Bersegera Menuju Pengampunan Allah (Bagian I)

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)

“(133) Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (134) (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (135) Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (136) Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS Ali ‘Imran: 133-136)

TAFSIR RINGKAS

Allah memerintahkan pada ayat yang pertama untuk bersegera mengerjakan dua hal, yang pertama adalah (memerintahkan untuk) menuju pengampunan atas dosa-dosa mereka, yaitu dengan cara bertaubat nasuuh dan yang kedua adalah (memerintahkan untuk) menuju surga Allah yang Allah telah sifatkan kepada mereka, Allah berfirman: Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,’ maksudnya adalah dia telah ada dan telah disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. Bersegera menuju ke surga maksudnya adalah bersegera mengerjakan hal-hal yang bisa memasukkan ke dalam surga. Hal-hal tersebut adalah keimanan dan amalan shalih. Dengan keduanya, ruh bisa dibersihkan dan menjadi baik, sehingga dia bisa menjadi orang yang berhak untuk masuk ke dalam surga. Inilah yang terkandung pada ayat yang pertama.

Adapun pada ayat kedua dan ketiga, keduanya berisi tentang sifat-sifat orang yang bertakwa yang surga telah disediakan untuk mereka, yaitu negeri keselamatan.

Allah berfirman: (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,’ Ini adalah sifat yang mereka miliki, mereka banyak berinfak di jalan Allah dan di setiap waktu mereka, baik dalam keadaan kaya maupun miskin, sempit maupun lapang.

Allah berfirman: ‘Dan orang-orang yang menahan amarahnya,’ Allah mensifati mereka dengan sifat tenang, sabar dan baik. Allah berfirman: ‘Dan memaafkan (kesalahan) orang,’ Allah mensifati mereka dengan sifat memaafkan dan mengampuni kesalahan-kesalahan orang lain. Perbuatan mereka ini adalah perbuatan kebajikan yang tampak. Dengan demikian, mereka diberi kabar gembira dengan (pernyataan) bahwa Allah mencintai mereka, Allah berfirman: ‘Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,’ ini juga memotivasi agar seseorang selalu berbuat kebaikan dan selalu mengerjakannya baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Perkataan Allah: ‘Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat kepada Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka.’

Allah mensifati mereka dengan banyak berzikir dan tidak lalai. Oleh karena itu, jika mereka melakukan perbuatan keji atau dosa besar, atau mereka menganiaya diri mereka sendiri dengan melakukan dosa yang lebih ringan dari itu, mereka mengingat ancaman Allah ta’ala dan berhenti dari melakukan perbuatan tersebut dan bersegera menuju taubat dan berhenti dari dosa, menyesali perbuatannya dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi dan dia meminta ampunan kepada Allah atas perbuatan tersebut.

Perkataan Allah ta’ala: ‘Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.’ Allah mensifati mereka dengan tidak terus-menerus atau tidak membiasakan melakukan dosa, dan mereka tidaklah mengerjakannya dalam keadaan mereka mengetahui bahwa dia adalah dosa, baik (dosa) yang diakibatkan karena meninggalkan perbuatan yang wajib atau karena mereka mengerjakan perbuatan yang haram.

Adapun ayat berikutnya, di dalamnya terdapat penjelasan tentang balasan untuk mereka atas keimanan dan ketakwaan mereka serta apa-apa yang menjadi sifat mereka berupa kesempurnaan diri dan kesucian ruh, yaitu pengampunan (Allah) atas seluruh dosa-dosa mereka dan juga taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan mereka kekal di dalamnya. Dan Allah Yang Maha Pemberi memuji apa-apa yang yang Allah berikan kepada mereka berupa pengampunan dan kekekalan di dalam surga yang memiliki kenikmatan yang terus-menerus, Allah berfirman: Dan itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.”1

PENJABARAN AYAT

Firman Allah ta’ala:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan menuju surga yang luasnya seluas langit-langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Ayat ini seperti yang tercantum di dalam ayat yang lain di dalam Al-Qur’an, yaitu firman Allah ta’ala:

سَابِقُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Berlomba-lombalah kalian untuk (mendapatkan) ampunan dari Tuhan kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Al-Hadid: 21)

Bersegaralah menuju apa?

Allah subhanallahu wa ta’ala mengatakan, “Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian.” Apa maksud dari ampunan pada ayat ini?

