yang paling cerdas di antara mereka adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling banyak mempersiapkan bekal untuk hari setelah kematiannya. Ia bisa mengukur umur dirinya. Bukan dalam artian ia tahu berapa jatah usia yang diberikan. Namun ia sadar bahwa umur manusia bagaikan mimpi, tidak menetap lama, dan sewaktu-waktu pasti berakhir dengan cepat. Karena itu iapun meninvestasikan umurnya dengan menanam saham akhirat sebagus mungkin. Sehingga ketika jatah umurnya telah habis, iapun sudah mempunyai tabungan bekal iman dan amal shalih untuk kehidupan kelak di akhirat. Berbeda dengan orang yang lengah, atau orang yang ingkar. Yang ada dalam dirinya hanyalah bagaimana menikmati hidup dunia yang sebenarnya hanyalah sesaat. Ia justru lari dari mengingat kematian.

Dalam hadits Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan pernyataan bahwa kaum mukminlah orang yang paling cerdas.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ

Dari Ibnu Umar ia berkata: Aku pernah bersama Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam. Lalu seorang dari kalangan Anshor mendatangi beliau, dan beruluk salam atas Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam, kemudian bertanya: “Wahai Rosululloh, kaum mukmin macam apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Yaitu yang paling bagus akhlaknya.” Ia bertanya lagi: “Lalu kaum mukmin macam apa yang paling cerdas?” Beliau menjawab: “Yaitu yang paling banyak mengingat mati, dan paling banyak persiapan untuk setelah kematiannya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah, dan ada rawi yang majhul di sana. Namun sanadnya juga hasan dalam riwayat Baihaqi dalam Az-Zuhd dan Bazzar. Hakim menshahihkannya, dan disepakati oleh Zahabi. Lihat At-Targhib wat Tarhib dengan dengan ta’liq Syaikh Albani hal 1208).

Golongan Manusia Terhadap Kematian

Memang perkara mengingat kematian telah menjadi penyeimbang hidup. Bagaimanapun keadaan seorang manusia, maka mengingat kematian akan menyeimbangkan hidupnya. Ia tidak lalai saat berlimpah nikmat, demikian pun ia tidak merasa tersiksa saat kesulitan menjerat. Karena manusia tak lepas dari dua keadaan, kadang dalam kesempitan, kadang dalam kelapangan. Kadang dalam nikmat, kadang dalam cobaan. Bila ia tengah dililit kesempitan hidup, dicoba dengan cobaan berat, lalu ia mengingat kematian, maka akan menjadi enteng dan ringan keadaan yang menimpanya. Karena ia tahu bahwa dunia hanyalah cobaan dan ujian, dan tidak seharusnya seseorang tertipu dengan dunia. Sebab di balik dunia, ada kehidupan abadi nan kekal yang haruslah menjadi prioritas utama. Dengan begitu iapun tidak tertipu dan tidak merasa tentram dengan dunia. Sehingga mengingat kematian akan memunculkan perasaan tidak nyaman dengan dunia yang fana ini, dan dengan begitu setiap saat akan muncul tekad untuk menghadapi kehidupan akhirat yang kekal.

Ka’b berkata: barang siapa yang mengetahui kematian, akan terasa enteng baginya berbagai musibah dan kegundahan dunia.”

Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

أَكْثَرُوا ذَكَرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ، فَإِنَّهُ مَا ذَكَرَهُ عَبْدٌ قَطُّ فِي ضِيقٍ إلَّا وَسَّعَهُ وَلَا فِي سَعَةٍ إلَّا ضَيَّقَهَا

Perbanyaklah untuk mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian). Sesungguhnya tidaklah seorang hamba mengingatnya kala berada dalam keadaan sempit, melainkan itu akan membuatnya merasa lapang. Dan tidaklah ia mengingatnya pada saat lapang, melainkan itu akan membuatnya merasa sempit.” (HR. Ibnu Hibban dan Bazzar)

Dan pesan Nabawi ini merupakan mutiara yang paling lengkap dan paling mengena tentang makna kematian. Al-Munawi berkata menukilkan perkataan Askari: seandainya para pakar balaghah merenungkan lafazh ini, pastilah mereka tahu bahwa dengan ucapan yang sedikit ini, Nabi pilihan lah yang lebih sempurna (kandungan maknanya) dibandingkan lainnya mengenai segala perkataan –baik yang berbentuk prosa maupun syair- yang diperkatakan mengenai kematian.

Mutharrif Bin Abdulloh berkata: “Sesungguhnya kematian ini telah membuat keruh dan risau terhadap orang-orang yang bergelimang nikmat dalam hal kenikmatan yang mereka rasakan. Karena itu, carilah kenikmatan yang tak ada kematian dalam kenikmatan tersebut!”

Dan manusia dalam menghadapi kematian bisa diklasifikasikan menjadi tiga kelompok:

1.Orang yang tenggelam mencari kenikmatan dunia, yang senantiasa berusaha mengais dunia.

