MANHAJ SALAF SEBAGAI HUJJAH YANG  WAJIB DIIKUTI OLEH KAUM MUSLIMIN

cover larangan

MANHAJ SALAF SEBAGAI HUJJAH YANG  WAJIB DIIKUTI OLEH KAUM MUSLIMIN

 

Dalil-dalil dari AL-Qur-anul Karim dan As-Sunnah yang menunjukan bahwa manhaj salaf adalah hujjah yang wajib diikuti oleh kaum Muslimin, diantaranya adalah:

  1. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :

وكذلك جعلنكم امة وسطا لتكونوا شهداء علئ الناس ويكونا الرسول عليكم شهيدا                   

“Tunjukilah kami jalan yang lurus,(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) merka sesat.”(QS. Al-Faatihah: 6-7)

Al-Hafizh Ibnu Katsir ( wafat th. 774 H ) menyebutkan bahwa shiratal mustaqim itu memiliki empat penafsiran; (1) al-haq  ( kebenaran), (2) agama islam, (3) Al-Qu-ran, (4) Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam,  Abu Bakar dan Umar . Beliau mengatakan bahwa keempat tafsir tersebut benar dan saling menyelarasi satu sama lain. Sebab, orang yang mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan mengukuti jejak dua Khalifah setelah Beliau, yaitu Abu Bakar dan ‘Umar, maka ia telah mengikuti kebenaran, dan siapa yang mengikuti kebenaran, dan siapa yang mengikuti kebenaran berarti ia telah mengikuti Al-Qur-an, Al-Qur-an adalah Kitabullah dan tali Allah yang kokoh, jalan Nya yang lurus dan semuanya adalah shahih dan saling membenarkan .

Dengan kata lain siapa saja yang mencari kebenaran, maka kebenaran itu ada pada islam, sedangkan Islam itu sumbernya dari Al-Qur-an dan As-Sunnah, dan Al-Qur-an dan As-Sunnah,itu wajib dipahami sesuai dengan pemahaman para Shahabat radhiyallahu’anhu .

Faktor yang membuat kelompok-kelompok  dalam islam menyimpang dari jalan yang lurus adalah kelalaian mereka terhadap rukun ketiga yang sebenarnya telah diisyaratkan  dalam Al-Qur-an dan  As-Sunnah, yakni memahi Al-Qur-an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih. Surah Al fatihan secara gamblang menjelaskan ketiga rukun tersebut, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

اهدنا الصرط المستقيم

Tunjukilah kami jalan yang lurus .” ( QS. Al-Fatihah: 6)

Ayat ini mencangkup rukun pertama Al-Qur-an dan rukun kedua (As-Sunnah),  yakni merujuk pada Al-Qur-an dan As-Sunnah ,sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Allah Subhanahu Wata’ala  barfirman:

صرط الذين انعمت عليهم غير المغضوب عليهم  ولا الضا لين

“(yaitu) jalan orang-orang  yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. “ (QS. Al-Faatihah: 7)

Ayat ini mencangkup rukun ketiga, yakni merujuk kepada pemahaman Salafush Shalih meniti jalan yang lurus tersebut. Padahal sudah tidak diragukan bahwa siapa saja yang berpegang teguh dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah berbeda beda  kelompok manusia (yang tersebut di akhir surah Al-Fatihah) dengan ungkapan yang sangat ringkas. Nikmat yang dicurahkan kepada mereka(kelompok pertama)adalah hikmah hidayah,yakni ilmu yang bermanfaat dan amal shalih.”

Beliau berkata rahimahullah,”Setiap orang yang paling mengetehaui kebenaran dan mengikutinya, maka ia lebih berhak berada di atas Shirathal mustaqim. Tidak diragukan lagi, bahwa para Sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam semoga Allah meridhoi mereka lebih berhak menyandang sifat ini dari pada afidhah. Karena mustahil jika para Shahabat tidak mengetahui kebenaran dan kebenaran itu di ketahui oleh rafidhah, atau mereka menolaknya sedang rafidhahlah yang memegangnya.

Dan tidak diragukan lagi bahwa orang yang diberikan nikmat adalah orang-orang yang ittiba’ ( mengikuti) Beliau, sedang orang yang di murkai, orang-orang yang keluar dari ittiba’ kepada beliau. Umat yang paling ittiba’ yang paling taat kepada beliau adalah para Shahabat Beliau dan Ahli Bait Beliau. Dan Shahabt yang paling ittiba’ kepada Beliau adalah Abu Bakar dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu . sedang umat yang paling menentang Beliau adalah rafidhah, dan penentang mereka sudah dikenal oleh seluruh golongang umat ini . karena itu mereka murka terhadap Sunnah, memusuhinya, dan memusuhi orang-orang yang berpegang kepadanya. Mereka adalah musuh Sunnah Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam , Ahlul Bait Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam ,dan para pengikutnya.

