Kenikmatan Tiada Tara

Sejatinya, seluruh manusia, bahkan seluruh makhluk, selalu mendamba dan mencari kenikmatan. Apapun akan ia kejar guna menggapainya. Dan binatang sekalian pun, tidaklah ia hidup melainkan guna mengecap kenikmatan. Hewan yang tengah merumput, ataupun tengah bersusah payah memburu mangsanya, itu semua demi menggapai kenikmatan. Meski kenikmatan mereka bersifat materiil belaka yang disesuaikan dengan kapasitas mereka sebagai hewan yang tak mempunyai akal dan pikiran.

Barometer Kenikmatan Sejati

Sedangkan untuk manusia, apakah barometer kenikmatan mereka sama dengan kenikmatan yang diuber-uber oleh hewan? Semua orang akan sepakat menjawab tidak. Meski kemudian realitanya menunjukkan banyak di antara mereka yang justru menyamai binatang, atau bahkan lebih parah dan hina dari binatang. Semua cara dan upaya bisa saja ditempuh manusia guna mencapai kenikmatan. Padahal kenikmatan yang tengah mereka cari sebenarnya bukanlah kenikmatan sejati, namun hanya sekedar kenikmatan sementara yang justru mengundang siksa nan pedih. Hati mereka terasa lengang meski bergelimang dengan timbunan harta. Hati mereka telah mati, terserang virus yang membuatnya tidak bisa hidup. Ia tidak mengenal bahwa sumber kebahagiaan dan kenikmatan adalah dari Tuhannya. Maka dari itu ia tidak mengenal siapa Robbnya. Ia tidak menyembah-Nya dengan menunaikan perintah-Nya. Justru ia terseret oleh hawa nafsunya dan kerakusannya mengecap kelezatan duniawi, meski itu mengundang murka. Ketika ia berhasil menggapai hawa nafsunya, ia tidak peduli, apakah itu membuat Robbnya menjadi ridho ataukah justru membuat-Nya murka. Itu karena hawa nafsu telah menjadi pemimpinnya; hawa nafsu telah menjadi panglimanya; kebodohan telah menjadi kemudinya; dan kelalaian telah menjadi tunggangan hidupnya.

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’rof:179)

Bahkan hewan masih bisa diatur oleh pemiliknya. Ia masih bisa menuruti apa maunya sang pemilik. Namun tidak begitu dengan manusia yang ingkar. Ia sama sekali tak peduli dengan apa yang menjadi perintah dan larangan Sang Pencipta. Padahal berbagai perangkat telah diberikan kepadanya. Diberikan kepadanya hati, yang bisa memahami berbagai perkara dunia, namun mereka tidak bisa memahami sedikitpun mengenai perihal akhirat. Mereka mempunyai mata, yang bisa melihat semua yang ada di dunia, namun tidak bisa melihat cahaya petunjuk. Mereka punya telinga, yang bisa mereka gunakan untuk mendengar apapun, selain mendengar kebenaran. Maka dari itulah Alloh menjadikan mereka seperti binatang ternak. Kemudian Dia menjadikan mereka lebih buruk daripada binatang ternak.

Kenikmatan Tiada Tara

Banyak manusia yang tak sadar, bahwa ibadah kepada Alloh dengan penuh keikhlasan, itu merupakan satu kebutuhan primer, yang tanpa itu maka hati manusia akan menjadi mati. Layaknya badan tanpa nyawa. Sehingga bisa dikatakan bahwa kebutuhan seorang hamba untuk beribadah kepada Alloh semata tanpa menyekutukan-Nya dengan apapun, yaitu dengan tidak menjadikan sekutu bagi-Nya baik dalam kecintaan, ataupun dalam hal rasa takut, atau pengharapan, bertakwakkal, juga dalam beramal, juga dalam ketundukan, itu semua lebih agung adan lebih berharga daripada butuhnya tubuh kepad ruh. Bahkan itu lebih besar dan lebih agung lagi. Karena sejatinya, hakikat dan sejatinya seorang hamba adalah ruh dan hatinya. Tak ada kebaikan baginya selain dengan mencintai dan menyembah kepada-Nya semata, dan juga dengan keridhoan dan kemuliaan yang Alloh berikan kepadanya. Maka setiap kenikmatan dan kesenangan yang didapat manusia bukan dengan mengabdikan diri kepada Alloh, maka itu tidaklah langgeng. Bahkan hakikatnya ia tidaklah mendapat nikmat dan kelezatan. Bahkan itu semua akan menyakiti dan membahayakannya bila ia mendekati hal tersebut.

