BIOGRAFI MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I رحمه الله

BIOGRAFI

BIOGRAFI MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I رحمه الله

 

NAMA, NASAB, KELAHIRAN, PERTUMBUHAN, DAN CIRI-CIRI MUHAMMAD BIN IDRIS

NAMANYA :

Muhammad bin idris bin al-abbas bin utsman bin syafi`i bin Aa-sa’ib bin ubaid bin abd yazid bin hasyim bin al-muthallib bin abdu manaf bin qushay bin kilab bin murrah bin ka’b bin lu’ay bin ghalib.

KUNYAHNYA : Abu Abdillah

Dia adalah anak paman Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, nasabnya bertemu dengan beliau dengan kakeknya, abdu manaf. Rasulullah berasal dari bani hasyim, sedangkan imam syafi’i berasal dari bani abdul muthallib bin abdu manaf. Nabi bersabda”

إنما بنو هاشم شيئ واحد

“ bani muthallib dan bani Hasyim Itu adalah satu[1]

Imam an-nawawi mengatakan ketahuilah bahwa dia (syafi’i) memiliki tempat yang tinggi berupa macam-macam kebaikan dan kedudukan yang mulia, karena allah telah menghimpin kepadanya aneka macam kemuliaan. Diantaranya kemuliaan nasab yang suci, unsur yang cemerlang, dan berhumpunya dia dengan rasulullah didalam nasab. Itu adalah piuncak kemuliaan dan puncak kedudukan. Diantaranya juga, kemuliaan tempat kelahiran dan pertumbuhan karena dia dilahirkan di al-ard al-muqaddasah (palestina) dan besar di makkah.

KELAHIRAN DAN PERTUMBUHANNYA:

Adz-Dzahabi mengatakan, “tempat kelahiran sang imam di ghaza. Ayahnya Idris meninggal saat masih muda, kemudian muhammad tumbuh sebagai yatim dalam asuhan ibunya. Kemudian ibunya khawatir anak-anaknya tersia-siakan, kemudian ia pindah keinduk keluarganya ketika itu syafi’i berumur dua tahun,lalu tumbuh besar di Makkah. Dia menggeluti dunia memanah sehingga mengungguli teman sejawatnya. Dia membidik tepat sasaran dengan sembilan anak panah dari sepuluh anak panah. Dan dia menyukai bahasa arab dan syair sehingga menguasainya dan unggul, kemudian dia diberi kecinttan kepada fiqih sehingga mengungguli penduduk semasanya.[2].

Ciri-ciri fisik nya :

Abu nu’aim meriwayatkan dengan sanadnya dari ibrahim bin murad, dia mengatakan “,As-Syafi’i berperawakan tinggi, mulia, bertubuh besar.”

Az-Za’farani mengatakan “As-Syafi’i biasa mewarnai dengan inai, berpipi tipis.”

Al-Muzani mengatakan “aku tidak pernah melihat seorang pun lebih bagus wajahnya dari Asy-Syfi’i dan terkadang ia menggenggam jenggotnya sehingga tidak lebih dari genggamannya.[3]

PEMULAAN PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKAN MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I DAN KEUNGGULANNYA DIDALAMNYA.

Abu nu’aim meriwayatkan dengan sanadnya dari abu bakar bin idris- warraq al-Humaidi- dari Asy-Syafi’i, mengatakan aku adalah anak yatim dalam asuhan ibu, sedang ibu tidak ada sesuatupu yang diberikan untuk guruku, tapi guruku sudah ridha kepadaku apabila aku mengikuti dibelakangnya ketika dia berdir. Ketika aku sudah menghatamkan al-qur`an, aku masuk masjid lalu duduk dimajelis ulama, lalu menghafalkan hadits atau masalah. Tempat tinggal kami dimakkah, di gang khaif, aku melihat tulang yang bentuknya lebar, lalu aku menulis hadits dan maslah diatasnya, ketika itu kami memiliki bejana lama, apabila tulang telah penuh dengan tulisan maka aku menaruhnya didalam bejana.[4]

