MENGAPA SEMANGAT UNTUK DUNIA TAPI SANTAI UNTUK AKHIRAT

DUNIA

MENGAPA SEMANGAT UNTUK DUNIA TAPI SANTAI UNTUK AKHIRAT

 

Bila seseorang mau memperhatikan dan menyadari dengan jujur tentang ibadah-ibadah Badaniyyah, ia akan menyimpulkan bahwa pelaksanaan ibadah-ibadah itu tidaklah memakan waktu yang banyak dari kehidupanya. Demikian pula, jika ia kembali merenungkan ibadah maaliyah  yang mengharuskan seseorang mengeluarkan hartanya secara wajib, ia pun akan tau bahwa ibadah itu tidak menuntut dari dirinya kecuali sedikit saja.

Selain itu, aspek lain yang perlu diperhatikan umat dalam ibadah-ibadah tersebut ialah besarnya manfaat yang didapatkan oleh orang yang tekun melaksanakan ibadah badaniyyah  karena Allah yang pelaksanaanya tidak butuh banyak waktu dan manfaat bagi orang yang patuh menyerahkan sebagian kecil dari hartanya. Manfaat-manfaat ibadah itu sangat besar karena berhubungan dengan perbaikan dunia dan akhiratnya.

Ibadah Itu Ringan Tapi Besar Manfaatnya

Silahkan lihat ibadah shalat, sangat mudah dan pelaksanaanya tidak membutuhkan waktu yang banyak. Dan cermatilah manfaat-manfaat besarnya. Shalat sangat bermanfaat bagi hati ,tubuh, individu dan masyarakat. Shalat merupakan penghubung antara seorang hambah dengan rabnya. Orang yang mengerjakan shalat dalam keadaan bersih secara lahir dan batin. Ia berdiri dihadapan Rabnya dengan kusyu, tunduk dan mendekatkan diri kepadanya dengan apa yang telah disyariartkan didalamnya, berupa membaca dzikir Al-Qur’an,ruku,sujud, berdiri dan duduk. Shalat mengingatkan kadar keagamaan seseorang, menghapuskan dosa-dosanya dan mengahalanginya dari perbuatan keji dan kemungkaran.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

إِنَّ الصَّلَوَةَ تَنْهَى عَنِ الفَحْشَآءِ وَالمُنْكَرِ

Artinya : Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar. ( QS. Al- Ankabut : 45 )

Sementara, membayar zakat hanya menuntut dari seorang yang mengeluarkan prosentasi yang sangat sedikit dari harta yang dimilikinya. Dan kegunaanya,membantu dan memenuhi kebutuhan saudara-saudara seiman dan memperbaiki keadaan masyarakat.Dalam pembayaran zakat ini, terdapat unsur membersihkan harta, mensucikan jiwa dari sifat bakhil yang tercela, dan membersihkan hati dari dosa.

 

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَّكِيهِمْ بِهَا

Artinya : “ Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka . ( QS. At-Taubah : 103 )

Syaihk  Abdurrrahman As-Sa’di menyatakan “ bahwa zakat akan membersihkan mereka dari dosa-dosa dan ahklak-ahklak buruk , dan meningkatkan kebaikan mereka, dan menambah ahklak-ahklak baik mereka dana mal-amal shalih mereka dan menambah balasan duniawi dan ganjaran uhkrawi mereka, serta mengembangkan harta-harta mereka.

BELUM BERBUAT ADIL

Namun sayang, manusia, termasuk kita, masih belum berbuat adil dalam masalah ini. Kita masih kurang menaruh perhatian besar terhadap ibadah-ibadah tersebut. Sementara, terhadap kenikmatan dunia, manusi mengerahkan tenaga,waktu, usaha dan fokusnya denagn lebih besar untuk menggapainya.

Manusia betul-betul bersemangat untuk meraihnya, memajukanya,memperbanyak dan mengembangkanya, meskipun menghabiskan banyak waktudan pikiran. Padahal, kita tahu, semua itu tidak akan mengabadikan diri kita didunia dan juga tidak akan bakal kekal bagi kita. Kita sudahpaham, amal-amal shalihlah yang akan abadi dan kekal bagi orang dan ia akan hidup abadi dalam kebahagian ketika mendapatkan pahalanya kelak di akhirat. Apakah ini sifat yang adil dan logis?. Seseorang bmati-matian melakukan segala sesuatu untuk menggapai kesuksesan didunia, sedangkan disisi lain, ia bersantai-santai saja untuk menggapai kesuksesan didunia bersifat  fana dan usaha untuk akhirat bersifat abadi?.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

المَالُ والبَنُون زِينَةُ الحَيَوةِ الدُّنْيَا والبَقِيَتُ الصَّلِحَتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيرٌ أَمَلًا

Artinya “ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal lagi sholeh adalah lebih baik pahalanya dari rabmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS.Al-Kahfi : 46 )

Al-bagiyatush shalihaat adalah amalan-amalan shalih yang tidak putus, seperti zakat, shalat, puasa,haji, umrah,membaca al-quran, membaca tasbih, takbir,tahmid dan membaca tahlil dan berbuat baik kepada sesama, serta amalan-amalan hati dan badan lainya.

