BERTAWAKALLAH HANYA KEPADA ALLAH

 

  1. WAJIB BERTAKKAL HANYA KEPADA ALLAH

ALlah berfirman dalam hadits Qudsi “Wahai hamba-ku, sesungguhnya kalian itu lapar kecualai yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-ku niscaya aku akan memberi kalian makan. Setiap kalian adalah telanjang kecualai yang Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-ku niscaya Aku akan memberi kalian pakaian” HR. Muslim, At-Tirmidzi, dan Baihaqi

Firman Allah Ta’ala ini menetapkan dua perkara besar : pertama, kewajiban untuk bertawakkal hanya kepada Allah dalam masalah rezeki. Sebab apapun yang diterima manusia baik berupa makanan dan pakaian pada hikikatnya adalah milik Allah dan dari Allah. Dan tidak ada yang mampu memberikan rezeki berupa makanan dan pakaian kecuali Allah, sesungguhnya kemampuan yang dihasilkan sebagian hamba tidaklah ada kecuali kerena beberapa sebab-sebab yg ditetapkan oleh Allah, oleh sebab itu Allah Ta’ala berfirman,

وعلى الولود له رزقهن وكسوتهن بالمعروف

“Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. ”

(QS. Al-Baqarah : 233)

Allah Ta’ala juga berfirman,

ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه إن الله بالغ أمره قد جعلى الله لكل شيء قدرا

“Dan Ia memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang hanya bertawakkal hanya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepada kepada mereka. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusannya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu” (QS. At-Thalaq : 3)

  1. WASILAH YANG DIPERBOLEHKAN TIDAK MENAFIKAN SIFAT TAWAKKAL

Dari sini kita ketahui bahwa sebab-sebab yang diperintahkan atau yang mubah tidak menafikan wajibnya bertawakkal kepada Allah dalam mewujudkan sebab tersebut, bahkan hajat dan kafakiran kepada Allah tetap ada bersamaan dengan upaya melakukan sebab. Karena tidak ada makhluk yang hanya dirinya sendiri sebagai sebab dari perbuatan untuk mendapatkan apa yang ia inginkan, oleh karna itu kejadian-kejadian yang terjadi harus bersma dengan sebab-sebab, kecuali hal-hal yang dikehendaki oleh Allah

Barangsiapa menyangka bahwa ia tidak memerlukan sebab dan hanya bertawakkal saja, maka orang seperti ini telah meninggalkan apa yang diwajibkan oleh Allah dari ketawkkalan tersebut dan ia melepaskan diri dari ketauhiddan. Allah Ta’ala berfirman

وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يمسسك بخيرفهو على كل شيء قدير

Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghalanginya kecuali Dia. Dan jika Ia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Ia maha kuasa atas segala sesuatu”  (QS. Al-An’am :17)

Allah Ta’ala berfirman,

فاعبده وتوكل عليه

Maka sembahlah Allah dan bertawakkallah kepada-nya” (QS. Hud : 124)

  1. KESALAHAN DALAM MEMAHAMI TAWAKKAL

    Barangsiapa melakukan apa yang diperintahkan dengan memperbanyak bekal, lalu ia meminta pertolongan dengannya untuk taat kepada Allah dan ia berlaku baik sampai ia menjadi orang yang butuh, maka ia termasuk orang yang taat kepada Allah dalam dua perkara tersebut. Berbeda dengan orang yang tidak melakukan hal tersebut dan justeru berpaling kepada hal lain. Namun, jika aktifitas memperbanyak bekal tersebut tidak sesuai dengan apa yang diwajibkan dalam bertawakkal kepada Allah dan melipur lara orang yang butuh, maka ia meninggalkan bekal yang diperintahkan untuk itu.

Dalam nash-nash ini terdapat keterangan akan kesalahan beberapa kelompok; ada kelompok yang mereka mengesampingkan perkara, melakukan sebab yang diperintahkan. Mereka menganggapnya sebagai kekurangan atau aib dalam bertauhid dan tawakkal, walaupun sebenarnya meninggalkannya justeru termasuk dalam kesempurnaan tawakkal dan ketauhidan. Mereka dalam hal ini terpedaya dan keliru. Sebagaimana kekeliruan ini telah dilakukan oleh para pengikut hawa nafsu.

