Hal-Hal yang Disunnahkan Seseorang Untuk Berwudhu

Penulis : Ustadz Lilik Ibadurrohman, S.Ud

  1. Ketika hendak berdzikir Kepada Allah

 عن المهاجر بن قنفذ رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أني كرهت أن أذكر الله إلا طهر -أو قال على طهارة- ” (صحيح، أخرجه أحمد في مسنده (31/381)، وصححه الشيخ الأرناؤوط والألباني (التخريج المشكاة (1/145)).

Artinya:

Dari Muhajir bin Qunfud Radhiyallahu Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Sesungguhnya aku tidak suka menyebut Nama Allah Ta’ala kecuali dalam keadaan suci (/telah berwudhu).” (Shahih, HR Abu Dawud (1/5 no. 17), Ahmad (31/381), Al-Hakim (1/272), di nilai shahih oleh Imam Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al-Arna’ut, dan Al-Albani).

Namun Dalam kondisi Tidak Berwudhu Juga di bolehkan Untuk berdzikir

Karena Nabi biasa berdzikir setiap waktu/ setiap saat. Tentu hal ini dikala Suci (berwudhu) maupun tidak.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كَانَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ» (أخرجه مسلم في “صحيحه” (1/282) وابن ماجة في “سننه” (302) صحيح).

Artinya:

Dari A’isyah Radhiyallahu Anha berkata:  “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdzikir kepada Allah dalam setiap waktu / keadaan. (Shahih, HR Muslim dalam Kitab Shahihnya (1/282), Ibnu Majah (302))

  1. Ketika hendak berdoa kepada Allah

Diriwayatkan oleh Abu Musa bahwa dia pernah mengabarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa Abu Amir pernah berkata kepadanya sebelum meninggal, “Sampaikan salamku kepada Nabi dan mohonlah kepada beliau untuk memintakan ampun untukku.” Tatkala Abu Musa menemui Rasulullah dan menyampaikan hal tersebut. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta air untuk berwudhu’ setelah berwudhu’ beliau mengangkat kedua tangannya sambil berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعُبَيْدٍ أَبِي عَامِرٍ حَتَّى رَأَيْتُ بَيَاضَ إِبْطَيْهِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ أَوْ مِنْ النَّاسِ.

“Ya Allah, ampunilah Ubaid Abu Amir! Saya (Abu Musa) melihat putih ketiak Rasulullah ketika mengangkat tangannya. Selanjutnya beliau berdoa lagi:‘Ya Allah, tempatkanlah Abu Amir, pada hari kiamat kelak, di atas kebanyakan makhluk-Mu (di Surga)!

فَقُلْتُ: وَلِي يَا رَسُولَ اللَّهِ فَاسْتَغْفِرْ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ ذَنْبَهُ وَأَدْخِلْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُدْخَلًا كَرِيمًا

Lalu Aku (Abu Musa) berkata kepada Rasuluhlah; ‘Ya Rasulullah, mohonkanlah ampunan untuk saya juga! Lalu Rasulullah berdoa: ‘Ya Allah, ampunilah dosa Abdullah bin Qais (nama asli Abu Musa) dan masukkanlah ia ke tempat yang mulia pada hari kiamat ! (Yaitu di Surga).

[Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al_Bukhari yang disyarah dalam kitab Fathul Bari (VIII/41) dan Imam Muslim (IV/1944). Kisah di atas terdapat dalam riwayat Muslim]

  1. Wudhu Karena Ingin Menyentuh Al-Qur’an

Dalam hadits disebutkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ: “لا يمس القرآن إلا طاهر”. (صحيح بشواهده، رواه الطبراني في المعجم الصغير (2/277) صححه أحمد وإسحاق بن راهويه كما ذكر الشيخ الألباني في “إرواء الغليل” (1/161) وصححه الهيثمي في المجمع (1/276) وصححه الحاكم وابن حبان والألباني في صحيح الجامع (7780).

Artinya:

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhuma berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam kondisi telah bersuci (berwudhu).” (Shahih dengan Syawahidnya, HR Thabrani dalam Mu’jam As-Shoghir (2/277)), di nilai Shahih oleh imam Ahmad dan Ishaq bin Rohuyah, sebagaimana di sebutkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Irwa’ul Gholil (1/161), di nilai shahih oleh : Imam Al-Haitsami dalam Majma’ Zawa’id (1/276), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (1/552), Ibnu Hibban dalam Shohihnya (14/504) dan Syeikh Al-Albani dalam Shohihul Jami’ (7780)).

