IKHLAS DAN ITTIBA’ DALAM BERAMAL

Segala puji hanyalah milik Allah Azza Wa Jalla, pemilik, pengatur, penjaga seluruh alam, shalawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepada hamba dan utusanNya Muhammad sallallahu alaihi wasallam, seluruh keluarganya, dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikutinya dengan benar sampai hari qiyamat kelak.

Manusia didalam menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah, beribadah dan bermuamalah terhadap orangtuanya, anaknya, keluarganya, tetangganya, temannya yang jauh maupun dekat, masyarakat sekitarnya ini butuh akan adanya ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan Rosulullah), terlebih penting dalam hal ibadah baik ibadah mahdhoh maupun yang ghairu mahdhoh, dengan tujuan ibadah inilah Allah ciptakan jin dan manusia, Allah berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) [الذاريات : 56]

dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepadaKU” (QS. Adz-dzariayat: 56).

Allah berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (5) [البينة : 5]

tidaklah mereka diperintah kecuali hanya menyembah Allah dengan ikhlas mentaati-Nya, semata-mata menjalankan Agama, dan menlaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah Agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah:05).

Adapun dalil akan wajibnya ittiba’ (mengikuti Rosulullah sallallahu alaihi wasallam) didalam beramal adalah sebagai berikut :

Dalil dari Al-quran diantaranya: Allah berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32) [آل عمران : 31 ، 32]

katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu, Allah maha pengampun, maha penyayang (31) katakanlah (Muhammad) taatilah Allah dan Rasul, jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir”(32). (QS. Ali-imran:31-32)

Dalil dari hadits diantaranya: Rosulullah bersabda:

” وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي” ، صحيح البخاري ـ حسب ترقيم فتح الباري – (9 / 107)

Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” (HR. Al-Bukhari: 9/107 maktabah syamilah)

” لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ “. صحيح مسلم ـ وموافق للمطبوع – (4 / 79)

“Ambillah dariku manasik (ibadah-ibadah) mu” (HR. Muslim: 4/79 maktabah syamilah)

” مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهْوَ رَدٌّ”. (متفق عليه)

“barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan itu tertolak” (muttafaq’ alaih).

Para pembaca yang mudah-mudahan dirahmati oleh Allah, sepantasnya, bahkan wajib bagi kita didalam beramal shalaih untuk ikhlas dan Ittiba’ dan dua perkara ini merupakan dasar, pondasi utama dalam beramal shalih.

Jika kita lihat, teliti dari dua dasar ini, maka manusia bisa dibagi menjadi empat golongan:

  1. Orang-orang yang ikhlas karena Allah dan mengikuti Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Merekalah yang benar-benar menghayati iyyaka na’budu. Semua perkataan dan perbuatan mereka karena Allah, memberi karena Allah, menahan karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah. Mu’amalah mereka secara lahir dan batin karena mengharap Wajah Allah semata, tidak dimaksudkan untuk mencari imbalan, pujian, pengaruh, kedudukan dan simpati di hati manusia atau pun menghindari celaan manusia. Bahkan mereka mengang-gap semua manusia tak ubahnya mayat yang sudah mati, tidak bisa member manfaat dan mudharat. Perbuatan yang dimaksudkan untuk mendapatkan kedudukan, mengatur manfaat dan mudharat, sama sekali tidak mereka kenal. Maka Al-Fadhl bin Iyadh pernah berkata, “Amal yang baik ialah yang paling ikhlas dan paling benar.” Orang-orang bertanya, “Wahai Abu Ali, apa yang dimaksudkan paling ikhlas dan paling benar itu?” Dia menjawab, “Jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas, maka ia tidak diterima pula, hingga ia ikhlas dan benar. Ikhlas artinya karena Allah, Benar artinya berdasarkan As-Sunnah. Inilah yang dimaksudkan dalam firman Allah,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا (110) [الكهف : 110]

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (Al-Kahfi: 110).

  1. Orang yang tidak ikhlas dan tidak mengikuti As-Sunnah.

Amalnya tidak sejalan dengan syariat dan tidak pula ikhlas terhadap Allah yang disembah, seperti perbuatan orang-orang yang ingin pamer di hadapan manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling buruk dan paling dibenci Allah. Mereka inilah yang digambarkan dalam firman Allah,

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوْا وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (188) [آل عمران : 188]

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan, janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (Ali Imran: 188).

  1. Ikhlas dalam amalnya namun tidak mengikuti perintah dan As-Sunnah.

seperti yang dilakukan para ahli ibadah yang bodoh, mereka yang cenderung kepada zuhud dan hidup miskin, orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan cara yang tidak sesuai dengan perintah- Nya.

