KEISTIMEWAAN UMMUL MU’MININ ZAINAB BINTI JAHSY BIN RI’AB RADHIYALLAHU’ANHA

keistimewaan

Keistimewaan ummul mu’minin zainab binti jahsy bin ri’ab radhiyallahu’anha. Istri-istri Nabi adalah ibunda bagi kaum muslimin. Mereka memiliki keutamaan dibandingkan wanita-wanita lain karena kemulian status sebagai istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Salah satu dari istri Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang disebutkan di dalam Al-qur’an dan Al-hadits yang memiliki banyak keutamaan adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab radhiyallahu’anha. Nasabnya adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mur bin Shubrah bin Murrah bin Khobir bin Ghanam bin Daudan bin Asad bin Khuzaimah.

Sebelumnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menikahkan Zainab binti Jahsy dengan Zaid bin Haritsah. Setelah Zaid menceraikan Zainab, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menikahi Zainab pada tahun 5 Hijriyyah. Ada yang mengatakan tahun 3 Hijriyyah. Zainab wafat pada tahun 20 Hijriyyah pada masa khalifah ‘Umar. Ia adalah Istri yang lebih dulu menyusul Nabi shalallahu’alaihi wasallam sepeninggal beliau.

Ayat Al-qur’an yang Turun Berkenaan Dengan Zainab Binti Jahsy radhiyallahu’anha

Diriwayatkan dari Mujahid terkait firman Allah radhiyallahu’anha,

وما كان لمؤمن ولا مؤ منة اذا قضى الله ورسوله امرا ان يكون  لهم الخيرة من امرهم ومن يعص الله ورسوله فقد ضل ضللا مبينا

Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mu’min dan perempuan yang mu’min apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Ayat ini turun berkenaan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam meminangnya untuk beliau nikahkan dengan Zaid bin Haritsah. Zainab menanggapi, “Aku tidak akan menikah (dengan Zaid), karena aku ini wanita terhormat bagi anak-anak ‘Abdu Syams.” Allah ta’ala kemudian menurunkan ayat di atas. Beliau lalu membacanya di hadapan Zainab. Zainab akhirnya berkata, “Aku ridha.” Beliau pun menikahkan Zainab dengan Zaid bin Haritsah.[1] Diriwayatkan oleh ‘Aqil bin Khalid.

Allah ta’ala Menikahkannya Langsung dari Langit

Diriwayatkan dari Anas radiyallahhu’anhu, ia berkata, “Saat ayat ini turun berkenaan dengan Zainab radhiyallahu’anha :

..فلما قضى زيد منها وطرا زوجنكها

Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan (Zainab)” (QS. Al-Ahzab: 37)

Zainab radhiyallahu’anha membanggakan diri di hadapan istri-istri Nabi shalallahu’alaihi wasallam dengan mengatakan, ‘Kalian dinikahkan oleh ayah-ayah kalian, sedangkan aku dinikahkan oleh Allah ta’ala dari atas tujuh langit.[2]

Firman Allah ta’al  و تخفى في نفسك ما الله مبديه  “Sedang engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah” (QS. Al-Ahzab: 37) Turunnya Berkenaan dengan Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha

Dari Anas radhilallahu’anhu, bahwa saat turun firman Allah ta’ala,

و تخفى في نفسك ما الله مبديه

Sedang engkau menyembunyikan dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah” (QS. Al-Ahzab: 37)

Terkait dengan kedudukan Zainab binti Jahsy, Zaid datang mengadu (kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam). Ia bermaksud menceraikannya. Ia meminta izin kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam untuk menceraikan Zainab, lalu Nabi shalallahu’alaihi bersabda,

امسك عليك زوجك واتق الله

‘Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.’ Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia menshahihkannya.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyallahu’anha, ia berkata, “Andai Muhammad menyembunyikan sesuatu, tentu ayat inilah yang beliau sembunyikan:

و اذ تقول للذي انعم الله عليه و انعمت عليه امسك عليك زوجك

‘”Dan (ingatlah) ketika engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dan engkau (juga) telah memberikan nikmat kepadanya, ‘Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 37)[3]

Dalam riwayat at-Tarmidzi lainnya: “Andai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menyembunyikan sedikitpun dari wahyu, pastilah ayat ini yang akan beliau sembunyikan, و اذ تقول للذي انعم الله عليه  ’Dan (ingatlah) ketik engkau (Muhammad) berkata kepada orang yang telah diberi nikmat oleh Allah,’ maksudnya nikmat islam.  و انعمت عليه Dan engkau (juga) telah memberi nikmat kepadanya,‘ dengan nikmat dimerdekakan, lalu engkaupun memerdekakannya dari status budak.