  1. ALLAH MEMERINTAHKAN HAMBA-NYA UNTUK MEMINTA HANYA KEPADA-NYA

Diriwayatkan di dalam Ath-Thabrani dan lain-lainnya, dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

ليأل أحدكم ربه حاجته كلها حتي شسع نعله أذا، إنقطع فإنه إن لم يسره الله لم يتيسر

Hendaklah kalian meminta segala kebutuhan kalian kepada Allah walaupun tali sandalnya terputus, sesungguhnya jika Allah tidak menggampangkan kepadanya maka hal itu tidaklah gampang baginya” (HR. At-Tirnidzi, Ath-Thabrani, Abu Ya’la dan Abu Al-Bazzar)

Sungguh tidaklah diketahui bahwa takdir sudah mendahului sebuah perkara atas apa yang terjadi, barangsiapa yang ditakdirkan Allah termasuk kedalam kelompok orang yang bahagia maka ia termasuk orang yang ditakdirkan demikian dan kemudian ia dimudahkan untuk berbuat perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bahagia, dan barangsiapa yang ditakdirkan Allah termasuk orang-orang yang menderita maka ia akan menjadi orang yang menderita dan dimudahkan baginya melakukan perbuatan-perbuatan orang-orang yang menderita. Sebagaimana jawaban Nabi Shalallahu Alaihi Wa Sallam terhadap pertanyaan dalam hadits Ali bin Abi Thalib, Imran bin Husain, Suraqah bin Ja’syam dan lain-lainnya, diantaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi Ibnu Abi Umar menceritakan kepada kami, ia berkata “Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Az-Zuhri dari Abu Khuzamah dari bapaknya ia berkata, “Aku bertanya kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah bagaimana pendapatmu tentang obat yang kami jadikan obat, ruqyah yang kami jadikan jampi-jampi, dan apa yang kami waspadai yang selalu kami takuti, apakah itu akan menolak takdir Allah? ‘Beliau menjawab, “Itu adalah dari takdri Allah, ” (HR. At-Tirmidzi dan Al-Hakim)

  1. ALLAH AKAN MENCUKUPI SEMUA URUSAN ORANG YANG BERTAWAKKAL KEPADANYA

Hal ini berdasarkan Firman Allah Ta’ala,

 ومن يتوكل على الله فهو حسبه

Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan memberikan kecukupan

(Keperluannya)  (QS. At-Thalaq : 3)

ibnul Qoyyim berkata : Allah adalah yang mencukupi orang-orang yang bertawakkal kepadanya dan yang menyandarkan segala sesuatu kepada-Nya, yaitu Ia yang memberikan ketenangan kepada orang yang takut, dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong dan barangsiapa yang berlindung kepada-Nya dan meminta pertolongan hanya kepadanya, beratwakkal kepadanya, maka Allah akan melindunginya, menjaganya, dan barangsiapa yang takut kepada Allah, maka Allah akan membuatnya nyaman dan tenang dari sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan, dan Allah akan memberi kepadanya segala macam kebutuhan yang bermanfa’at.

Yang memberi kecukupan hanyalah Allah saja, sebagaimana firman-Nya:

يآيها النبي حسبك الله ومن اتبعك من المؤمنين

“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu,(QS. Al-Anfal : 64)

 

Maksudnya ; Cukuplah Allah bagi kamu, dan cukuplah bagimu orang-orang yang beriman mengikutimu (Tafsir Ath-Thabari 10/37) maka kalian semua tak akan membutuhkan seseorang jika kalian bersama Allah, ini adalah pendapat dari Abu Shaleh Ibnu Abbas, dan Ibnu Katsir tak menyebutkan selain pendapat ini (Tafsir Ibnu Katsir 4/30) Ada juga yang mengatakan bahwa artinya adalah : cukuplah bagimu Allah, dan cukuplah bagimu orang-orang yang beriman, yaitu pendapat yang diriwayatkan dari Al-Hasan dan diikuti oleh An-Nuhas. [Tafsir Al-Qurthubi 8/43]

 

 

Jum’at 19 Juli 2019

 

Diringkas dari kitab : Tazkiyatun Nafs Bab Tawakkal Hal 327 dan kitab Rahasia Tawakal & Sebab Akibat hal. 84 – 89 Bab Buah Tawakal

 

Peringkas : Yusuf Eki Chandra (pengajar ponpes Daarul Qur’an wal Hadits OKU timur)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.