  1. Amalnya sesuai dengan perintah dan As-Sunnah, tetapi untuk tujuan selain Allah.

seperti orang yang berjihad karena riya’ dan memamer-kan patriotismenya, menunaikan haji agar dia dipuji atau membaca Al- Qur’an agar disanjung. Amal mereka secara zhahir sesuai dengan perintah, tetapi tidak ikhlas.

Orang-orang yang mengamalkan iyyaka na’budu secara konsisten memiliki sisi pandang yang berbeda tentang ibadah yang paling utama, paling bermanfaat, paling layak untuk diprioritaskan. Dalam hal ini mereka

ada empat pendapat:

  1. Orang-orang yang menganggap ibadah yang paling baik dan utama adalah yang paling sulit dan berat, karena ibadah semacam ini adalah yang paling jauh dari hawa nafsu. Sementara menurut mereka, pahala juga diukur dari kadar kesulitan ibadah. Mereka berpendapat kepada hadits yang sama sekali tidak ada dasarnya, “Amal yang paling utama adalah yang paling sulit atau berat.” Mereka adalah orang-orang yang memang rajin beribadah, namun bertindak semena-mena terhadap diri sendiri. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah zuhud di dunia, meminimkan andil dalam keduniaan dan tidak peduli terhadap kehidupan dunia.
  2. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah yang manfaatnya merambah secara luas. Menurut mereka, menyantuni orang-orang miskin, memenuhi kebutuhan orang banyak, membantu mereka dengan tenaga dan harta adalah ibadah yang paling utama. Mereka beralasan bahwa amal ahli ibadah hanya bagi dirinya sendiri, sedangkan amal orang yang bisa memberi manfaat kepada orang lain bias dirasakan orang banyak, karena itu kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah seperti kelebihan rembulan atas seluruh bintang-gemin-tang. Mereka juga berhuj jah dengan hadits-hadits tentang pahala yang diberikan kepada pelaku kebaikan dan dia juga mendapatkan pahala orang-orang yang mengikuti kebaikan yang dilakukannya itu.
  3. Orang-orang yang menganggap ibadah paling utama adalah amal yang dilakukan untuk mendapatkan ridha Allah, sesuai dengan timingnya dan tugas yang memang harus dilaksanakannya. Ibadah yang paling utama pada waktu jihad adalah berjihad, sekalipun harus meninggal-kan shalat malam dan puasa, bahkan sekalipun dia harus meninggal-kan shalat fardhu karena kondisi perang. Ibadah yang paling utama sewaktu ada tamu yang datang ialah memenuhi hak-hak tamu. Ibadah yang paling utama pada waktu sahur adalah mengerjakan shalat, mem-baca Al-Qur’an, berdoa dan berdzikir. Begitu pula setiap ibadah yang disesuaikan dengan situasi dan kondisinya, maka itulah ibadah yang paling utama.
  4. Golongan yang keempat ini adalah ahli ibadah yang tak mengenal batasan, sedangkan tiga golongan lain sebelumnya adalah ahli ibadah yang terbatas. Jika salah seorang di antara tiga golongan ini keluar dari jenis ibadah yang menjadi andalannya, maka dia menganggap ada yang kurang dalam ibadahnya itu atau dia telah meninggalkan ibadahnya sama sekali, karena dia beribadah kepada Allah dengan satu pola. Sementara orang yang ibadahnya tidak mengenal batasan, tidak mementingkan satu ibadah daripada yang lain. Tujuan yang diraihnya adalah keridhaan Allah, di mana dan kapan pun dia berada. Dia selalu berpindah-pindah di berbagai tempat ibadah. Jika engkau melihat para ulama, maka dia tampak bersama mereka. Jika engkau melihat para ahli ibadah, dia tampak bersama mereka. Jika engkau melihat para mujahidin, dia tampak terlihat bersama mereka. Jika engkau melihat orang-orang yang mengeluarkan shadaqah, dia tampak bersama mereka. Inilah hamba yang tidak terikat dan tidak memiliki gambar tertentu. Dialah orang yang mewujudkan makna iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in secara konsekuen.

Mudah-mudahan kita dijadikan oleh Allah orang yang benar-benar ikhlas dan ittiba’ didalam beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.

Sumber artikel:

  • Al-Quran Al-karim
  • Kitab madarijus shalikin
  • Kitab tauhid jili 3 syaikh shalih bin fauzan Al-fauzan
  • shahih bukhari maktabah syamilah
  • shahih muslim maktabah syamilah

Di tulis oleh : Ali Zufri, Pengajar Ponpes DQH

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.