Mush’ab mengatakan “sebab ia mengambil fiqih, bahwa pada suatu hari dia berjalan dengan mengendarai kendaraannya dibelakangnya ada sekretaris ayahku. Ketika asy-Syafi’i bertamtsil dengan bait syair, maka sekretaris ayahku mengetuknya dengan cemeti, kemudian mengatakan kepadnya, orang sepertimu akan lenyap keperwiraannya disebabkan perkara seperti ini. Dimanakah engkau dari fiqih ?” hali itu menggetarkan as-syafi’i. mka ia berniat untuk duduk dimajelis az-Zanji bin Khalid -seorang mufti makkah-. kemudian dia tiba kepada kami, lalu menyertai (mulazamah) pada malik bin Anas.

Al baihaqi meriwayatkan dengan sanadnya dari abu bakar al-humaidi dia mengatakan, as-syafi’i mengatakan aku pergi menuntut ilmu nahwu dan adab, lalu akuj bertemu muslim din khalid, maka dia mengatakan, mahai pemuda, dari mana engkau berasal ? aku menjawab dari penduduk makkah. Dia bertaanya diamanakh tempat tinggalmu disana? Aku menjawab di gang khauf, dia bertanya “dari kabilah mana kamu berasal? Aku menjawab dari keturunan abdu manaf,” dia mengatakan bagus,bagus. Sungguh allah telah memukliakan mu didunia dan di akherat. Mengapakah tidak engkau jadikan pemahamanmu ini dalam fiqih, yang tentunya itu lebih baik bagimu.[5]

Adz-dzahabi mengatakan, dari syafi’i, dia mengatakan”aku datang kepada imam malik saat aku masih berusia 13 tahun, demikian pernyataannya. Tapi secara zahirnya dia berusia 23 tahun. Kemudian aku datang kepada anak pamanku, wali kota madinah, lalu dia berbicara engan malik dengan mengatakan carilah orang yang membacakan kepadaku, aku mengatakan aku yang akan membacanya, akupun membacadihadapannya, lalu dia terkadang mengatakan kepadaku tentang sesuatu yang telah berlalu, ulangilah’ akupun mengulanginya dengan hafalan, maka seakan-akan dia mengagumiku. Kemudian aku bertanya kepadanya tentang suatu masalah, maka dia menjawab pertanyaanku. Kemudian pertanyaan lainnya, maka dia mengatakan, engkau ingin menjadi qadhi?

An-nawawi mengatakan yang ringkasnya, “Asy-Syafi’i mengambil fiqih dan mendapatkannya dari muslim bin khalid az-Zanji dan para imam makkah lainnya. Kemudian dia pergi kemadinah dengan tujuan mengambil ilmu dari abu abdillah malik bin anas, dan malik memuliakannya serta memperlakukannya dengan baik. Karna nasab, ilmu kepahamannya, akal dan adabnya, dan apa yang patut bagi keduannya.dia membaca muwatha’ didepan malik secara hafalan, sehingga bacaanya mengagumkannya, malik memintanya untuk menambah bacaan, karena kekagumannya dengan bacaannya. Ketika dia menyertai imam malik, maka imam malik mengatakn kepadnya’ bertaqwalah kepada allah, karean engkau akan memiliki kedudukan. ‘dalam suatu riwayat, bahwa dia mengatakan kepadaku sesungguhnya Allah telah memasukkan cahaya dalam hatimu, maka janganlah engkau memadamkannya dengan kemaksiatan.’ kemudian Asy-Syafi’i menjadi wali di yaman, dan menjadi masyhur karena kebagusan perjalanan kehidupannya, dan mambawa manusia kepada jalan yang baik yaitu jalan diatas sunnah. Kemudian dia pergi keiraq untuk menyibukkan diri dengan ilmu, mengadakan dialog dengan muhammad bin hasan (murid Abu hanifah) dan selainnya. Menyebarkan ilmu dengan hadits menegakkan madzhab penduduknya, dan membela sunnah. Nama dan keutamaanya pun tersebar luas dan terus bertambah memenuhi berbagai tempat.