امسك عليك زوجك واتق الله و تخفي في نفسك ما الله مبديه وتخشى الناس والله احق ان تخشه

Pertahankanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah,’ sedang engkau menyembunyikan di dalam hatimu apa yang akan dinyatakan oleh Allah, dan engkau takut kepada manusia, padahal Allah lebih berhak engkau takuti,

hingga firman-Nya,

وكان امرالله مفعولا’  “Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (QS. Al-Ahzab: 37)

Makna ayat di atas bahwa Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menyembunyikan  keinginan beliau untuk menikahi Zainab, lalu Allah menampakkan apa yang beliau sembunyikan itu dengan menakdirkan Zaid menceraikannya, lalu menikahkan beliau dengannya. Terkait hal ini, Allah menurunkan ayat-ayat Al-quran. Ibnu Mas’ud dan ‘Aisyah radhiyallahu’anhuma berkata, “Tidak ada satu pun ayat yang lebih berat bagi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam selain ayat ini.” Dan makna (firman-Nya), و تخشى الناس “Dan takut kepada manusia ,” yaitu takut orang-orang mengatakan, “Muhammmad menikahi menantunya sendiri.” Zainab binti Jahsy akan menjadi istrimu dan Zaid akan menceraikannya.

Dan benar saja saat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam menikahi Zainab kemudian orang-orang munafik berkata, “Muhammad menikahi menantunya sendiri.”

Allah ta’ala kemudian menurunkan (firman-Nya),

ما كان محمد ابا احد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبين

Muhammad itu bukalah bapak dari seorang di antara kalian, tetapi ia adalah utusan Allah dan penutup para Nabi,” (QS. Al-Ahzab: 40)

Dahulu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengadopsi Zaid (bin Haritsah) saat masih kecil. Ia tinggal bersama beliau hingga beranjak dewasa dan dipanggil dengan Zaid bin Muhammad. Maka Allah ta’ala menurunkan (firman-Nya):

في الدين وموليكم ادعوهم لاباءهم هو اقسط عند الله فان لم تعلموا ءاباءهم فاخونكم

Panggilah mereka (anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab: 5)

Turunnya Ayat Hijab karena Zainab

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu,ia berkata, “Saat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ﷺ menikahi Zainab binti Jahsy radhiyallahu’anha, beliau mengundang orang-orang lalu mereka pun makan. Setelah itu mereka duduk berbincang. Saat beliau bersiap untuk berdiri, mereka tidak juga berdiri. Melihat hal itu, beliau berdiri. Saat beliau berdiri, beberapa orang berdiri namun ada tiga orang yang tetap duduk. Setelah itu beliau datang untuk memasuki kediaman Zainab. Rupanya mereka masih saja duduk. Kemudian mereka berdiri dan beranjak pergi, maka aku mengabarkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa mereka telah pergi, maka beliau pun datang dan masuk (menemui Zainab). Aku kemudian masuk untuk memasang hijab antara aku dan beliau.

Allah ta’ala kemudian menurunkan ayat,

يايها الذين ءامنوا لا تدخلوا بيوت النبي

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memasuki rumah-rumah Nabi. (QS. Al-Ahzab: 53)

Zainab Menyamai ‘Aisyah binti Abi Bakr Ash-shiddiq radhiyallahu’anhum dan Pujian ‘Aisyah radhiyallahu’anha terhadapnya terkait Agama, Ketakwaan, Kejujuran, Shodaqoh dan Suka Menyambung Hubungan Kekeluargaan

Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiyalahu’anha, ia berkata, “Diantara istri-istri Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, Zainablah yang menyamai (kedudukanku di mata beliau). Tidak pernah aku melihat seseorang wanitapun yang lebih baik dalam agama, lebih bertakwa kepada Allah, lebih jujur dalam bertutur kata, lebih menyambung tali kekeluargaan, lebih besar shadaqohnya, lebih tidak memperhatikan diri sendiri dalam bekerja yang hasilnya ia shadaqahkan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah melebihi Zainab. Hanya saja ia sedikit pemarah. Jika sedang marah, ia dengan cepat meninggalkan amarah (dan tidak terus-terusan marah).”[4]

Zainab Disebut Panjang Tangan sebagai Kiasan Gemar Bershadaqah

Diriwayatkan dari ‘Aisyah rahdiyallahu’anha, ia  menuturkan, “Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

اسرعكن لحاقا بي اطولكن يدا

‘Yang paling cepat menyusulku di antara kalian adalah yang paling panjang tangannya.’

‘Aisyah radhiyallahu’anha, berkata, “Sepeninggal Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, setiap kali kami berkumpul, kami selalu memanjangkan tangan kami di dinding untuk mengetahui siapa di antara kami yang paling panjang tangannya. Kami terus melakukan itu hingga Zainab binti Jahsy wafat, padahal Zainab berpostur pendek, bukan yang paling tinggi diantara kami. Akhirnya aku tahu bahwa yang dimaksud dengan panjang tangannya oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam adalah shadaqah.

Zainab bekerja dengan tangannya dan hasilnya ia shadaqahkan di jalan Allah ta’ala.”[5] Hadits ini disebutkan dalam ash-Shafah.