Para ulama tafsir rahimahumullah menyebutkan beberapa arti dalam menafsirkan ayat ini, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Bersegera menuju Islam. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.
  2. Bersegera untuk taubat. Ini juga diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dan ‘Ikrimah rahimahullah.
  3. Bersegera mengerjakan faraa-idh (kewajiban-kewajiban). Ini adalah pendapat ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.
  4. Bersegera menuju hijrah. Ini adalah pendapat Abul-‘Aliyah rahimahullah.
  5. Bersegera menuju jihad. Ini adalah pendapat Adh-Dhahhak rahimahullah.
  6. Bersegera mengerjakan amalan shalih. Ini adalah pendapat Muqatil rahimahullah.
  7. Bersegera untuk mendapatkan takbiiratul-ihraam dalam shalat. Ini diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dan disebutkan tafsiran-tafsiran yang lain.

Imam Al-Baghawi rahimahullah menyimpulkan:

أي بَادِرُوْا وَسَابِقُوْا إِلَى الْأَعْمَالِ الَّتِي تُوْجِبُ الْمَغْفِرَة.

Bersegeralah dan bergegaslah mengerjakan amalan-amalan yang bisa mendatangkan pengampunan.”2

Seperti ini juga yang disimpulkan oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah, beliau mengatakan:

أي سَارِعُوْا إِلَى مَا يُوْجِبُ الْمَغْفِرَةَ وَهِيَ الطَّاعَةُ.

Bersegeralah mengerjakan hal-hal yang bisa mendatangkan pengampunan, yaitu ketaatan.” Dan beliau juga mengatakan, “Ayat ini umum. Maknanya sama dengan makna (firman Allah):

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Bersegeralah mengerjakan kebaikan-kebaikan.’ (QS Al-Baqarah: 148/Al-Maidah: 48).” 3

Ini menunjukkan perintah agar tidak memperlambat taubat dan tidak menunda-nunda untuk melakukan amalan-amalan shalih.

Luasnya surga

Ayat ini menggambarkan kepada kita bahwa surga itu sangat luas. Allah menyebutkan luasnya dengan sesuatu yang bisa dijadikan acuan oleh manusia. Manusia mengganggap sesuatu yang paling luas adalah langit-langit dan bumi. Dengan demikian manusia akan memahami bahwa surga Allah itu sangatlah luas.

Imam Al-Baghawi rahimahullah mengatakan:

Maksud (lebar)nya adalah luasnya. Sesungguhnya penyebutan lebar hanyalah untuk menggambarkan keluasannya, karena panjang dari sesuatu kebanyakan adalah lebih panjang daripada lebarnya, seperti dikatakan, ‘Ini adalah sifat dari lebarnya, bagaimana dengan panjangnya?’

Imam Az-Zuhri rahimahullah mengatakan:

Sesungguhnya Allah menyebutkan sifat lebarnya, adapun panjangnya maka tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Ini hanya sebagai permisalan, bukan berarti bahwa surga itu benar-benar seperti langit-langit dan bumi dan tidak lain kecuali seperti itu. Maksud dari lebarnya seperti langit-langit yang tujuh dan bumi yang tujuh adalah menurut apa yang kalian kira…”4

Jika lebar surga adalah selebar langit dan bumi, maka berapakah panjangnya?

Pada ayat yang sedang kita bahas ini disebutkan bahwa lebar surga adalah selebar langit-langit dan bumi, bagaimana dengan panjangnya?

Para ulama tafsir berselisih pendapat dalam hal ini. Sebagian besar ahli tafsir memandang bahwa panjang surga tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah ta’ala. Sedangkan Imam Ibnu Katsir rahimahullah condong kepada pendapat yang mengatakan bahwa panjang surga sama dengan lebarnya. Beliau beralasan bahwa surga itu terletak di bawah ‘Arsy dan dia berbentuk kubah. Sesuatu yang berkubah maka dia berbentuk lingkaran, sehingga panjangnya sama dengan lebarnya.

Beliau berdalil dengan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِئَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

Sesungguhnya di surga terdapat seratus tingkatan yang Allah telah sediakan untuk para mujahid di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan adalah seperti langit dan bumi. Apabila kalian meminta kepada Allah, maka mintalah (surga) Firdaus. Sesungguhnya dia adalah surga yang paling bagus dan paling tinggi. Saya melihat di atasnya ada ‘Arsy Ar-Rahman dan darinya terpancar sungai-sungai surga.”5

Allahu a’lam, apa yang dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah bahwa sesuatu yang beratap kubah maka dia berbentuk lingkaran, maka ini bukan keharusan. Bisa saja dia berbentuk lingkaran, berbentuk lonjong atau berbentuk lainnya.