PUJIAN PARA ULAMA KEPADA MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

Al-hafidz Abu nu’aim mengatakan,”diantara mereka terdapat imam yang sempurna, berilmu sekaligus mengamalkan ilmunya. Memiliki kedermawanan dan kemuliaan. Yang luhur, akhlak yang bagus, memiliki kedermawanan dan kemurahan, dia merupakan cahaya dalam kegelapan menjelaskan yang musykil menguraikan yang tidak jelas, menyebarkan ilmunya di timur dan barat. Melimpahkan madzhabnya didaraatan dan lautan, mengikuti sunnah-sunnah dan atsar. Mencontoh apa yang telah menjadi kesepakatan oleh kaum muhajirin dan anshar, mengambil dari para ulama pilihan, lau para ulama pilihan menceritakan hadiys darinya. Dia adalah al-Hijzi,al- muththalib, Abu Abdillah Muhammad bin idris asy-syafi’i luhur, sebab sifat-sifat dan kedudukan-kedudukan hanyalah menjadi hak orang yang memiliki ketaatan agama dan keturunan, dan sungguh asy-syfi’i mendapatakan keduanya sekaligus.

Kemuliaan ilmu dan pengamalanya serta kemuliaan keturunan, karena kekerabatany dengan Rosulullah. Kemulianyaa karena ilmu adalah keistimewaan yang telah Allah berikan kepadanya, berupa pencurahan perhatianya kepada berbagai disiplin ilmu, lalu dia memperluasnya pada cabang cabang hukum, lalu menggali makna-makna tersembunyi, dan menjelaskan berdasarkan pemahaman ushul dan pondasi dasarnya. Dia meraih semua itu karena Keistimewaan yang Allah berikan kepada seorang Quraisy karena kemuliaan akalnya.

Al-khathib meriwayatkan denagan sanadnya sampai kepada ishaq bin rahawaih, dia mengatakan, Ahmad bin hambal memegang tanaganku seraya mengatakan, “Kemari, hingga aku dapat membawamu kepada seseorang yang belum pernah kedua matamu melihat orang sepertinya. “ternyata dia membawaku pergi ketempat asy-syafi’i.

Dengan sanadnya juga sampai kepada Abdullah bin Ahmad bin hanbal, dia mengatakan, aku bertanya kepada ayahku “wahai ayahku, kedudukan apakah yang dimiliki asy- syafi’i? karena aku sering mendengarmu mendo’akanya. “dia mengatakan kepadaku, “wahai putraku asy-syafi’i laksana matahari bagai dunia. Dan laksana afiyat(kesehatan) bagi manausia. Perhatikanlah, apakah keduanya memiliki pengganti atau memiliki penerus.?

Dari Ayyub bin Suwaid, dia mengatakan, “aku tidak menduga bahwa aku masih hidup hingga aku bisa melihat orang seperti asy-syafi’i.

Dari Shalih bin Ahmad bin Hanbal, dia mengatakan, “asy-syafi’i menunggangi keledainya, sedangkan ayahku berjalan kaki, asy-syafi’i berkendara sedangkan ayahku di belakangnya bermudzakarah kepadanya. Ketika hal itu terdenagar oleh Yahya bin ma’in,maka dia mengutus seseorang kepada ayahku mengenai hal itu, maka ayahku mengutus seseorang kepadanya untuk mengatakan, ‘bahwa seandainy engkau berada disamping yang lain dari keledai itu, maka itu lebih baik bagimu. Demikian atau yang semakna denganya .

Dari Humaid bin Zanjawaih, dia mengatakan, Aku mendengar Ahmad bin Hanbal mengatakan, saat meriwayatkan hadits dari nabi, “sesungguhnya Allah mengutus kepada pemeluk agamaNYA pada penghujung tiap tiap seratus tahun seorang laki-laki Dari ahli Baitku. Yang akan menjelaskan kepada mereka tentang urusan agama mereka.”

Ahamad mengatakan, “Aku memperhatikan pada tahun seratus, ternyata ada seseorang laki laki dari Ahli Bait Rasulullah,yaitu Umar bin Abdul Aziz, dan aku melihat pada tahun dua ratus, ternyata ada seseorang laki laki dari Ahli bait Rasulullah, Muhammad bin idris.