Telah jelas bahwa Shiratal mustaqim adalah jalannya para Shahabat dan orang-orang yang mengikutinya. Sedangkan jalannya orang yang di murkai dan sesat adalah jalannya rafidhah . dengan jalan ini di bantahnya kaum Khawarij karena permusuhan mereka terhadap para Shahabat sudah di kenal.”

Uraian di atas merepakan penegasan dari Beliau rahimahullah bahwa generasi yang paling utama yang dikaruniai Allah beripa ilmu dan amal shalih adalah para Shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.  Hal itu karena mereka telah menyaksikan secara langsung turunya Al-Qur’an dan menyaksikan sendiri penafsiran yang shahih yang mereka pahami dara petunjuk Rasulullah yang mulia Shallallahu Alaihi Wasallam.

  1. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :

واذا قيل لهم امنوا كما امن الناس قالوا انؤمن كما امن السفهاء الا انهم هم السفهاء ولكن لا يعلمون

“ Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!’ Mereka menjawab, ‘Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?’ Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu.” ( QS.Al-Baqarah: 13)

Mengenai firman Allah Subhanahu Wata’ala “ ‘Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” ‘ Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “ yang mereka (orang munafik)- semoga Allah melaknat mereka- maksudkan disini adalah para Shahabat Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam -Semoga Allah meridhoi mereka-. Demikian menurut pendapat Abul ‘Aliyah, as- Suddi dalam tafsiranya. Dari Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud serta beberpa orang Shahabat. Hal yang sama oleh ar-Rabi’ Anas, ‘Abdurrahman binZaid bin Aslam, dan selain mereka.

Allah telah memberikan jawaban mengenai semua hal yang berkenaan dengan itu kepada mereka melalui firman-Nya,  الا انهم هم السفهاء ولكن لا يعلمون  “ingatlah,sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi merekalah yang kurang akal.” Maksudnya, diantara kelengkapan kebodohan mereka( yaitu orang-orang munafik) itu adalah mereka tidak mengetahui bahwa mereka didalam kesesatan dan kebodohan. Dan yang demikian lebih menghinakan bagi meraka dan lebih menunjukan mereka berada dalam kebutaan dan dari petunjuk.”

  1. Firman Allah Subhanahu Wata’ala :

فان ءامنوا بمثل ما ءامنتم به فقد اهتدوا وان  تولوا فانما هم  في شقاق فسيكفيكهم الله وهو السميع العليم

Maka, jika mereka telah beriman sebagaimana yang kamu imani, sunguh, mereka telah mendapat petunjuk. Tetapi jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu) . Maka, Allah mencukupkan engkau (Muhammad)  terhadap mereka (dengan pertolongan-Nya).Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. “ (QS. Al-Baqarah: 137)

Melalui ayat ini Allah menjadikan iman para Shahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam sebagai timbangan (Tolok ukur) untuk membeda antara petunjuk dan kesesatan, antara kebenaran dan kebatilan. Apabila Ahlul Kitab beriman sebagiamana berimqn para Shahabat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam ,maka sungguh, mereka mendapat hidayah(petunjuk) yang mutlak dan sempurna . jika mereka (Ahlul Kitab) berpaling(tidak beriman) sebagaimana beriman para Shahabat , maka mereka terjatuh dalam perpecahan, perselisihan dan kesesatan yang sangat jauh.

Memohon hidayah dan iman adlah sebesar-besar kewajiban, menjauhkan perselisihan dan kesesatan adalah wajib; jadi mengikuti (manhaj) Shahabat Rasul Shallallahu Alaihi Wasallam termaksud kewajiban yang paling wajib.

Maka hidayah itu tergantung kepada bagaimana kaum Muslim mengikuti para Shahabat. Bila mereka mengikuti para Shahabat dalam ilmu dan amal maka mereka akan mendapatkan hidayah yang sempurna.

Mengikuti para Shahabat dalam iman adalah sebagai wadah untuk mendapatkan petunjuk, terpelihara dalam kesesatan dan perpecahan . Dan mengikuti mereka yang dimaksud, adalah mengikuti mereka dalam ‘aqidah ,perkataan,pebuatan,dan manhaj mereka. Kita wajib mengikuti merka karena ini termaksud kategori iman bagi orang yang mengikuti manhaj salaf.Memohon petunjuk, hidayah dan iman termaksud sebesar-besar kewajiban, menjauhkan perpecahan dan kesesatan juga termaksud kewajiban, maka ayat ini menunjukan bahwa mengikuti Shahabat adalah suatu kewajiban .

Baca Juga Artikel:

Berdoa Kepada Para Wali Dan Orang-Orang Shalih

Anak Yatim Yang Terlantar

 

Referensi : buku cetakan berjudul ‘’Mulia dengan manhaj salaf’’

Penerbit: Pustaka At-Taqwa

Karangan: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Diringkas oleh: Mayang Fitria Rizki (Kelas : Imah 1 ( Non Sma ))

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.