Surga dan neraka telah diciptakan

Pada ayat yang sedang kita bahas ini dan ayat ke-21 dalam surat Al-Hadid yang telah disebutkan di atas, kita bisa memahami bahwa surga telah diciptakan oleh Allah subhanallahu wa ta’ala dan tidak ada alasan untuk mengingkari keberadaan surga Allah. Inilah keyakinan Ahlissunnah Wal-Jamaa’ah.

Begitu pula dengan neraka, dia telah diciptakan oleh Allah, sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Kemudian takutlah kalian kepada neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan yang telah disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS Al-Baqarah: 24)

وَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Dan takutlah kalian kepada neraka yang telah disediakan untuk orang-orang kafir.” (QS Ali ‘Imran: 131)

Hadits-hadits yang menunjukkan hal tersebut sangatlah banyak, bahkan jika ingin dikumpulkan maka bisa menjadi sebuah buku. Akan tetapi, penulis hanya menyebutkan sebuah hadits terkait permasalahan ini yang menunjukkan bahwa surga dan neraka telah diciptakan oleh Allah.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ الْجَنَّةَ قَالَ لِجِبْرِيلَ : اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا ، فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ، ثُمَّ جَاءَ ، فَقَالَ : أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لاَ يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ إِلاَّ دَخَلَهَا ، ثُمَّ حَفَّهَا بِالْمَكَارِهِ ، ثُمَّ قَالَ : يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا ، فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ، ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ : أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لاَ يَدْخُلَهَا أَحَدٌ قَالَ : فَلَمَّا خَلَقَ اللَّهُ النَّارَ قَالَ : يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا ، فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ، ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ : أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لاَ يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلُهَا ، فَحَفَّهَا بِالشَّهَوَاتِ ثُمَّ قَالَ : يَا جِبْرِيلُ اذْهَبْ فَانْظُرْ إِلَيْهَا ، فَذَهَبَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا ، ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ : أَيْ رَبِّ وَعِزَّتِكَ لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لاَ يَبْقَى أَحَدٌ إِلاَّ دَخَلَهَا.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setelah Allah menciptakan surga, Allah berkata kepada Jibril, ‘Pergilah dan lihatlah ke surga!’ Kemudian Jibril pun pergi dan melihatnya, kemudian dia pun datang dan berkata, ‘Wahai Rabb-ku! Demi keperkasaan-Mu, tidak ada seorang pun yang mendengar tentangnya kecuali dia ingin memasukinya.’ Kemudian Allah hiasi dia dengan hal-hal yang tidak disenangi. Kemudian Allah berkata, ‘Ya Jibril! Pergilah dan lihatlah ke surga!’ Kemudian Jibril pun melihatnya, kemudian dia pun datang dan berkata, ‘Wahai Rabb-ku! Demi keperkasaanmu, saya sangat takut jika tidak ada seorang pun yang ingin memasukinya.’.” Kemudian beliau berkata, “Setelah Allah menciptakan neraka, Allah berkata, ‘Ya Jibril! Pergilah dan lihatlah ke neraka!’ Kemudian jibril pun pergi dan melihatnya, kemudian dia pun datang dan berkata, ‘Wahai Rab-ku! Demi keperkasaanmu, tidak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali dia tidak ingin memasukinya.’ Kemudian Allah hiasi dengan syahwat-syahwat, kemudian Allah berkata, ‘Ya Jibril! Pergilah dan lihat ke neraka!’ Kemudian dia pun pergi dan melihatnya, kemudian dia kembali dan berkata, ‘Wahai Rabb-ku! Demi keperkasaanmu, sungguh saya takut tidak ada seorang pun kecuali ingin masuk ke dalamnya.’.”6

Dalil-dalil yang telah disebutkan sangat jelas menunjukkan bahwa surga dan neraka telah diciptakan oleh Allah ta’ala.

Firman Allah ta’ala:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Allah ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu sarraa’ (lapang) maupun dharraa’ (sempit).”

