Gambaran Buah Pendidikan Generasi Salaf

Buah pendidikan generasi salaf

1. Zubair bin Awwam radhiyallahu ‘anhu

Zubair bin Awwam mendapat didikan dari seorang ibu yang bernama Shofiyyah binti Abdul Muththolib, tumbuh dan besar mengikuti tabi’at dan sifat dan perangai sang ibu, seorang wanita pemberani nan mulia. Tatkala Hindun binti Utbah membujuk orang yang bisa membunuh Hamzah bin Abdul Muththolib yang telah membunuh ayahnya di perang Badr hingga Hamzah pun berhasil dibunuh dalam perang Uhud, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersedih menyaksikan pamannya tersebut telah dimutilasi sedemikian rupa.

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melihat bibinya, Shofiyyah binti Abdul Muththolib ingin melihat apa yang telah dilakukan orang-orang kafir terhadap saudaranya. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada anaknya, Zubair bin Awwam: “Dekati ibumu dan cegahlah dia.” Beliau melakukan hal tersebut agar Shofiyyah tidak bersedih atas apa yang dilakukan terhadap saudaranya tersebut. Ketika Zubair berdiri menghalangi ibunya, maka Shofiyyah berkata: “Minggirlah engkau”, sehingga Zubair gemetar, kedua kakinya goncang dan lisannya menjadi kelu. Iapun kembali kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan apa yang diucapkan ibunya tersebut. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Biarkan dia.” Kaum muslimin memberikan jalan kepada Shofiyyah hingga sampai ke tempat saudaranya, Hamzah bin Abdul Muththolib. Iapun melihat kepada saudaranya tersebut lalu mengucapkan shalawat serta istirja` (innâ lillâhi wa innâ ilaihi rôji`un) dan mendoakan baginya seraya berkata kepada anaknya: “Katakan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, betapa kami rela dengan apa yang ada di jalan Allah Ta’ala. Sungguh, aku akan mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala dan akan bersabar insyaallah.”

Demikianlah seorang ibu mengajarkan kepada anaknya untuk bersabar kala terjadi musibah besar yang menimpa, bukan dengan berkeluh kesah dan berteriak histeris.

2. Abdulloh bin Zubair radhiyallahu ‘anhu

Inilah Abdulloh bin Zubair, siapakah dibalik orang besar ini? Dialah seorang ibu mulia nan pemberani, Asma’ binti Abi Bakr Ash-Shiddiq yang tatkala sampai kepadanya berita kematian anaknya tersebut ia berkata: “Apa yang menghalangiku untuk bersabar, sementara kepala Nabi Yahya bin Zakariya saja telah dipersembahkan kepada seorang pezina dari Bani Isroil.”

Disaat Abdulloh bin Zubair meminta nasihat ibunya dalam hal peperangannya melawan Hajjaj bin Yusuf, maka ia berkata: “Pergilah berperang, sungguh satu tebasan pedang di atas kemuliaan lebih baik daripada satu pukulan cemeti dalam kehinaan.”

Demikianlah seorang ibu mendidik anaknya menjadi seorang ksatria yang pemberani dalam mempertahankan kemuliaan dan kebenaran, bukan menjadikannya seorang pengecut yang takut dan lari saat menghadapi musuh.

3. Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu

Inilah Amirul Mukminin Umar bin bin Abdul Aziz, raja yang paling adil, paling zuhud dan paling waro’. Siapa gerangan yang berada dibelakang raja yang sholih ini?

Sesungguhnya di belakangnya adalah seorang ibu, Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khoththob manusia paling sempurna pada masanya dan paling mulia sifatnya.

4. Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu

Inilah Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz, seorang pemuda yang telah sempurna sifat kesantunannya dan telah mencapai puncak kedudukannya, dia telah menjadi sebuah perumpamaan dalam hal keilmuan, keberanian, zuhud serta ibadah sekalipun ia meninggal dunia pada saat masih muda berumur sembilan belas tahun. Siapakah di balik kemuliaan tersebut?

Dibalik itu semua adalah ayahnya yang zuhud Umar bin Abdul Aziz serta ibunya Fathimah binti Abdul Malik bin Marwan.

5. Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu

Imam Sufyan Ats-Tsauri, siapakah gerangan Imam Sufyan Ats-Tsauri? Dialah ahli fiqihnya orang Arab, ahli hadits mereka serta salah seorang pemilik madzhab yang enam. Dialah Amirul Mukminin fi hadits (imam dalam hadits), ilmu yang tinggi dan sebagai imam yang besar tidak lain adalah buah dari didikan seorang ibu yang sholihah sekalipun kita tidak mengenal namanya. Telah diriwayatkan dari Imam Ahmad dengan sanadnya dari Imam Waki’, ia berkata: “Ibu Sufyan Ats-Tsauri berkata kepadanya: “Wahai anakku, tuntutlah ilmu. Aku akan menanggungmu menggunakan alat pintal”.

Ibu yang mulia tersebut bekerja dan memberikan nafkah untuk Sufyan Ats-Tsauri agar bisa fokus dalam menuntut ilmu. Ia senantiasa memperhatikan anaknya dengan memberikan petuah dan nasihat. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa suatu kali ia berkata: “Wahai anakku, apabila engkau menulis sepuluh huruf maka lihatlah, apakah engkau bisa melihat pada dirimu penambahan rasa takut (kepada Allah Ta’ala), serta kelembutan dan ketenangan? Apabila engkau belum melihat hal itu, maka ketahuilah bahwa sepuluh huruf tersebut memberimu dampak negative dan tidak memberikan manfaat.”

6. Abdurrohman An-Nashir rahimallahu

Abdurrohman An-Nashir yang telah memerintah Andalus yang merupakan wilayah yang goncang karena berbagai fitnah dan memerah darah, tidak lama kemudian tunduk kepadanya karena kewibawaannya. Ia pun keluar dengan pasukan pelopornya dan mampu menalkukkan 70 benteng dalam satu peperangan, kemudian hal tersebut merambat ke tengah-tengah Perancis dan dengan cepat ke Swiss dan menggabungkan daerah-daerah pinggir Itali hingga mampu menundukkan mereka semua.

Setelah Qurtuba menjadi pusat pemerintahan, di atas mimbar-mimbarnya disebut-sebut nama kholifah dan hukumnya pun diperlakukan atas nama kholifah maka Qurtuba menjadi pusat kekhilafahannya yang kepadanya raja-raja eropa tunduk dan para cendikiawan bolak-balik menuju sekolahan-sekolahan yang ada padanya.

Apakah gerangan rahasia dari kebesaran ini? Rahasianya ada pada seorang wanita. Abdurrohman An-Nashir tumbuh dewasa sebagai seorang anak yang yatim, ayahnya telah dibunuh oleh pamannya sehingga ibunya sendiri yang harus mendidik Abdurrohman dan memberikan rahasia kesempurnaan serta ketinggian kepada dirinya hingga terjadilah apa yang telah kita ketahui.

Demikianlah contoh-contoh serta gambaran indah dari sejarah salaf dalam pendidikan hingga membangkitkan rasa kagum. Apabila seseorang melihat anak-anak pada masa sekarang yang menyimpang serta kelalaian orang tua dan keengganan mereka untuk mendidik secara baik maka ia bisa membandingkan antara kondisi kita dengan kondisi generasi baik salaf kita hingga ia pun mungkin akan merasakan putus asa hingga menebar pengaruh-pengaruh keputusasaan dalam hatinya. Namun seorang muslim tidak merasa putus asa, apa yang bisa menjadikan baik generasi terdahulu bisa menjadikan baik pula generasi setelahnya. Semoga Allah Ta’ala memperbanyak orang-orang tua yang mampu mendidik anak-anaknya dengan baik hingga membuahkan hasil yang mengagumkan. Amin

*Terambil dari tulisan D. Muhammad bin Ibrohim Al-Hamd yang berjudul Shuwarun musyriqoh min tarbiyyatis Salaf Li Aulâdihi; www.alukah.net/Social/0/36605


Sumber: Majalah Lentera Qolbu, tahun ke-4 edisi ke-8

Sumber gambar: kisahmuslim.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.