Harta Memang Begitu Berharga

Bagi sebagian kalangan, ada yang mempunyai persepsi yang kurang tepat kala memandang harta dan dunia. Mereka memandang harta dengan pandangan sebelah mata. Yang tampak dari harta hanya sisi-sisi negatifnya saja. Seolah harta dan kerusakan bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Bila ada harta, maka kerusakan dan dosalah yang pasti akan mengiringinya. Mungkin saja persepsi ini timbul karena realita yang ada di tengah masyarakat menunjukkan betapa harta seringkali menjerumuskan seseorang ke dalam kubangan dosa dan kejahatan.

Padahal bila dilihat dari sudut harta itu sendiri, kita dapatkan bahwa harta adalah suatu kebaikan dan nikmat dari Alloh; yang bisa digunakan untuk berbagai kemaslahatan umat manusia. Karena itulah Alloh berfirman:

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Alloh sebagai pokok kehidupan.” (QS. An-Nisa: 5)

Di sini kita akan menilik harta dari sudut pandang yang insya Alloh bisa mencerahkan persepsi kita. Uraian ini dirangkum dari beberapa rujukan, dengan beberapa penyesuaian dan perubahan.

Harta Dalam Perspektif Islam

Kala mencermati syariat Islam akan didapati bahwa harta yang baik merupakan tonggak keberlangsungan kehidupan ini. Islam juga mendorong umatnya untuk berkarya guna mendapatkan harta, mengaturnya dan mengembangkannya dengan sedemikian rupa. Bahkan nabi dan rosul, semua dari mereka mengajarkan prinsip tauhid dalam ajaran mereka, dan membawa prinsip menjaga harta, jiwa, akal dan kehormatan.

Dan satu hal yang pasti bahwa harta adalah penghias dari kehidupan dunia ini. Harta adalah sesuatu yang dicari dan dicinta. Dan Islam tidak melarang umatnya untuk mencarinya dengan cara yang baik dan halal. Bahkan Islam memotivasi umatnya untuk berkarya mengupayakan harta, dan mengatur penggunaannya dengan baik. Dengan harapan agar segala hak bisa terpenuhi, segala kewajiban bisa ditunaikan, dan harga diri pun bisa terjaga.

Sebenarnya harta adalah hanya sekedar perantara, bukan tujuan. Harta bagaikan senjata. Bila senjata ini berada di tangan seorang kriminal, maka senjata ini akan dipakai untuk membunuh orang-orang yang tak berdosa. Namun bila senjata ini dipegang oleh seorang mujahid, maka harta ini akan ia gunakan untuk membela kebenaran. Alloh sendiri berfirman, dan menjelaskan bagaimana harta bisa membawa kebaikan atau keburukan:

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَن بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسّرُهُ لِلْعُسْرَى وَمَا يُغْنِى عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Alloh) dan bertakwa; dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.(QS. Al-Lail: 5 – 11)

Sungguh bahagia kala seorang muslim dapat membuat diri dan keluarganya bisa menjaga kehormatannya. Ia mengerahkan tenaga dan pikirannya, untuk mendapatkan hembusan rahmat dan karunia dari-Nya, sehingga ia tak lagi membutuhkan belas kasih orang. Ia hanya menunggu belas kasih dari Tuhannya.

Rosululloh bersabda:

إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ بِهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ

Sungguh, kalau engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya berkecukupan, itu lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka melarat meminta-minta pada orang-orang. Dan sungguh, tidaklah engkau menafkahkan suatu harta di mana dengan nafkah tersebut engkau mengharap wajah Alloh, melainkan engkau akan diberi pahala dengannya, hinggapun suapan yang engkau berikan pada mulut istrimu.” (Muttafaq alaih).

Lihatlah bagaimana peran harta dalam menjaga wibawa dan harga diri seseorang. Bahkan tidak hanya berhenti pada masa hidup seseorang, namun berlanjut pada terjaganya kehormatan anak keturunannya sepeninggal dia. Agar mereka tidak terkatung-katung menjadi beban orang-orang sekitarnya. Agar mereka tidak terjatuh pada kondisi meminta-minta. Dan itu semua bila diniatkan untuk menggapai ridha dari-Nya, maka itu semua akan mendatangkan pahala, sampai pun pada hal-hal yang mungkin dianggap sepele.

Namun bila seseorang salah memaknai harta, maka itulah yang akan menjeratnya menuju celaka. Banyak ayat dan hadits yang mengingatkan akan hal ini. Karena itulah harta menjadi batu ujian bagi umat manusia, dan ternyata banyak yang terjerat olehnya. Alloh berfirman:

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Alloh-lah pahala yang besar.” (QS.Al-Anfal: 28)

Meluruskan Pemahaman

Mengingat peran harta yang bagaikan pisau bermata dua, dan lebih banyak orang yang terbuai dengan kemilaunya sehingga ia berkubang dalam samudra dosa, maka timbul pemahaman yang salah dari sebagian kelompok orang dalam menilai harta.

Iblis telah mengacaukan pemahaman para ahli sufi terdahulu; disebabkan karena ketulusan mereka dalam zuhud. Iblis memperlihatkan kepada mereka betapa tercelanya harta. Ia menakut-nakuti mereka betapa buruk dan jahatnya harta. Karena itulah mereka berlepas diri dari harta, dan berkubang dalam hamparan kefakiran. Maksud tujuan mereka memang baik, namun perbuatan mereka salah, dikarenakan sedikitnya ilmu mereka. (Al-Muntaqô An-Nafîs Min Talbîsi Iblîs hal 229).

