Mengambil Pelajaran Dari Ketabahan Nabi Ayub

Mengambil Pelajaran Dari Ketabahan Nabi Ayub[1]

 

Allah mengkisahkan Nabi Ayub di dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”. (Allah berfirman): “Hantamkanlah kakimu; Inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum”. Dan Kami anugerahi Dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya).” (Qs. Shaad[38]: 41-44)

Agar kita bisa memahami dengan baik kisah Nabi Ayub di dalam ayat-ayat di atas maka kita akan menjelaskankannya dalam beberapa bagian:

  1. Perintah untuk mengambil pelajaran dari Kisah Nabi Ayub
  2. Allah menguji Nabi Ayub dengan ujian yang berat dan melelahkan
  3. Akibat kesabaran, ketabahan, ketaatan, dan pengabdian Nabi Ayub yang baik, maka Allah berikan kepadanya rahmat dan karunia-Nya
  4. Di antara sifat-sifat Nabi Ayub yang sangat menawan adalah sabar, tabah, sebaik-baik hamba, dan orang yang sangat taat kepada Allah.

a. Perintah untuk mengambil pelajaran dari Kisah Nabi Ayub

Allah memerintahkan kita untuk mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ayub. Allah berfirman:

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub”

Ingatlah dengan pengingatan yang baik, sehingga pelajaran dapat dipetik. Renungilah dengan perenungan yang mendalam, sehingga ibrah dapat digapai. Cermatilah dengan pencermatan yang tepat, sehingga kebaikan diperoleh. Kisah para nabi dan rasul secara umum, dan kisah nabi Ayub secara khusus adalah kisah yang sarat dengan pelajaran dan ibrah yang baik bagi orang-orang yang berakal. Di antara cara-cara yang ampuh untuk memotivasi diri agar semangat dalam mengerjakan kebaikan adalah dengan menelaah, membaca, mencermati, dan merenungi kisah-kisah orang-orang yang mulia, mereka itu adalah para nabi dan para rasul.

b. Allah menguji Nabi Ayub dengan ujian yang berat dan melelahkan.

Allah berfirman:

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”

Allah menguji nabi Ayub dengan mematikan anak-anaknya, mensakitkan badannya, dan meludeskan hartanya.[2] Cobaan dari Allah yang menimpa kita tidak ada apa-apa jika dibandingkan dengan ujian yang dihadapi oleh nabi Ayub. Apabila kita diuji dengan tidak punya anak, maka kita masih berbadan sehat dan berharta banyak, dan apabila kita diuji dengan kemiskinan harta, maka kita masih berbadan sehat dan berketurunan banyak. Namun sedikit sekali di antara kita yang diuji oleh Allah dengan hilangnya keturunan, sakitnya badan, dan ludesnya harta dalam waktu yang sama.

c. Akibat kesabaran, ketabahan, ketaatan, dan pengabdian Nabi Ayub yang baik, maka Allah berikan kepadanya rahmat dan karunia-Nya.

Allah berfirman:

Dan Kami anugerahi Dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran. “Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya).”

Allah mensehatkan kembali badan nabi Ayub yang dahulu sakit-sakitan, Allah mengumpulkan kembali keluarganya yang dahulu meninggalkannya, dan Allah melimpahkan hartanya kembali yang dahulu ludes. Kenapa ini bisa terjadi?! jawabannya adalah firman Allah “Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya)” karena kesabaran, ketabahan, pengabdian, dan ketaatan, maka Allah limpahkan rahmat kepada nabi Ayub.

Ini adalah pelajaran yang sangat agung yang harus dipetik. Tatkala kita diuji, dicoba, dan ditempa oleh Allah dengan badan sakit, harta sedikit, anak tidak kunjung tiba, bencana alam, dan ujian-ujian lainnya, agar penyakit tidak semakin parah, luka semakin dalam, dan hati semakin teriris, maka ujian-ujian tersebut dihadapi dengan sabar. Tetap istiqamah didalam kesabaran, peribadahan, dan ketaatan meskipun musibah dan ujian menerpa. Dengan demikian ujian itu melipatkan pahala dan memulihkan keadaan.