Manusia diminta untuk menunaikan zakat, akan tetapi dia pelit untuk mengeluarkanya. Jika membayarkanya, mungkin saja ia mengeluarkanya, tapi tidak penuh, sehinggah ia masih menanggu tanggungan. Meski demikian, ia menjadi amat mudah sekali menggelontarkan uang untuk urusan-urusan dunianya, yang bisa saja urusan-urusan itu menjadi bencana bagi dirinya atau mengancam agamanya.

Berapa banyak harta dibelanjakan untuk keperluan-keperluan kemewahan belaka demi kehidupan yang lebih nyaman dan enak! Dan betapa sedikit, kekayaan yang ia keluarkan untuk memenuhi kewajiban agamanya, apakah ini adil dan berimbang?.

Ada sebagian orang masih susah mengeluarkan kekayaanya dan memanfaatkan kekuatan fisiknya untuk ibadah haji dan umrah. Akan tetapi ,orang itu sangat mudah merongoh koceknya untuk melancong keluar negeri atau  melakukan trevelling yang memforsir tenaga dan fikiranya, untuk kesenangan dan keceriaan sesaat. Bahkan kadang kepergainya ketempat yang jauh itu berakibat melalaikan kewajibnya mendidik keluarga dan mengorbankan kebersamaanya dengan anak dan istrinya.

Allah Subhanahu Wata’ala Berfirman :

بَلْ تُؤْثِرُون الحَيَوةَ الدُّنْيَا, وَالأَخِرَةُ خَيْرٌوَأَبْقَى

Artinya :  Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.  ( QS. Al-A’la: 16-17 )

Syaihk As-Sa’di mengatakan, “Seseorang mukmin berakal tidak memilih sesuatu yang lebih buruk dengan mengorbankan sesuatu yang lebih baik. Ia tidak membeli kenikmatan sesaat dengan mengadaikan kesenangan abadi.”

TIDAK BERMAKNA MENINGGALKAN DUNIA SECARA TOTAL.

                Kita tidak diharuskan meninggalkan kehidupan dunia secara keseluruhan. Perintah demikian tidak mungkin terjadi. Sebab, manusia butuh menjaga keberlangsungan hidupnya dengan bekerja mengais rizki dan penghidupan.

Kita hanya diarahkan untuk tidak mengutamakan dunia diatas akhirat, dan jangan sampai dunia menjadi fokus utama yang dipikirkan terus, seakan-akan manusia diciptakan hidup didunia semata. Dan seolah-olah dunia itu akan kekal abadi.

Syaihk al-Utsaimin mengatakan,” akan tetapi, ambillah bagianmu didunia dan berbuatllah untuk akhirat sebagaimana mestinya. Lakukanlah amal perbuatan dengan sebaik-baiknya. Kerjakan dengan serapi-rapinya, sebagaimana kalian mengerjakan urusan dunia dengan sebaik-baiknya dan dengan rapi. Jika kalian tidak melakukanya, sungguh kalian telah menomorsatukan dunia diatas akhirat, dan kalian kembali dengan membawa dosa dan kerugian yang besar.

PENUTUP

                Mari kita bersikap adil dan berimbang dalam meraih kebahagian hidup di akhirat. Kehidupan yang berisi kenikmatan abadi yang tidak pernah terlihat mata, terdengar oleh telinga dan terlintas dengan benak-benak kita. Untuk meraihnya, manusia membutuhkan modal berupa amal-amal shalih yang didukung penuh oleh focus pikiran, materi, fisik, dan waktu. Semestinya, itulah yang lebih diperhatikan dan diperjuangkan oleh keluarga muslim.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَفِي ذَالِكَ فَلْيَتَنَافَسِ المُتَنَافِسُون

Artinya: Dan untuk yang demikian itu, hendaknya orang-orang berlomba. ( QS. Al-Muthafifin : 26 )

 

Hendaknya, orang-orang bersegera untuk itu dengan amal-amal shalih yang mengantarkan mereka ke sana. Untuk tujuan inilah sepetutnya segala yang berharga dikerahkan. Dan untuk tujuan itulah orang-orang berdesakan untuk menggapainya.

Fisik yang sehat, harta yang melimpah dan waktu-waktu yang longgar tidak pantas disebut bermanfaat bagi seorang, bila badannya tidak dipergunakan untuk ketaatan kepada Allah dan berkhidmah kepadanya, waktu-waktunya dimanfaatkanya untuk mengejar ketinggalan, berbuat baik atau melakukan hal-hal yang mendekatkan kepada Allah, dan hartanya tidak dipersembahkan untuk akhiratnya.

Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk melakukan hal-hal yang diridhai Allah dan menyempurnakan bagi kita petunjuk yang lurus dalam seluruh urusan. Ammiin.

 

Referensi:

Diambil dari Majalah As-Sunnah, Edisi: 08/XX1 Rabi’ul Awwal 1439/Desember 2017

Ditulis oleh: Ustadz Abu Minhal, Lc.

Diringkas oleh: Ustadz Abu Hizam Abdul Hadi

Baca Juga Artikel:

Wanita Beriman Dari Keluarga Fir’aun

Anak Yatim Yang Terlantar

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.