Imam Al-Baghawi rahimahullah mengatakan:

أي: في اليُسْرِ والعُسْرِ

Yaitu di saat mudah dan susah.”7

Imam Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Yaitu dalam keadaan: berat maupun ringan, bersemangat ataupun tidak, sehat maupun sakit dan pada seluruh keadaannya. Ini seperti yang dikatakan oleh Allah:

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلانِيَةً

Yaitu orang-orang yang menginfakkan harta mereka di waktu malam dan siang secara diam-diam maupun terang-terangan.” (QS Al-Baqarah: 274)

Dan maknanya adalah semua urusan tidak menyibukkan mereka dari ketaatan kepada Allah ta’ala dan berinfak di tempat-tempat yang di-ridha-i oleh Allah dan berbuat baik kepada makhluk-Nya baik dari kerabat mereka atau selain kerabat dengan berbagai macam bentuk kebaikan.”8

Apa yang disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir rahimahullah lebih luas maknanya. Dengan demikian, kita bisa memahami bahwa dalam setiap keadaan dan apapun kondisinya, orang yang bertakwa selalu berinfak di jalan Allah.

Keutamaan Bersedekah di kala susah dan lapang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan para sahabatnya untuk selalu bersedekah, meskipun hanya sedikit.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah rahimahullah bahwasanya dia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلمفَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: (( أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا وَلِفُلاَنٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ.))

Seseorang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dia berkata, “Ya Rasulullah! Sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Engkau bersedekah dalam keadaaan engkau sehat dan pelit, engkau takut miskin dan engkau berharap untuk kaya. Janganlah kamu tunda sampai nati ruhmu berada di kerongkongan dan kamu berkata, ‘Untuk si Fulan sebesar ini dan untuk si Fulan sebesar ini. Dulu ini untuk si Fulan.’.”9

Begitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu:

اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ.

Takutlah kalian kepada neraka, walaupun hanya (bersedekah) dengan satu belahan dari sebiji kurma.”10

Menurut kita saat ini apalah artinya bersedekah dengan satu belahan dari sebiji kurma, tentu itu sangat sedikit sekali, seperti seorang mengatakan, “Bersedekahlah dengan setengah suap nasi!” Perlu kita ketahui, di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak sahabat yang hidupnya sangat susah dan berkekurangan. Untuk mendapatkan beberapa kurma saja, sebagian mereka harus bekerja keras. Jika sudah mendapatkan beberapa butir biji kurma, mereka tidak lupa untuk bersedekah walaupun dengan sebutir kurma atau malah dengan satu belahan kurma.

Bahkan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seseorang yang tidak punya harta sedikit pun rela untuk mencari pekerjaan sebagai tukang angkat-angkat di pasar, demi mendapatkan harta walaupun sedikit dan dengan harta tersebutlah dia bersedekah.

Diriwayatkan dari ‘Abu Mas’ud Al-Anshari radhiallahu ‘anhu, dia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلمإِذَا أَمَرَنَا بِالصَّدَقَةِ انْطَلَقَ أَحَدُنَا إِلَى السُّوقِ فَتَحَامَلَ فَيُصِيبُ الْمُدَّ وَإِنَّ لِبَعْضِهِمُ الْيَوْمَ لَمِئَةَ أَلْفٍ.

Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menyuruh kami bersedekah, maka seorang dari kami pergi ke pasar dan menjadi tukang angkat-angkat (barang),11 sehingga mendapatkan satu mudd12 (makanan). Sesungguhnya sebagian mereka pada hari ini (jika bersedekah, mereka bersedekah) dengan seratus ribu13.”14

Allah ta’ala berfirman:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ

Dan orang-orang yang menahan amarahnya.”

Allah mensifatkan orang-orang yang bertakwa dengan kemampuan dirinya untuk menahan amarahnya. Begitu pula Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk tidak mudah marah dan memerintahkan mereka agar bisa mengendalikan diri dan memaafkan manusia.

Perbedaan antara Al-Ghadab dan Al-Ghaidzh yang keduanya berarti marah

Pada ayat ini disebutkan lafaz Al-Ghaidzh. Ternyata ada perbedaan antara Al-Ghadab dengan Al-Ghaidzh, meskipun keduanya diartikan di dalam bahasa Indonesia dengan kemarahan.