Praktek Salman Al-Farisi:

عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ: كُنَّا مَعَ سَلْمَانَ الْفَارِسِيٍّ فِي سَفَرٍ فَقَضَى حَاجَتَهُ، فَقُلْنَا لَهُ: تَوَضَّأْ حَتَّى نَسْأَلَكَ عَنْ آيَةٍ مِنَ الْقُرْآنِ !! ، فَقَالَ سلمان: «سَلُونِي إِنِّي لَسْتُ أَمَسُّهُ (وفي رواية الدارقطني: إنَّما يمسُه المطهرون)، فَقَرَأَ عَلَيْنَا مَا أَرَدْنَا، وَلَمْ يَكُنْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُ مَاءٌ» . (أخرجه الحاكم في المستدرك واللفظ له (1/292) والدارقطني (1/223)، وصححه الحاكم والدارقطني وقال: كلهم ثقات).

Artinya:

Dari Al-Qomah Rahimahullah berkata: Kami pernah bersama Salman Al-Farisi dalam sebuah perjalanan Safar, lalu salman buang air besar, setelah selesai lalu kami berkata kepada beliau: Berwudhulah !! sehingga saya bisa bertanya kepada anda tentang ayat Al-Qur’an. Lalu Salman menjawab: Bertanyalah kepadaku, Sesungguhnya saya tidak menyentuh Al-Qur’an, (Dalam riwayat lain: Sesungguhnya yang menyentuhnya adalah orang-orang yang suci). Lalu Salman membacakan kepada kami –ayat-ayat yang kami inginkan. (Shahih, HR Al-Hakim (1/292), di nilai oleh Imam Al-Hakim dan Daruqutni)

Praktek Abdullah bin Umar:

ما رواه ابن بطال في “الإبانة الكبرى” بإسناد صحيح : حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّفَّارِ، قَالَ: حَدَّثَنَا سَعْدَانُ بْنُ نَصْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّهُ كَانَ لَا يَأْخُذُ الْمُصْحَفَ إِلَّا طَاهِرًا. (وفي رواية ابْن الْمُنْذر: أَن ابن عمر كَانَ لَا يمس الْمُصحف إِلَّا متوضئاً). (الدر المنثور للسيوطي (8/27)) (الإبانة الكبرى لابن بطال (5/277)).

Artinya:

Dari Nafi’ Rahimahullah berkata: Dari Ibnu Umar, bahwasanya Ibnu Umar tidak menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan suci. (Dalam riwayat lain: bahwasanya Ibnu Umar tidak menyentuh mushaf kecuali dalam keadaan telah berwudhu) (Shahih, HR Ibnu Bath-thah dalam Ibanatul Kubro (5/277), Suyuti dalam Durul Mantsur (7/27)).

  1. Ketika Hendak Tidur Malam

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Barra’ bin Azib radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلَاةِ، ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الْأَيْمَنِ

Artinya:

“Bila kamu hendak tidur berwudhulah sebagaimana kamu berwudhu‟ untuk shalat. Kemudian berbaringlah dengan bertumpuh pada tubuh bagian kanan.” [Shahih, HR. Bukhari (XI/113) dan Muslim (IV/2081)]

  1. Setiap Kali Berhadats Kecil

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Dari Buraidah radhiyallahu anhu, dia berkata,

أَصْبَحَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِلَالًا فَقَالَ: «يَا بِلَالُ بِمَ سَبَقْتَنِي إِلَى الْجَنَّةِ، مَا دَخَلْتُ الْجَنَّةَ قَطُّ إِلَّا سَمِعْتُ خَشْخَشَتَكَ أَمَامِي أَنِّي دَخَلْتُ الْبَارِحَةَ الْجَنَّةَ

“Pada suatu hari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memanggil Bilal, lalu berkata padanya, “Hai Bilal, dengan amal apa kamu bisa berjalan mendahuluiku di surga? Tadi malam di surga aku mendengar suara terompahmu di depanku.”

 

قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا أَحْدَثْتُ إِلَّا تَوَضَّأْتُ، وَلَا تَوَضَّأْتُ إِلَّا رَأَيْتُ أَنَّ لِلَّهِ تَعَالَى عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ فَأُصَلِّيهِمَا “

 Bila menjawab,: “Setiap kali sehabis menguman-dangkan adzan saya shalat dua raka‟at (shalat sunnah rawatib), dan setiap kali berhadats saya berwudhu dan setelah berwudhu, saya mengerjakan shalat sunnah dua rakaat.”

[Shahih, HR. Timidzi hadits no. 3954 dan Ahmad (V/360). Di shahihkan oleh imam Al-Arna’ut, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Al-Albani, dll. (Shahih At-Taghrib wa At-Tarhib (I/87) hadits no. 196).