2.Orang yang bertaubat yang bisa dikategorikan sebagai pemula

3.Orang yang ‘arif, yang telah sampai pada tingkatan yang tinggi

Adapun orang yang tenggelam larut dengan dunia, maka ia tidak mengingat kematian. Kalaupun ia ingat kematian, maka itu hanyalah atas dasar kesedihannya karena ada bagian dunia yang terluput dari dirinya. Jadilah ia disibukkan dengan mencela dirinya, karena telah meluputkan kenikmatan dunia. Maka orang seperti ini, bila ia ingat kematian pun, itu hanya akan menambah dirinya jauh dari Alloh.

Adapun orang yang bertaubat, maka ia akan banyak mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, diharapkan akan menyeruak dari hatinya rasa takut dan khasyah (rasa takut akan siksa dan takut karena keagungan Alloh). Dengan demikian ia akan menyempurnakan kerangka taubatnya dengan sebaik-baiknya. Terkadang ia tak suka dengan kematian, karena merasa khawatir kalau kematian menyambanginya sebelum terlaksana kesempurnaan taubatnya dan sebelum ia memperbaiki bekal akhiratnya. Dalam keadaan ini, ia bisa dimaklumi dalam hal ia tidak suka kematian. Dan ini tidak masuk dalam cakupan yang disabdakan Rosululloh n :

وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

Barangsiapa yang membenci perjumpaan dengan Alloh, maka Alloh pun membenci perjumpaan dengannya.” (Muttafaq alaih).

Karena orang ini tidaklah membenci kematian dan perjumpaan dengan Alloh. Hanya saja ia khawatir tidak bisa berjumpa dengan Alloh (dengan perjumpaan yang baik) dikarenakan kekurangan dan kealpaannya. Keadaan dirinya bagaikan orang yang berlambat-lambat dari menemui orang yang tercinta, dikarenakan ia menyibukkan diri dengan persiapan-persiapan dalam rangka untuk bertemu dengannya dengan keadaan yang disukai oleh orang yang tercinta.

Adapun seorang ‘arif, yang mengenal dan tahu terhadap Alloh dengan baik, maka ia selalu ingat kematian. Karena kematian akan menjadi media terlaksananya janji untuk bertemu dengan Yang terkasih. Dan seorang yang mencinta, ia sama sekali tidak lupa dengan janji untuk bertemu dengan Yang ia cintai. (Mau’izhotul Mu’minin Min Ihyâ’i ‘Ulûmiddîn Syaikh Jamaluddin Al-Qosimi hal 395).

Potret ahli iman dan ahli maksiat mengukir kematian

*Inilah Si Pedang Alloh dan Rosul-Nya, Khalid Bin Walid. Ia mengatakan: “Sudah dua puluh tahun aku terjun di medang perang. Tak ada satu tampat selebar satu jengkal di tubuhku, melainkan tergores di sana sabetan pedang, atau tikaman tombak. Dan sekarang, inilah aku, menghadapi kematian di atas kasurku, seperti halnya matinya unta. Mata orang-orang pengecut tak bisa menidurkan matanya!” Lihatlah seorang yang mendermakan hidupnya untuk Alloh, yang selalu mengarungi medan peperangan, yang tentunya tak lagi risau mendengar desingan pedang dan lesatan anak panah. Yang tak risau kalau-kalau kematian datang mengejutkannya. Dan Alloh menentukan tempat berlabuh kematiannya bukanlah di medan yang selama ini ia geluti. Sedangkan orang yang pengecut,dirinya tak bisa tenang. Kekhawatiran selalu menghinggapi hatinya. Takut kalau-kalau kematian menjemputnya di tampat dan waktu yang tak ia sangka-sangka. Atau justru ia lari dari kematian dengan meninabobokkan akalnya, sehingga ia menjadi terlupakan bahawa ia pasti akan mati, tanpa punya bekal untuk menjaminan kenyamanan hidupnya seusai kematiannya.

Potret lain dari kematian yang sungguh menggalaukan hati. Seseorang yang tengah menghadapi kematian, diingatkan kepadanya untuk mengucapkan kalimat tauhid. Namun justru ia menyenandungkan syair, menyebut-nyebut sosok yang selama ini menawan hatinya:

Wahai wanita yang suatu hari bertanya diiringi keletihan

Di manakah jalan menuju pemandian Manjab

Ia adalah seorang lelaki yang ditanya oleh seorang wanita yang berparas menawan, yang menanyakan jalan menuju pemandian Manjab. Dan lelaki ini pun menunjukkannya ke rumahnya saking tertawannya hati. meski ia tidak berhasil memperdayainya, namun, bayangannya selalu melekat di hatinya. Dan senantiasa terngiang-ngiang, hingga ia pun menyenandungkannya saat kematian menjemputnya. Na’udzu billah dari su’ul khatimah.

Semoga Alloh memberikan kita husnul khotimah dengan diwafatkan di atas Islam.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 05 Tahun 04

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.