Imam Ahmad bin Hanbal, Imam ASWJ

Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ahlis Sunnah Wal Jamaah

Kehidupan Imam Ahmad bin Hanbal

Nasab beliau adalah  Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin Auf bin Qosith bin Mazin bin Syaiban bin Dzuhl bin Tsa’labah bin ‘Ukabah bin Sho’b bin Ali bin Bakr bin Wail bin Qosith Ad-Dzuhali As-Syaibani Al-Maruzi Al-Bagdadi, dengan kunyah Abu Abdillah. Imam Ahmad bin Hanbal dilahirkan di kota Baghdad pada bulan Robi’ul Awwal tahun 164H.

Imam Ahmad mulai mendengarkan hadits ketika berusia 15 tahun. Pada tahun yang sama, dunia Islam kehilangan salah seorang ulama madzhab terkemuka, yakni Imam Malik bin Anas dan juga Imam Hammad bin Zaid -rohimahumallohu ta’ala-.

Saat menginjak usia 16 tahun, untuk pertama kalinya, Imam Ahmad mencatat hadits yang beliau pelajari dari Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrohim. Selanjutnya, pengembaraan ilmunya diawali dengan mendatangi ulama-ulama di kota kelahirannya, Baghdad, dan berlanjut ke kota-kota lainnya seperti Kufah, Bashroh, Mekah, Madinah, Yaman, Syam, Jaziroh dan lain-lain.

Diantara guru-guru beliau adalah:

  1. Imam Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrohim
  2. Imam Husyaim bin Basyir
  3. Imam Sufyan bin Uyainah Al-Hilali
  4. Imam Abu Mu’awiyah Adh-Dhorir
  5. Imam Abdulloh bin Idris
  6. Imam Ghundar
  7. Imam Ismail bin ‘Ulaiyah
  8. Imam Yazid bin Harun
  9. Imam Waki’ bin Al-Jarroh
  10. Imam Yahya bin Sa’id Al-Qoththon
  11. Imam Abdurrohman bin Mahdi
  12. Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i
  13. Imam Abdurrozzaq As-Shon’ani
  14. Imam Jarir bin Abdul Hamid
  15. Imam Abu Dawud At-Thoyalisi
  16. Imam Bisyr bin Al-Mufadhdhol
  17. Imam Mu’tamir bin Sulaiman dan yang lain
  18. Beliau juga meriwayatkan dari murid-murid dan teman-temannya, seperti Imam Qutaibah bin Sa’id, Imam Ali bin Al-Madini, Imam Abu Bakr bin Abi Syaibah, Harun bin Ma’ruf dan selain mereka. Bahkan jumlah guru beliau sebagaimana yang beliau riwayatkan dalam kitabnya Al-Musnad sekitar 285 guru.

Adapun diantara murid-murid beliau adalah:

  1. Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhori
  2. Imam Muslim bin Al-Hajjaj
  3. Imam Abu Dawud As-Sijistani
  4. Imam Sholih bin Ahmad bin Hanbal
  5. Imam Abdulloh bin Ahmad bin Hanbal
  6. Imam Hanbal bin Ishaq
  7. Imam Ali bin Al-Madini
  8. Imam Yahya bin Ma’in
  9. Imam Ahmad bin Sholih
  10. Imam Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhali
  11. Imam Abu Zur’ah
  12. Imam Abu Hatim
  13. Imam Harb bin Ismail Al-Kirmani
  14. Imam Abu Bakr Al-Atsrom
  15. Imam Ibrohim Al-Harbi
  16. Imam Abu Bakar Al-Marruzi
  17. Imam Baqi bin Makhlad dan selain mereka.
  18. Bahkan Guru-guru beliau juga meriwayatkan dari Imam Ahmad, seperti Imam Abdurrozzaq As-Shon’ani, dan Imam As-Syafi’i.

Imam Ahmad bin Hanbal menikah di usia 40 tahun. Beliau menikahi Abbasah binti Al-Fadhl. Darinya, Imam Ahmad dikarunia seorang anak bernama Sholih bin Ahmad. Sepeninggal Abbasah, Imam Ahmad menikahi Rihanah dan dikaruniai seorang anak lagi bernama Abdulloh bin Ahmad.

Setelah Rihanah meninggal, beliau membeli Husn. Dengannya, mereka dikaruniai 6 orang anak. Dua orang diantaranya, Hasan dan Husen yang terlahir kembar, meninggal saat masih kecil. Sedangkan empat orang lainnya adalah Ummu Ali Zainab, Hasan, Muhammad dan Sa’id.