Namun kita menyaksikan pemandangan yang sangat menyedihkan, ketika Allah menguji suatu kaum dengan ujian, bukannya mereka bersabar, sebaliknya mereka mengerutu dan menyalahkan takdir, bukannya mereka taat, sebaliknya mereka semakin berani bermaksiat. Lalu apakah yang terjadi? Yang terjadi adalah musibah di atas musibah, ujian di atas ujian, bencana di atas bencanya, luka di atas luka, penderitaan di atas penderitaan …!!! Janganlah kita melukai luka yang sudah menganga, tetapi marilah kita obati luka tersebut. Luka itu adalah musibah, bencana, ujian, dan malapetaka, sedangkan obatnya adalah sabar, tabah, taat, dan beribadah.

d. Di antara sifat-sifat Nabi Ayub yang sangat menawan adalah sabar, tabah, sebaik-baik hamba, dan orang yang sangat taat kepada Allah.

Allah berfirman:

Sesungguhnya Kami dapati Dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah Sebaik-baik hamba. Sesungguhnya Dia Amat taat (kepada Tuhan-nya).”

Sifat-sifat yang menawan, perangai-perangai yang mulia, dan akhlak-akhlak yang luhur yang terpatri dalam jiwa dan raga nabi Ayab adalah sabar, tabah, beribadah, dan taat. Sifat-sifat ini harus dicontoh, ditiru, dan diteladani.

Sabar adalah tabah, karena orang yang sabar berarti dia tabah. Sabar adalah mengendalikan diri untuk taat kepada Allah, mengekang diri dari bermaksiat kepada Allah, dan menahan diri dari menyalahkan, mengerutui, dan mengeluhkan takdir Allah. Sabar terbagi menjadi tiga sabar menjalankan perintah Allah, sabar menjauhi larangan Allah dan sabar menghadapi takdir Allah.[3]

Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah baik perkataan maupun perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin. Ibadah adalah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Suatu keyakinan, pernyataan, dan perbuatan apabila ikhlas dilakukan dan sesuai dengan ketetapan Allah dan Rasul-Nya maka itulah ibadah yang syah dan diterima oleh Allah.[4]

Taat artinya adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Taat kepada Allah artinya adalah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.[5]

Kesimpulan:

  1. Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mengambil pelajaran dari kisah-kisah para Nabi dan Rasul.
  2. Cara jitu untuk memotivasi diri gemar beribadah adalah membaca biogragi para nabi dan rasul, serta para salafusshalih.
  3. Allah menguji Nabi Ayub dengan ujian yang sangat berat. Badanya sakit, anaknya berguguran, dan hartanya habis.
  4. Nabi Ayub menghadapai ujian dari Allah dengan kesabaran, ketabahan, ketaatan, dan peribadahan.
  5. Musibah berubah menjadi rahmat apabila dihadapi dengan sabar, taat, dan beribadah.

Mudah-mudahan kita bisa mengambil pelajaran dari kesabaran, ketabahan, ketaatan, dan pengabdian nabi Ayub. Mudah-mudahan kita dijadikan sabar dikala terkena musibah, tabah disaat diuji, taat saat dilanda bencana, dan senantiasa beribadah kepada Allah dalam berbagai situasi dan kondisi. Amiin Wa Allah ‘Alam Bis shawab.

 

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 07 Tahun 03

[1] Ditulis oleh Adi M Abu Aisyah

[2] Lihat “Tafsir Ibnu Katsir” Jilid IV Hal. 2429. Cet. Jamiyatu Ihyait Turats Al-Islamy.

[3] Lihat “Syarhu Uthuluts Tsalatsah” hal. 14-15 cet. Darul Aqidah.

[4] Lihat “Al-Qaulul Mufid” hal. 9 cet. Muassasah Ar-Risalah.

[5] Lihat “Syarhu Ushuluts Tsalatsah” hal. 22 cet Darul Aqidah.

1 Comment on Mengambil Pelajaran Dari Ketabahan Nabi Ayub

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*