Muhammad bin fadhl al-Bazzar mengatakan, aku mendengar ayahku berkata, “Aku berhaji bersama Ahmad bin Hanbal, lalu kami singgah ditempat yang sama, atau disebuah rumah(yakni di mekkah). kemudian Abu Abdillah, yakni Ahmad bun Hanbal pergi pagi pagi sekali, dan aku juga pergi bersamanya. Ketika kami telah melaksanakan shalat shubuh, Aku mengelilingi majlis yang ada. Aku mendatangi majlis Sufyan bin uyainah,dan aku mengelilingi majlis satu persatu untuk mencari Abu Abdillah, hingga aku mendapatinya berada dekat seorang pemuda Badui yang memakai pakaian bercelup dam memeakai penutup kepala, Akupun memasuku majlis yang penuh sesak itu hingga aku duduk di dekat Ahmad bin hanbal, lalu aku katakan kepadanya,”wahai Abu Abdillah, menagapa engakau meninggalkan sufyan bin unaiyah, sedangkan dia memiliki (riwayat) az-Zuhri, Amr bin Dinar, dan Ziyad nin Ilaqah dari kalangan tabi’in? Dia mengatakan .”Diamlah. Jika engkau luput mendapatkan hadits (dengan sanad) tinggi maka engakau akan mendapatkanya dengan sanat bawah,dan itu tidak merugikan agamamu dan tidak pula akalmu atau kefaqihanmu. Namun jika engkau melewatkan akal pemuda ini, maka aku khawtir engkau tidak akan mendapatinya hingga hari kiamat. Aku tidak pernah melihat seseorang pun yang lebih faqih mengenai kitab Allah daripada pemuda Quraisy ini. Aku bertanya, siapakah orang ini? Dia menjawab, Muhammad bin Idris Asy-syafi’i.

 

IBADAH,SIKAP ZUHUD DAN WARA’NYA. MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

Bahr bin Nashr mengatakan, “aku tidak pernah melihat dan tidak prnah mendengar di masa asy-syafi’i ada orang yang lebih bertaqwa kepada Allah,lebih berlaku Wara’ dan lebih bagus bacaan Qur’anya daripada asy syafi’i. ada yang lebih bertaqwa kepada allah lebih berlaku wara’ dan lebih bagus bacaan Qur’annya daripada imam syafi’i.

Dari al-husein al-karabisi aku bermalam dengan syafi’i selma delapan puluh malam, dan dia mengerjakan shalat sekitar sepertiga malam, aku pernah melihatnya menambah lebih dari 50 ayat. Jika ia menambah bacaannya maka menjadi seratus ayat.tidaklah ia melewati ayat rahmat kecuali ia memohon kepada allah dirinya dan bagi seluruh kaum mukminin, dan tidaklah ia melewati ayat adzab kecuali ia meminta perlindungan kepada Allah bagi dirinya, dan meminta keselamatan bagi dirinya dan semua kaum mukminin, seakan-akan telah terhimpun dalam dirinya harapan dan kecemasan sekaligus.

Dari abdullah bin muhammad al-Balawi, ia mengatakan, suatu hari kamu duduk untuk mengenang ahli zuhud, ahli ibadah, dan ulama’, serta berita tentang kezuhudan dan kefasihan, dan ilmu mereka. Ketika kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba umar bin nabatah singgah kepada kami serayua mengatakan, “apakah yang sedang kalian perbincangkan?” kami menjawab,’kami mengenang ahli zuhud, ahli ibadah, dan ulama, serta berita tentang kezuhudan, kefasihan dan iilmu mereka,’ mendengar hal itu umar bin nabatah mengatakan’ “demi Allah aku tidak pernah melihat seseorang pun yang lebiuh wara’, lebih khusus’,lebih fasih, lebih berlapang dada, lebih berilmu, lebih pemurah lebih tampan, lebih mulia dan lebih utama dari pada Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i.[6]

KEGIGIHAN MUHAMMAD BIN IDRIS AS-SYAFI’I DALAM MENGIKUTI SUNNAH DAN CELAANYA TERHADAP AHLU AHWA’