Nabi Menyebut Zainab radhiyallahu’anha Wanita yang Khusyu’ dan Rendah Hati

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Syaddad bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  berkata kepada ‘Umar, “Zainab binti Jahsy awwahah.” Beliau ditanya, “Wahai Rasulullah, apa itu awwahah?” Beliau mrnjawab,”Wanita yang khusyu’ dan rendah hati (tawadu’). ان ابراهيم لحليم اوه منيب  “Sesungguhnya Ibrohim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah.” (Qs. Hud: 75) Diriwayatkan oleh Abu ‘Umar.

Kezuhudan dan Kemuliaan Zainab radhiyallahu’anha

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ar-Rabi’, dari Barzah binti Nafi’, ia menuturkan, “Saat jatah (berupa harta atau makanan) datang, ‘Umar mengirim jatah untuk Zainab. Saat utusan masuk menemui Zainab, Zainab berkata kepadanya, ‘Semoga Allah mengampuni ‘Umar, saudari-saudariku lebih kuat untuk membagi-bagikan jatah ini melebihiku.’ Para utusan berkata, ‘Ini semua untukmu.’ Zainab mengucapkan‘Subhanallah!’ Ia lantas menutupi diri dengan baju dan berkata, ‘Tuangkan itu semua dan tutupilah dengan baju.’ Para utusan kemudian menuangkan uang-uang tersebut lalu mereka menutupi dengan baju. Zainab kemudian berkata kepadaku, ‘Masukkan tanganmu, ambilah sebagian dari uang-uang itu, lalu berikan kepada keluarga fulan dan anak-anak yatim keluarga fulan serta kerabatnya.’ Aku kemudian membagi-bagikan uang tersebut dan masih ada uang tersisa.” Barzah berkata kepadanya, “Semoga Allah mengampunimu. Demi Allah, kami mempunyai hak dari uang-uang ini .” Zainab berkata, “Jatah kalian ada di balik baju itu.” Kami kemudian mengangkat baju itu dan ternyata masih ada 85 dirham. Setelah itu Zainab mengangkat kedua tangan dan mengucapkan, “Ya Allah, jangan lagi kami menjumpai pemberian ‘Umar setelah tahun ini.” Ia wafat setelah tahun itu.”[6] Diriwayatkan dalam kitab ash-Shafwah.

Penutup

Secara umum, istri-istri Nabi memiliki keistimewaan dibandingkan wanita-wanita lainnnya, bukanlah karena kecantikan mereka. Tetapi karena kedekatan mereka dengan Rasulullah dan mereka lebih memilih Allah, Rasul-Nya dan negeri akhirat.

يايها النبي قل لازوجك ان كنتن تردن الحيوة الدنيا وزينتها فتعالين امتعكن واسرحكن سراحا جميلا . وان كنتن تردن الله ورسوله والدارالاخرة فان الله اعد للمحسنت منكن اجرا عظيما

Wahai Nabi,katakanlah kepada istri-istrimu, ‘Jika kalian menginginkan kehidupan di dunia dan perhiasannya, maka kemarilah agar kuberikankepada kalian mut’ah dan aku ceraikakn kaliandengan cara yang baik. Dan jika kalian menginginkan Allah dan Rasul-Nya dan negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan pahala yang besar bagi siapa yang berbuat baik di antara kalian.” (QS. Al-Ahzab: 28-29)

Dan kita sebagai ummat Rasulullah wajib mengenal dan mencitai istri-istri beliau, serta menjadikan mereka sebagi panutan dalam mengambil ilmu, meneladani sifat , dan mencontoh amalan-amalan mereka. Wallahu’alam bishawab.

Referensi:

Sumber : Kitab As-Simthus Tsamin fi Manaqib Ummahatil Mu’minin li Muhibbuddin ath-Thabari karya Imam Ath-thabari disyarah dan ditahqiq oleh Asy-Syaikh Ahmad ‘Abdul ‘Aal ath-Thahtawi, Pustaka Griya Ilmu, 1140 H/ 2019 M

Diringkas oleh : Rika Kowasanda (pengajar ponpes Darul Qur’an Wal Hadits OKU Timur)

[1]  Tafsir Ibnu Katsir (VI/417), Ibnu Katsir menyatakan, “Hadits ini diriwayatkan ath-thabari (XXII/9).”

[2]  HR. Bukhari (no. 7420) dan at-Tirmidzi (no. 3213) dan at-Tirmidzi menshahihkannya.

[3]  Shahih Muslim (no. 288 (177)) dan at-Tirmidzi menshahihkannya.

[4]  HR. Muslim (V/628)

[5]  HR. Ibnu Sa’d dalam ath-thabaqat (VII/124).

[6]  HR. Ibnu Sa’d dalam ath-thabaqat (VII/126).

Baca juga artikel berikut:

PENJAGAAN ISLAM TERHADAP WANITA

Adab-Adab Bertamu

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.