Imam A-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Al-Ghaidzh adalah asal dari Al-Ghadab. Banyak menganggap bahwa keduanya sama, tetapi sebenarnya ada perbedaan antara keduanya. Sesungguhnya Al-Ghaidzh tidak tampak pada anggota tubuh, berbeda dengan Al-Ghadhab, sesungguhnya dia tampak pada anggota tubuh dengan melakukan hal-hal yang dikerjakan (ketika marah). Oleh karena itu, terdapat dalil yang menyebutkan adanya sifat marah bagi Allah, karena dia adalah ibarat dari perbuatan-perbuatan Allah kepada orang-orang yang dimurkai. Sebagian orang menafsirkan Al-Ghaidzh dengan Al-Qadhab. Dan itu bukanlah suatu yang bagus. Wallahu a’lam.”15

Mungkin kita bisa memaknai Al-Ghaidzh di dalam bahasa Indonesia dengan makna emosi yang memuncak.

Imam Al-Baghawi rahimahullah mengatakan, “Maksudnya adalah orang-orang yang bisa menahan kemarahannya ketika tubuh mereka dipenuhi dengan kemarahan. Arti Al-Kadzhm adalah menahan sesuatu ketika dia penuh. Sedangkan arti kadzhmul-ghaidzh (menahan marah) adalah (seseorang mendapatkan) kemarahannya sudah memuncak kemudian dia tolak kemarahannya itu ke dalam tubuhnya dan tidak menampakkannya.”16

Keutamaan menahan marah

Ada banyak hadits yang menunjukkan keutamaan menahan marah atau tidak marah, di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاءَ

Barang siapa yang menahan marah sedangkan dia mampu untuk melampiaskannya, maka akan Allah ‘azza wa jalla memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah memberikan kepadanya hak untuk memilih bidadari mana yang dia inginkan.”17

  1. Diriwayatkan dari Abud-Darda’ radhiallahu ‘anhu beliau berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ. فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم-: (( لا تَغْضَبْ وَلَكَ الْجَنَّةُ.))

Ya Rasulullah! Tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke dalam surga?” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Janganlah kamu marah, maka bagimu surga.”18

  1. Diriwayatkan dari Ibni ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا تَجَرَّعَ عَبْدٌ جَرْعَةً أَفْضَلَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّمِنْ جَرْعَةِ غَيْظٍ، يَكْظِمُهَا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى-.

Tidak ada penahanan yang lebih afdhal dari penahan seorang hamba yang menahan kemarahannya, dia menahannya karena mengharapkan wajah Allah.”19

  1. Diriwayatkan dari seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

(( مَا الصُّرَعَةُ؟ )) قَالَ، قَالُوا: الصَّرِيعُ ، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ– : (( الصُّرَعَةُ كُلُّ الصُّرَعَةِ، الصُّرَعَةُ كُلُّ الصُّرَعَةِ، الرَّجُلُ يَغْضَبُ فَيَشْتَدُّ غَضَبُهُ، وَيَحْمَرُّ وَجْهُهُ، وَيَقْشَعِرُّ شَعَرُهُ، فَيَصْرَعُ غَضَبَهُ.))

Apa yang dimaksud dengan ash-shura’ah (petarung ulung yang tidak terkalahkan)?” Para sahabat pun menjawab, “Dia adalah ash-sharii’ (petarung yang selalu menang).” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Petarung ulung adalah setiap petarung ulung. Petarung ulung adalah setiap petarung ulung, yaitu seseorang yang marah dan kemarahannya memuncak, wajahnya memerah dan rambutnya menegang, kemudian dia kalahkan kemarahannya itu.”20

Adab yang dilakukan seseorang ketika marah

Di dalam beberapa buku tafsir dan banyak buku penjelasan hadits, ada beberapa kiat yang disebutkan oleh para ulama agar seseorang bisa mengendalikan marahnya. Adab-adab tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Jika dia marah sambil berdiri, maka dia duduk. Jika dia dalam keadaan duduk masih marah maka dia berbaring.

Dalilnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu:

إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلاَّ فَلْيَضْطَجِعْ.

Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, maka duduklah. Jika belum hilang kemarahannya darinya maka berbaringlah.”21

  1. Ber-wudhuu’.

Dalilnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari ‘Athiyah bin Sa’d As-Sa’di radhiallahu ‘anhu:

إِنَّ الْغَضَبَ مِنَ الشَّيْطَانِ وَإِنَّ الشَّيْطَانَ خُلِقَ مِنَ النَّارِ وَإِنَّمَا تُطْفَأُ النَّارُ بِالْمَاءِ فَإِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَتَوَضَّأْ

Sesungguhnya marah berasal dari setan. Sesungguhnya setan diciptakan dari api dan api dipadamkan dengan air. Apabila seorang dari kalian marah maka ber-wudhuu’-lah.”22

  1. Mengucapkan ‘A’uudzu billahi minasysyaithaanirrajiim’. Dalilnya adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad radhiallahu ‘anhu dia berkata:

كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلموَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم-: (( إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ.)) فَقَالُوا لَهُ: إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلمقَالَ: (( تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ.)) فَقَالَ: وَهَلْ بِي جُنُونٌ.