Karena sesungguhnya hati itu merasa sakit dan tersiksa ketika ia mencintai selain Alloh. Dan ini semua dibangun atas dua pilar pokok:

  1. Bahwa keimanan kepada Alloh itu sendiri, juga ibadah dan kecintaan serta ikhlasnya amal hanya untuk Alloh, itu adalah nutrisi manusia, kekuatannya, kebaikannya dan pilar utamanya. Tidak seperti yang dikatakan orang, bahwa ibadah kepadanya adalah suatu beban dan hal berat, yang menyelisihi apa yang diinginkan hati dan menyelisihi kelezatannya. Namun yang benar adalah bahwa hal itu lebih agung dari hanya sekedar sebabagai beban dan memberatkan. Jadi, segala perintah dari Dzat yang dicinta merupakan kesejukan hati, bahagianya hati, kenikmatan ruh. Dengan itu semualah kesempurnaan nikmat. Kenikmatan mata si pecinta Alloh adalah dalam sholat, dzikir, puasa, membaca Al-Quran, dengan kenikmatan yang tiada tara. Dan orang yang punya bagian yang lebih besar dalam hal itu semua, maka bagian kebahagiaannya pun akan lebih besar lagi.
  2. Bahwa kesempurnaan nikmat di negeri akhirat, hanya terwujud dengan Alloh; yaitu dengan melihat-Nya, dengan keridhoaan-Nya, mendengar Kalam-Nya, dan dengan dekat dengan-Nya. Maka kenikmatan dan kelezatan di akhirat dengan mendapatkan bagian dari Sang Khaliq tersebut, lebih besar dan lebih agung dari apa yang terbayang dalam pikiran ataupun tergambar dalam khayalan. Kenikmatan yang paling dahsyat dan paling agung serta kenikmtan yang paling sempurna adalah ada pada melihat Alloh Al-Kholiq, ada pada mendengar Kalam-Nya, dan mendapatkan keridhoan-Nya. Seperti dalam hadits berikut ini:

Dari Atha’ Bin Sa’ib dari ayahnya ia berkata: Ammar Bin Yasir sholat mengimami kami dan ia melakukan sholatnya dengan ringan. Maka sebagian orang berkata kepadanya: sungguh, engkau telah memperingan sholat. Ammar pun menjawab: “Adapun ketika melakukan itu, sungguh aku telah berdoa dalam sholat tersebut dengan doa yang aku dengar dari Rosululloh n .” Maka tatkala Ammar beranjak, seseorang dari mereka mengikutinya. Ia adalah ayahku, hanya saja ia mengaburkan identitas dirinya. Iapun bertanya kepada beliau tentang doa tersebut. Kemudian ia pun datang (yaitu kembali dari tempat Ammar) dan memberitahukan kepada orang-orang. (doa tersebut adalah):

اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي اللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

“Ya Alloh! Dengan pengetahuan-Mu tentang hal-hal yang ghaib, dan dengan kekuasaan-Mu atas sekalian makhluk, hidupkanlah daku selama Engkau mengetahui bahwa hidup lebih baik bagi diriku. Dan matikanlah daku bilamana Engkau mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku. Ya Alloh, aku memohon kepada-Mu hadirnya rasa takut kepada-Mu baik di waktu sendirian maupun di waktu keramaian. Dan aku memohon kepada-Mu kalimat (ucapan) yang hak baik saat dalam keadaan ridho maupun saat tersulut amarah. Aku memohon kepada-Mu kesederhanaan baik dalam kefakiran maupun saat kaya. Aku meminta kepada-Mu kenikmatan yang tak akan pernah lenyap, dan aku meminta kepada-Mu kesejukan mata yang tak akan pernah terputus. Aku meminta kepada-Mu keridhoan setelah menerima ketentuan qadha (takdir)-Mu. Aku memohon kepada-Mu kehidupan yang sejahtera setelah kematian, dan aku meminta kepada-Mu nikmatnya menatap wajah-Mu dan merasa rindu untuk berjumpa dengan-Mu, tanpa ada bahaya ataupun menimbulkan mara bahaya, tidak pula fitnah yang menyesatkan. Ya Alloh, hiasilah kami dengan hiasan iman, dan jadikanlah kami ini pembawa cahaya petunjuk sekaligus sebagai orang yang mendapat petunjuk.”

Juga dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau bersabda: “Bila penghuni surga masuk surga, maka ada yang menyeru: wahai penghuni surga! Sesungguhnya ada satu janji dari Alloh untuk kalian yang ingin Dia langsungkan untuk kalian. Maka mereka berkata: “Apakah itu? Bukankah Alloh telah membuat wajah kami putih berseri, telah memasukkan kami ke surga, dan melindungi kami dari neraka?” Lalu Rosul melanjutkan: “Maka disingkapkanlah hijab, maka merekapun melihat kepada Alloh Subhanahu wa ta’ala. maka tak ada sesuatupun yang Alloh berikan kepada mereka yang lebih mereka cintai daripada memandang kepada-Nya.”

Inilah kenikmatan tiada tara dan tiada banding. Dan itu tak akan terwujud kecuali bagi diri yang selalu menghadirkan ketakwaan dan takutnya kepada Alloh, yang dibarengi dengan pengharapan akan rahmat dan nikmat-Nya. Semoga Alloh menganugerahkan nikmat teragung ini, nikmat melihat wajah Alloh Yang Maha Agung.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 08 Tahun 03

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*