Dari hadits diatas menunjukkan di sunnahkannya Wudhu setiap kali berhadats, lalu shalat 2 Raka’at setelah wudhu.

  1. Setiap kali hendak shalat Wajib 5 waktu, (Walaupun belum batal wudhunya)

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالْوُضُوءِ عِنْدَ كُلِّ صَلَاةٍ، وَمَعَ كُلِّ وُضُوءٍ سِوَاكٌ،

Artinya:

“Kalau sekiranya tidak memberatkan umatku biscaya aku perintahkan mereka untuk berwudhu’ setiap kali hendak shalat dan aku perintahkan bersiwak setiap kali hendak berwudhu‟. [Hasan, HR. Ahmad. Di hasankan oleh imam Al-Mundziri, Al-Albani, Al-Arna‟ut, dll. (Shahih At-Taghrib wa At-Tarhib (I/86) hadits no. 95]

  1. Sehabis membawa/memikul jenazah

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَنْ غَسَّلَ مَيِّتًا فَلْيَغْتَسِلْ، وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ»

Artinya:

“Barangsiapa selesai memandikan mayat hendaklah mandi dan barangsiapa selesai membawa/memikul jenazah hendaklah berwudhu‟.”

[Shahih, HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ahmad dan lainnya. (Irwa ul-Ghalil (I/173) hadits no. 144 dan kitab Tamam Al-Minnah hal. 112)]

Hadits diatas tentang perintang mandi tidaklah menunjukkan wajib, karena adanya hadits berikut ini:

«لَيْسَ عَلَيْكُمْ فِي غَسْلِ مَيِّتِكُمْ غُسْلٌ إِذَا غَسَّلْتُمُوهُ، فَإِنَّ مَيِّتَكُمْ لَيْسَ بِنَجَسٍ فَحَسْبُكُمْ أَنْ تَغْسِلُوا أَيْدِيَكُمْ»

Artinya:

Tidaklah di wajibkan mandi atas kalian -ketika kalian selesai memandikan jenazah, karena sesungguhnya jenazah kalian tidak najis, maka cukuplah bagi kalian untuk cuci tangan.”

(Hasan, HR. Al-Hakim (1/543) dan Ibnu Hibban (3/437), di shahihkan oleh Al-Hakim, Adz-Dzahabi, Ibnu Hibban, dan di nilai hasan oleh Ibnu Hajar dalam At-Talkhishul Kabir (1/372)).

Dari hadits diatas bisa disimpulkan, Jika Perintah Mandi hukumnya sunnah, tentu Perintah Wudhu juga hukumnya Sunnah.

 

  1. Sehabis muntah

Dari Ma‟dan Rahimahullah, berkata: Sesungguhnya Abu Darda’ pernah mengabarkan bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah Muntah, lalu beliau berbuka (dari puasanya), Kata Ma‟dan: Setelah itu aku menemui Tsauban Radhiyallahu Anhu di Masjid Dimasyqi, lalu aku berkata: Sesungguhnya ia Pernah menyampaikan hadits yang berbunyi :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَاءَ فَأَفْطَرَ (وفي رواية: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي غَيْرِ رَمَضَانَ فَأَصَابَهُ أَحْسِبُهُ قَيْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَفْطَرَ) قَالَ مَعْدَانُ فَلَقِيت ثَوْبَانَ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَقُلْت لَهُ إنَّ أَبَا الدَّرْدَاءِ أَخْبَرَنِي فَذَكَرَهُ فَقَالَ صَدَقَ أَنَا صَبَبْت عَلَيْهِ وَضُوءَهُ.

Artinya:

Sesungguhnya Abu Darda‟ pernah mengabarkan bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah Muntah, lalu beliau membatalkannya (dalam riwayat lain: Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berpuasa di luar ramadhan (artinya puasa sunnah), lalu beliau terdorong untuk muntah padahal beliau sedang berpuasa, lalu beliau membatalkannya). Lalu Tsauban menjawab: Itu Benar, saya juga yang menuangkan air wudhu untuk Rasulullah (karena beliau Muntah).“ (Shahih, HR Ahmad, di shahihkan oleh Imam Al-Arna’ut, Al-Albani, dll). (Irwa Al-Ghalil (I/147) hadits no. 111)

 

  1. Setelah makan Makanan Yang di Matangkan oleh Api

Terkecuali Memakan Daging Onta, Maka Wajib Berwudhu. (Sehingga Memakan Daging Onta Membatalkan Wudhu).