Dari maimun bin mihran, dia mengatakan ahamd bin hanbal mengatakan kepadaku, mengapa engkau tidak melihat dalam kitab-kitab asy-syafi’i? tidak ada seorang pun yang menulis kitab -kitab yang lebih mengikkuti sunnah daripada Asy-Syafi’i

Dari abu ja’far at-tirmidzi, dia mengatakan aku ingin menulis kitab-kitab arra`yu, lalu aku bermimpi melihat nabi, maska aku katakan wahai rasulullah,’apakah aku boleh menulis pendapat asy-syafi’i? nabi menjawab sesungguhnya itu bukan pendapat (ra’yu) itu adalah bantaahan terhadap siapa yang menyelisihi sunnahku.[7]

WASIAT MUHAMMAD BIN IDRIS ASY-SYAFI’I

ar-Rabi’ bin sulaiman mengatakan, “dibacakan surat ini di hadapan muhammad bin idris as-syafi’i dan saat itu aku hadir, “ditulis oleh muhammad bin idri bin al-abbas as-syafi’i pada bulan sya’ban 203 H, dan diaa menjadikn allah sebagai saksi yang mengetahui mata yang berkhianat, dan apa yang disimpan didalam dada.dan cukuplah dia sebagai saksi dan siapa yang mendengarnya, dia bersaksi bahsannya tidak tuhan yang berhak disembah kecuali allah semata, yang tiada sekutu baginya. Dan bahwa muhammad hamba dan utusannya. Dia tetap akan beragama dengan hal itu, dan dengannya dia bergama sehingga allah mewafatkannnya dan dibangkitkan dihadapannya insyaAllah. Dia berwasiat dengan dirinya sendiri dan dengan jamaah yang menengarkannya, agar menghalalkan yang di halalkan oleh Allah dalam kitabnya dan melalui lisan nabiNya dan mengharamkan apa diharamkan allah dalam kitabnya dan yang diharamkan dalam sunnnahnya.dan tidak melampaui dengan hal selainnya sebab melampaui berarti meninggalkan kewajiban dari Allah, dan meninggalkan yang menyelisihi dari kitab dan assunnah. Keduanya merupakan hal yang diada-adakan dan demikian pula di berwsiat untuk senantiasa memelihara dan melaksanakn kewajiban dari Allah berupa perkataan dan perbuatan, serta menahan diri dari keharamannya, karena takut kepada Allah, dan banyak mengingat saat berada dihadapan rabbnya kelak.

Demikianlah sedikit ringkasan tentang biografi imam syafi’i mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Amiin

Referensi:

DIRINGKAS dari kitab yang berjudul biografi 60 ulama ahlusunnah, penerjemah Ahmad syaikhu,S.Ag penerbit DARUL HAQ, jakarta.cetakan ke III djulhijjah 1435 H/Oktober 2014 M.

Diringkas olehAli sodikin (Pegawai Pondok Pesantren DarulQur’an WalHadits)

[1] Diriwayatkan oleh al-bukhari dalam shahih bukhari, al-manaqib, 6/66 ; abu dawud dan annasa’i, sunnan an-nasa’i 7/130

[2] Syiar ‘a’lam an- Nubala’ syamsudin adz-dzahabi, dan tahqiqnya diketuai oleh syu’aib al-arna ‘uth, beirut: cet dar-risalah t.th,10/6

[3] Tharikh islam, syamsuddin adz-dzahabi hal.310

[4] Hilyah al-aulya’ dan athabaqat as;syifa’; karya abu nu’aim al-ashbahani,np cet.as-sa’adah, t.th9/73

[5] Manaqib asy-syafi’i al baihaqi, 1/97

[6] Manaqib asy-syafi’i, albaihaqi,2/177

[7] Hilyah auliya’ wa tabaqat asshafiyah abu nu’aim 9/100

Baca Juga Artikel:

25 Bahaya Bid’ah Dalam Agama

Kematian Pemimpin Global Ikhwan, Sang Pembuat Tsunami?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.