Perhatian Imam Ahmad Terhadap Ilmu

Imam Ahmad bin Hanbal dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki pengatahuan yang luas. Setidaknya itulah yang diakui oleh Imam Adz-Dzahabi. Pengakuan ini bukanlah tanpa alasan. Imam Ahmad menghafal alfu alfu hadits (satu juta hadits), sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Zur’ah.

Dalam satu kesempatan, Imam Ibrohim memperhatikan Abu Abdillah (Ahmad bin Hanbal). Ia berpikir seakan-akan Allah Ta’ala telah mengumpulkan pada diri Imam Ahmad, ilmu orang-orang terdahulu dan yang terakhir, dikarenakan pengetahuan dan pemahaman Imam Ahmad yang komprehensif.

Dalam kesempatan lain, Imam Abdurrohman bin Mahdi pernah mengatakan: “Siapa yang ingin melihat diantara pundak dan lengannya At-Tsauri (Imam Sufyan At-Tsauri), maka lihatlah kepada orang ini (Ahmad bin Hanbal).”

Para ulama menyebutkan karya tulis Imam Ahmad bin Hanbal sebanyak 39 kitab, diantara karya tulis beliau yang sangat bermanfaat bagi umat islam:

  1. Kitab Al-Musnad
  2. Kitab Fadhôilush Shohâbah
  3. Kitab Ar-Roddu `alal Jahmiyyah Al-Mu’atthilah
  4. Kitab Al-‘Ilal fil Hadîts
  5. Kitab An-Nâsikh wal Mansûkh fil Qur’ân
  6. Kitab Az-Zuhd
  7. Kitab Al-Manâsik
  8. Kitab Al-Farôidh
  9. Kitab Al-Asyribah
  10. Kitab Ahkâmun Nisâ’
  11. Kitab As-Sunnah
  12. Kitab Al-Masâ’il
  13. Risâlah Ushulis Sunnah, dan lain-lain.

Ibadah & Sifat Zuhud Imam Ahmad

Sifat zuhud dan perjuangan Imam Ahmad dalam menjalani kehidupan terekam dengan baik dalam ingatan putranya, Abdullah bin Ahmad. Beliau, Imam Ahmad, banyak meluangkan waktu untuk beribadah dalam jumlah yang sangat banyak.

Imam Ahmad shalat sebanyak 300 rakaat. Ini beliau kerjakan setiap harinya di siang dan malam hari. Tatkala beliau sakit akibat cambukan yang ia dapatkan selama di penjara, beliau shalat sehari semalam sebanyak 150 rakaat.

Selepas shalat Isya, Imam Ahmad tidak tidur kecuali sebentar saja. Beliau banyak menghabiskan malamnya untuk shalat dan berdoa sampai pagi hari. Imam Ahmad juga tidak pernah meninggalkan puasa senin kamis, dan puasa yaumul baidh. Selain itu, beliau juga banyak membaca doa: “Allahumma sallim sallim” (ya Allah selamatkanlah kami, selamatkanlah kami).”

Pujian juga datang dari murid-muridnya. Imam Yahya bin Ma’in pernah berkata: “Aku tidak pernah melihat orang seperti Ahmad bin Hanbal, kami berteman selama 50 tahun dan ia tidak pernah membanggakan sedikitpun kebaikannya kepada kami.”

Murid Imam Ahmad lainnya, Imam Al-Marudzi, berkata: “Abu  Abdillah (Ahmad bin Hanbal) pernah berkata : Al-khouf (rasa takut karena Allah Ta’ala) menghalangiku untuk makan dan minum, jika aku mengingat kematian maka segala urusan dunia menjadi ringan bagiku.”

Imam Ahmad adalah pribadi yang sederhana. Kesederhanaan berbalut tekad yang kuat saat ia pergi ke Thorsus dengan berjalan kaki. Beliau juga pernah pergi haji 2 atau 3 kali dengan berjalan kaki. Baliau adalah pribadi yang paling sabar ketika sendirian, padahal kebanyakan manusia tidak.

Demikianlah sepenggal kisah imam mujtahid, amirul mu’mini fil hadits, sang  imam ahlus sunnah wal jama’ah Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal. Semoga kita dapat mengambil ibroh dari kehidupan beliau.


Sumber: Majalah Lentera Qolbu, tahun ke-4 edisi ke-8

Sumber gambar: ghurabathejourney99.wordpress.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.