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ؟ قَالَ: “إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ، وَإِنْ شِئْتَ فَلَا تَتَوَضَّأْ”. قَالَ: أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ؟ قَالَ: “نَعَمْ تَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الْإِبِلِ”.

Artinya:

Dari Jabir bin Samuroh Radhiyallahu Anhu : Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi: Wahai Rasulullah, apakah saya berwudhu karena memakan daging kambing?, lalu Nabi bersabda: “Jika anda mau (berwudhu), maka berwudhulah. Jika anda mau (meninggalkan wudhu), maka anda tidak perlu berwudhu. Lalu orang tadi bertanya lagi: apakah saya berwudhu karena memakan daging Onta?, maka Nabi bersabda: Ya, Berwudhulah karena makan daging Onta !!.” (HR Ibnu Hibban (3/431), Al-Baghowi (1/349), di nilai shahih oleh Imam Ibnu Hibban, Al-Arna’ut, Al-Albani, dll).

Berdasarkan hadits shahih dari A’isyah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

«تَوَضَّئُوا، مِمَّا مَسَّتِ النَّارُ» ولفظ ابن ماجة: «تَوَضَّئُوا مِمَّا غَيَّرَتِ النَّارُ»

Artinya:

“Berwudhulah kalian sehabis memakan makanan yang tersentuh oleh api. [Dalam riwayat lain: Yang di rubah (di matangkan) oleh Api.”] [Shahih, HR. Muslim (I/272) dan Ibnu Majah (485)]

 

Perintah dalam hadits di atas hukumnya sunnah karena Nabi Juga pernah Makan Yang di sentuh oleh Api, akan tetapi beliau tidak berwudhu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ، «رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ مِنْ ثَوْرِ أَقِطٍ، ثُمَّ رَآهُ أَكَلَ كَتِفَ شَاةٍ، ثُمَّ صَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ» (أخرجه ابن خزيمة (1/27)) قال المحقق “صحيح ابن خزيمة” المصطفى الأعظمي: إسناده صحيح)

Artinya:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia pernah melihat Nabi shallallahu „alaihi wa sallam berwudhu ketika makan masakan Keju (AQith), dan beliau juga makan daging kambing kemudian langsung shalat tanpa berwudhu. [HR. Ibnu.Khuzaimah.(1/27).dalam.

.Shahihnya,.DR.Musthofa.Al-A’dzomi.berkata:.Sanadnya.Shahih]

 

10 Hendak makan dalam keadaan junub

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu anha, dia berkata,

«كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ جُنُبًا، فَأَرَادَ أَنْ يَأْكُلَ أَوْ يَنَامَ، تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ»

Artinya:

“Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bila dalam keadaan junub, lalu ingin makan atau tidur, beliau berwudhu‟ sebagaimana wudhu‟ ketika hendak shalat.” [HR. Muslim (I/248) hadits no. 305]

 

  1. Ketika hendak mengulang persetubuhan

Berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Sa‟id radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهُ، ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَعُودَ، فَلْيَتَوَضَّأْ»

Artinya:

“Apabila salah seorang dari kalian bersetubuh dengan istrinya, lalu hendak mengulang lagi, maka hendaklah berwudhu‟ terlebih dahulu.” [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim (I/249) hadits no. 308]

Namun Rasulullah kadangkala mengulang persetubuhan pada istri-istrinya, tapi tidak berwudu di setiap pengulangannya, dan beliau mandi setelah persetubuhan selesai. Dalam hadits disebutkan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «كَانَ يَطُوفُ عَلَى نِسَائِهِ فِي غُسْلٍ وَاحِدٍ»

Artinya:

Bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah menggilir istri-istrinya dengan satu kali mandi. [Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Anas radhiyallahu anhu (I/249) hadits no. 309]

 

  1. Ketika ingin tidur dalam keadaan junub

Berdasarkan hadits Shahih yang diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu „anha berkata”

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَنَامَ، وَهُوَ جُنُبٌ، تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلَاةِ، قَبْلَ أَنْ يَنَامَ»

Artinya:

“ Apabila Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam ingin tidur sedangkan beliau dalam keadaan junub, maka beliau berwudhu’ terlebih dahulu sebelum tidur seperti wudhu waktu shalat.” (Shahih, HR Muslim (1/248)).