Dan persepsi ini juga masih diyakini oleh sebagian orang. Bahkan sampai ada orang yang bila ia mempunyai harta, dengan tanpa merasa dosa ia akan menghambur-hamburkan hartanya dengan sia-sia.

Padahal dalam beberapa ayat dan hadits akan kita temukan keterangan yang menunjukkan mulianya kedudukan harta, dan perintah untuk menjaganya. Salah satunya dalam riwayat Amr Bin Ash. Ia berkata: “Nabi n mengutus (seseorang) kepadaku, lalu beliau memerintahkanku agar aku membawa pakaian dan senjataku, lalu agar aku mendatangi beliau. Akupun melakukannya, lalu aku mendatangi beliau. Kala itu beliau tengah berwudhu. Lalu beliau memandangku dengan seksama (memandang dari atas sampai bawah), kemudian beliau menunduk. Lalu beliau bersabda: “Wahai Amr, sungguh aku ingin mengutusmu memimpin sebuah pasukan, hingga Alloh memberikan ghanimah (harta rampasan perang) untukmu; dan aku berikan kepadamu satu bagian pemberian dari harta.” Aku berkata: “Sungguh, aku tidaklah masuk Islam karena menginginkan harta. Aku masuk Islam hanyalah menginginkan (kemuliaan) Islam, sehingga akupun bisa bersama Rosululloh n .” Maka Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Wahai Amr!

نِعْمَ المَالُ الصَّالِحُ للمَرءِ الصَالِحِ

Sebaik-baik harta yang baik adalah untuk seseorang yang sholih.” (HR. Ahmad, Bukhori dalam Al-Adabul Mufrod).

Begitu pula dalam doa Rosul Shalallahu ‘alaihi wassalam untuk Anas Bin Malik, beliau berdoa untuknya: “Ya Alloh, perbanyaklah harta dan anaknya. Dan berikanlah berkah untuknya!”

Memang tidak dipungkiri bahwa harta patut diwaspadai. Karena itulah banyak pula orang yang manjauhinya karena khawatir akan fitnahnya. Takut kalau-kalau hatinya menjadi tersibukkan, sehingga lupa akan perkara akhirat.

Adapun mencari harta, bila memang seseorang mencukupkan diri untuk mengupayakan mendapatkan sesuatu guna menutup kebutuhannya dengan cara yang halal, maka itu adalah satu keharusan. Sedangkan orang yang menyengaja mengumpulkan dan memperbanyak harta dari jalan yang halal, maka perlu dilihat maksudnya. Bila ia berniat untuk berbangga-bangga, maka betapa jeleknya tujuan ini. Namun bila maksudnya adalah untuk menjaga kehormatan diri dan keluarganya, dan ia menyimpannya untuk menghadapi berbagai kesulitan dunia, ia bermaksud memberi kelapangan pada saudara-saudaranya, ingin memberi kecukupan pada kaum fakir miskin, dan ingin melakukan berbagai kemaslahatan; maka ia akan diberi pahala atas niatnya.

Banyak pula para sahabat yang mengumpulkan harta dengan niat yang baik; karena tujuan mereka memang baik. Juga bahwa Nabi Ayyub, kala diberi kesembuhan, bertebar di sekitarnya segerombolan belalang dari emas. Iapun mengambilnya dan menciduknya ke pakaiannya. Beliau ingin mendapatkan yang banyak. Lalu dikatakan kepadanya: “Tidakkah engkau kenyang?” Ia menjawab: “Wahai Tuhanku, siapakah orang yang kenyang dengan anugrah dari-Mu?!” (Dalam riwayat Imam Bukhori: Robbnya memanggilnya: ‘Wahai Ayyub, bukankah Aku telah mencukupimu dari apa yang engkau lihat ini?’ Ayyub menjawab: ‘Benar Wahai Robbku! Akan tetapi aku tidak bisa merasa cukup dari berkah-Mu’).

Tentunya ini adalah perkara yang sudah terpatri dalam tabiat manusia. Maka bila maksud tujuannya adalah untuk kebaikan, maka itu adalah semata-mata kebaikan. (Al-Muntaqô An-Nafîs Min Talbîsi Iblîs hal 234)

Dan dari hadits Nabi Ayyub di atas mengandung makna bolehnya memiliki keinginan kuat untuk memperbanyak harta yang halal. Namun ini hanya bagi orang yang yakin dirinya bisa mensyukurinya.

Memang masih terlalu banyak yang harus kita gali mengenai masalah ini. Namun semoga bisa sedikit memotivasi umat dalam membangun kejayaan Islam. Dan kiranya kita bisa mengambil faidah dari harta yang ada. Sehingga kaum muslimin pun bisa mengoptimalkan pembangunan umat ini, baik berkenaan dengan dimensi dunia maupun dalam segi agama dan akhirat.

(Diadaptasi dari khutbah Syaikh Saud Bin Ibrahim Asy-Syuraim, Al-Muntaqô An-Nafîs Min Talbîsi Iblîs dan lainnya)

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 04 Tahun 02

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*