Dulu saya duduk bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ada dua orang lelaki yang sedang saling mencela. Seorang dari mereka merah wajahnya dan urat-uratnya terlihat, “Sesungguhnya saya tahu satu kalimat yang jika orang itu mengatakannya maka akan hilang apa yang dia dapatkan dari kemarahannya. Jika dia mengucapkan ‘Allahumma inni a’uudzu bika minasysyaithaanirrajiim (Ya Allah, Saya berlindung kepada-Mu dari setan yang terkutuk)’. Kemudian para sahabat berkata kepada orang itu, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Berlindunglah kepada Allah dari setan!’ Orang itu pun berkata, “Apa saya gila?”23

Kiat-kiat di atas banyak disebutkan di buku-buku tafsir dan syarh (penjelasan) hadits, tetapi sayangnya dua hadits pertama dan kedua yang telah disebutkan dinilai dha’if oleh beberapa ulama sebagaimana penulis jelaskan di catatan kaki. Meski demikian penulis tidak mengingkari bahwa ada juga ulama yang menyatakan hadits-hadits tersebut shahih atau hasan. Allaahu a’lam.

Akan tetapi, yang perlu kita pahami adalah pada asalnya setiap orang bebas melakukan apa pun yang bisa digunakan untuk menahan amarahnya selama hal tersebut bukan termasuk perbuatan dosa. Mungkin dia bisa menahan amarahnya dengan banyak mengunyah makanan; mungkin dengan berlari dan berolahraga; mungkin dengan berenang atau cara-cara yang lainnya. Tetapi tidak boleh dia menggunakan cara-cara yang diharamkan seperti: meminum minuman keras, berzina, bermain alat musik yang diharamkan, dll.

Mulianya sifat pemaaf

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Kemudian Allah menyebutkan sifat orang bertakwa pada ayat ini, yaitu sifat suka memaafkan kesalahan orang-orang yang berbuat salah. Di dalam banyak ayat Allah memerintahkan untuk memaafkan dan mengampuni orang-orang yang telah berbuat kesalahan, di antaranya adalah firman Allah ta’ala:

وَأَنْ تَعْفُوا أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى

Dan kalian memaafkan itu lebih dekat kepada ketakwaan.” (QS Al-Baqarah: 237)

Allah subhanallahu wa ta’ala juga berfirman:

وَلَا يَأْتَلِ أُوْلُوا الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُوْلِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kalian bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak ingin jika Allah mengampuni kalian? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22)

Di dalam riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Tidaklah sedekah mengurangi harta. Dan tidaklah Allah menambahkan kepada hamba karena dia memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang bersikap rendah hati kecuali Allah akan mengangkatnya.”24

Dengan membaca dalil di atas, kita bisa memahami bahwa orang yang memaafkan bukanlah orang yang merendahkan dirinya, tetapi justru dia telah mengangkat dirinya dengan pertolongan dari Allah ta’ala.

Allah subhanallahu wa ta’ala berfirman:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Allah subhanallahu wa ta’ala mengabarkan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan dan kebajikan. Oleh karena itu, jika kita memiliki kesempatan dan kemampuan untuk berbuat baik maka janganlah ditunda, karena kesempatan tersebut belum tentu didapatkan dan belum tentu berulang.

Imam Al-Qurthubi25 rahimahullah menyebutkan sebuah syair yang dilantunkan oleh Abul-Abbas Al-Jummani:

لَيْسَ فِي كُلِّ سَاعَةٍ وَأوَانِ تَتَهَيَّأُ صَنَائِعَ اْلإحْسَانِ

وَإذَا أَمْكَنْتَ فَبَادِرْ إِلَيْهَا حَذْرًا مِنْ تَعَذُّرِ الإمْكَانِ

Tidak di setiap jam dan waktu

Engkau bisa berbuat berbagai macam kebaikan

Apabila engkau memiliki kemampuan, maka bersegeralah melakukannya

Hindarilah mencari uzur di saat mampu

Demikian penjabaran ayat pertama dan kedua dari pembahasan yang sedang kita bahas ini. Insyaallah tulisan ini bersambung ke bagian yang kedua. Pada bagian yang kedua insyaallah akan dibahas beberapa permasalahan, seperti:

  • Apa sebab turunnya ayat yang ketiga?
  • Mungkinkah orang yang bertakwa melakukan perbuatan dosa dan dia tetap dikatakan bertakwa?
  • Apa perbedaan arti Faahisyah dan Zalim terhadap diri sendiri
  • Jika dosa dilakukan terus-menerus bagaimana hukumnya?
  • Apakah disyariatkan shalat taubat setelah melakukan perbuatan dosa?

Mudahan dimudahkan oleh Allah dan kita dimudahkan untuk selalu mengerjakan amalan-amalan shalih dan selalu menjadi orang yang mudah memaafkan orang-orang yang telah berbuat salah. Allahu a’lam. Billahittaufiq.

(Bersambung)

1 Aisar At-Tafaasiir hal. 206-208.

2 Tafsiir Al-Baghawi II/104.

3 Tafsiir Al-Qurthubi IV/203.

4 Tafsiir Al-Baghawi II/104.

5 HR Al-Bukhari no. 2790.

6 HR Ahmad no. 8398, Abu Dawud no. 4746 dan An-Nasai no. 3763. Syaikh Al-Albani menyatakan, “Hasan.” dalam Misykaatul-Mashaabiih no. 5696.

7 Tafsiir Al-Baghawi II/104.

8 Tafsiir Ibni Katsiir II/19.

9 HR Al-Bukhari no. 1419.

10 HR Al-Bukhari no. 1417.

11 Lihat penjelasan hadits ini di dalam An-Nihayah Fi Ghariibil-Hadiits Wal-Atsar hal. 234 (Bab Haa’ dan Miim) dan Fathul-Bari Libni Hajar (III/23). Darul-Ma’rifah.

12 Satu mudd sama dengan ukuran takaran dengan menggabungkan kedua telapak tangan dan memenuhi makanan/sesuatu yang ingin diukur dengannya. Ukuran tangan yang dimaksud adalah ukuran tangan orang Arab yang sedang di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

13 Maksudnya, yang dulu mereka bersedekah seperti itu pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekarang mereka menjadi orang kaya, yang jika bersedekah maka mereka bersedekah dengan harta yang sangat banyak.

14 HR Al-Bukhari no. 1416.

15 Tafsiir Al-Qurthubi IV/207.

16 Tafsiir Al-Baghawi II/105.وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (134) وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ (135) أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ (136)

“(133) Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan menuju surga yang luasnya seluas

17 HR Ahmad no. 15637, At-Tirmidzi no. 2021, Abu Dawud no. 4779 dan Ibnu Majah no. 4186 dari Sahl bin Mu’adz dari bapaknya. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syakh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 176 dan juga Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dkk. dalam catatan Al-Musnad.

18 HR Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir no. 1762. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih lighairi dalam Shahiih At-Targhiib Wat-Tarhiib no. 2749.

19 HR Ahmad no. 6114. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dkk.

20 HR Ahmad no. 23115. Hadits ini dinyatakan shahih lighairihi oleh Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dkk.

21 HR Ahmad no. 21348 dan Abu Dawud no. 4784. Syaikh Al-Albani melemahkan hadits ini di dalam Adh-Dha’ifah no. 6664 dan beliau mengatakan, “Dulu saya berpendapat bahwa hadits ini shahih berdasarkan apa yang zahir dari isnad Ahmad, begitu pula mengikuti orang-orang yang menguatkannya dari kalangan salaf. Sekarang telah jelas cacatnya. Saya meralat pen-shahiih-an tersebut. Mungkin ini membuat heran sebagian orang dan mungkin membuat marah yang lain, tetapi ini tidak penting bagiku, begitu pula yang itu. Yang paling penting adalah mengharapkan ridha Rabb.”

22 HR Ahmad no. 17985 dan Abu Dawud no. 4786. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dkk. menyatakan bahwa hadits ini dha’if, begitu pula Syaikh Al-Albani menyatakan kelemahannya di dalam Adh-Dha’ifah no. 582.

23 HR Al-Bukhari no. 3282 dan Muslim no. 2610/6646.

24 HR Muslim no. 2588/6592.

25 Tafsiir Al-Qurthubi IV/209.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.