 

Dalam hadits yang lain:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ عُمَرَ اسْتَفْتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلْ يَنَامُ أَحَدُنَا وَهُوَ جُنُبٌ؟ قَالَ: «نَعَمْ، لِيَتَوَضَّأْ ثُمَّ لِيَنَمْ، حَتَّى يَغْتَسِلَ إِذَا شَاءَ»

Artinya:

Dari Ibnu Umar bahwa Umar radhiyallahu anhuma pernah meminta fatwa kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia bertanya, “Bolehkah salah seorang kami tidur dalam keadaan junub?” Beliau menjawab, “Hendaklah dia berwudhu, baru setelah itu tidur‟ atau kalau mau sekalian mandi ( janabah), kemudian tidur.” [HR. Bukhari dan Muslim]

 

  1. Wudhu Karena Menyentuh Kemaluan

عَنْ بسرة بنت صفوان رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ، فَلْيَتَوَضَّأْ، (وفي رواية أحمد زاد: وَأَيُّمَا امْرَأَةٍ مَسَّتْ فَرْجَهَا فَلْتَتَوَضَّأْ» (أخرجه أبو داود (181)، وأحمد (11/648) وصححه الشيخ الألباني).

Artinya:

Dari Busroh binti Sofwan Radhiyallahu Anhuma berkata: Rasulullah pernah bersabda kepadaku: “Barangsiapa menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudlu” (Shahih, HR Abu Dawud (181), Ahmad (11/648), di nilai shahih oleh imam Ibnu Hibban, Syeikh Al-Arna’ut, Al-Albani).

Hadits diatas Termasuk Perintah Wudhu Yang Bersifat Sunnah, Karena menyentuh kemaluan tidak membatalkan Wudhu, Sebagaimana dalam hadits dibawah ini:

عن قَيْسُ بْنُ طَلْقٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي (يعني: طلق بن على بن المنذر الحنفى اليمامى) رضي الله عنه : أَنَّ رَجُلًا جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَيَتَوَضَّأُ أَحَدُنَا إِذَا مَسَّ ذَكَرَهُ؟ قَالَ: «هَلْ هُوَ إِلَّا بَضْعَةٌ مِنْكَ – أَوْ مِنْ جَسَدِكَ -؟» (أخرجه أحمد (39/460) وغيره) صحيح

Artinya:

Dari Qais bin Thalq dari bapaknya berkata; Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam, Apabila salah di antara kita memegang kemaluannya haruskah dia berwudlu? beliau bersabda: “Sesungguhnya itu (kemaluan, pent) adalah bagian darimu atau bagian dari tubuhmu.” (Shahih, HR Nasa’i (165), Ahmad (39/460), At-Thohawi dalam Ma’ani Al-Atsar (1/76), dll. Di nilai shahih oleh Imam Thohawi, Ibnu Hibban dan Syeikh Al-Albani).

——————————————————————

وكتب الإمام ابن خزيمة- في “صحيحه” 1/22: باب استحباب الوضوء من مس الذكر، وذكر حديث بسرة بنت صفوان على الندب لوجود الصارف عن الوجوب في حديث طلق بن علي، ثم أسند عن الإمام مالك قوله: أرى الوضوء من مس الذكر استحبابا ولا أوجبه. ثم أسند عن الإمام أحمد بن حنبل قوله في الوضوء من مس الذكر: أستحبه ولا أوجبه. (وانظر “نصب الراية” 1/54-70، و”الاعتبار” للحازمي ص 39-46)

 

Imam Ibnu Khuzaimah menulis dalam kitab “Shahihnya” beliau Membuat Judul : “Bab Sunnahnya Wudhu karena menyentuh Kemaluan.” –Beliau menggabungkan dua hadits-, yaitu Hadits Busroh binti Sofwan yang menganjurkan Berwudhu bagi yang menyentuh kemaluan. Dan beliau juga menyebutkan Hadits Tolq bin Ali yang menerangkan tentang tidak batalnya wudhu seseorang jika ia menyentuh telah kemaluan. (dengan demikian dua hadits diatas lebih utama untuk di gabung dan diamalkan, karena kedua-duanya dari Nabi)

 

Maka dari itu: Imam Malik Rahimahullah pernah berkata: Saya berpendapat bahwasanya Perintah berwudhu karena menyentuh kemaluan hukumnya sunnah, tidak wajib.   Begitu pula Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah menilai perintah berwudhu karena menyentuh kemaluan hukumnya Sunnah, bukan Wajib. (Lihat : Nasbur Royah (1/54-70), Al-i’tibar Karya Al-Hazimi (hal. 39-46))

 

Referensi:

Al-Amalus Shalih Karya Sami Muhammad

Targhib Wat Tarhib Karya Imam Al-Mundziri

Al-i’tibar Karya Imam Al-Hazimi

At-Talkhishul Kabir Karya Ibnu Hajar

Irwa’ul Gholil Karya Syeikh Al-Albani

Majma’ Zawa’id Karya Imam Al-Haitsami

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*