Pondok Pesantren Darul Qur'an Wal-Hadits Martapura OKU

Bercanda Menurut Agama Islam

BERCANDA

 

Bercanda Menurut Agama Islam

 

Bercanda atau bersendau gurau merupakan salah satu bumbu dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat saat ini khususnya dikalangan anak muda atau remaja. Bercanda mungkin diperlukan untuk menghilangkan kejenuhan dan menciptakan keakraban namun dalam bercanda tentu ada batasan-batasannya di dalam Islam

Baginda Kita Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  Juga Bercanda

Sebagai manusia biasa, kadang kala beliau juga bercanda. Beliau sering mengajak istri, dan para shahabtnya bercanda dan bersebda gurau, untuk mengambil hati dan bergembira. Namun canda beliau tidak berlebih-lebihan, tetap ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya tersenyum. Begitu pula dalam keadaan bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar.

                Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  :

“Wahai, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ! Apakah engkau bersenda gurau bersama kami?”

Rasulluah Shallallahu Alaihi Wasallam    menjawab :

إني لأمزح، ولا أقول إلا حقا

“Betul, hanya saja aku selalu berkata benar”. (Shahih, HR. Thabrani dalam As-Shaghir (2/59))

Beberapa Contoh Canda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam

  1. Anas menceritakan salah satu bentuk canda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam . Dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  pernah memanggilnya dengan sebutan :

يا ذا الأذنين، يعني يمازحه

“Wahai, pemilik dua telinga”? Maksudnya nabi bercanda kepadanya. (Shahih, Tirmidzi dalam sunannya (no. 1992))

 

  1. Anas mengisahkan, Ummu Sulaiman memiliki seorang putera yang bernama Abu Umair. Rasulullah  Shallallahu Alaihi Wasallam  sering bercanda denganya setiap kali beliau datang. Pada suatu hari beliau datang mengunjunginya untuk bercanda, namun tampaknya anak itu sedang sedih. Mereka berkata : ”Wahai, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  ! Burung yang biasa di ajaknya bermain sudah mati”. Lantas Rasuluulah Shallallahu Alaihi Wasallam     bercanda dengannya, beliau berkata :

يا أبا عمير فا فعل النغير

“Wahai Abu Umair, apakah gerangan yang sedang di kerjakan oleh burung kecil itu”. (Shahih, Bukhari dan Muslim)

 

  1. Anas bin Malik beercerita, ada seorang pria dusun bernama Zahir bin Haram. Rasullulah Shallallahu Alaihi Wasallam  sangat menyukainya. Hanya saja tampang pria ini jelek.

Pada suatu hari, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  menemuinya ketika ia sedang menjual barang dagangan. Tiba-tiba memeluknya dari belakang, sehinga ia tidak dapat melihat beliau. Zahir bin Haram berseru : “Lepaskan aku! Siapakah ini”?

Setelah menoleh iapun mengetahui, ternyata yang memeluknya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  . Maka ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk merapatkan punggungnya ke dada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam    lantas berkata : “Siapah yang sudi membeli hamba sahaya ini”?

Dia menyahut,”Demi Allah Subhanahu Wata’ala, wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam . Jika demikian aku tidak akan laku di jual!”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam  membalas :” justru di sisi Allah Subhanahu Wata’ala engkau sangat mahal harganya!” (shahih, HR Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir)

  1. Diriwayatkan oleh Anas, bahwasannya seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan berkata :”Wahai Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, bawalah aku?” Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berkata :” Kami akan membawamu di atas anak onta.” Laki-laki itu berkata:”Apa yang bisa aku lakukan dengan anak onta?” Maka beliau berkata :

 

لأحملنك على ولد الناقة

 

”Bukankah onta yang melahirkan anak onta?” (Shahih, HR. Abu Dawud (4998))

Canda yang di Bolehkan

Ada kalanya kita mengalami kelesuan dan ketegangan setelah menjalani kesibukan. Atau muncul rasa jenuh dengan berbagai rutinitas dan kesibukan sehari-hari. Dalam kondisi seperti ini, kita membutuhkan penyegaran dan bercanda. Kadang kala kita bercanda dengan keluarga dan sahabat. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat manusiawi dan di bolehkan. Begitu pula Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga melakukannya. Jika kita ingin melakukannya, maka harus memperhatikan beberapa hal yang openting dalam bercanda.

  1. Meluruskan tujuan

Yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta menyegarka suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh gairah baru dalam melakukan hal yang bermanfaat.

  1. Jangan melewati batas

orang sering kebablasan dalam bercanda hingga melanggar norma-norma. Dia mempunyai maksud buruk dalam bercanda, sehingga bisa menjatuhkan wibawa dan martabatnya di hadapan manusia. Orang-orang akan memandangnya rendah, karena ia telah menjatuhkan martabatnya sendiri dan tidak menjaga wibawanya.

  1. Jangan bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda

Terkadanhg ada orang yang beecanda dengan orang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu akan menimbulkan akibat yang buruk. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

  1. Jangan bercanda dalam perkara-perkara yang serius

Ada bebrapa kondisi yang tidak sepatutnya bagi kita yang untuk bercanda. Misalnya dalam majelis penguasa, majelis hakim, ketika memberikan persaksian, dan lain sebaginya.

  1. Hindari perkara-perkara yang di larang Allah saaat bercanda

Tidak boleh bercanda atau bersenda gurau  dengan perkara yang Allah larang, di antaranya sebagai berikut.

  1. Menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda.

Ada orang yang bercanda dengan memakai sesuatu untuk menakuti-nakuti temannya. Misalnya, seperti memakai topeng yang menakutkan pada wajahnya, berteriak dalam kegelapan, atau menyembunyikan barang temannya, atau yang sejenisnya. Perbuatan seprti in tidak di bolehkan. Rasulullah bersabda  :

لا يحل لمسلم أن يروع مسلما

Tidak halal bagi seorang muslim untuk membuat takut  muslim lainnya. (Shahih, HR Ahmad, dll)

  1. Berdusta saat bercanda

Banyak orang yang dengan sesuka hatinya bercanda, tak segan berdusta dengan alasan bercanda. Padahal berdusta dalam bercanda tidak di bolehkan, Rasulullah bersabda : Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tidak berkata kecuali yang benar. (Shahih, HR. Thabrani dalam As-Shaghir (2/59))

  1. Hindari bercanda dengan aksi dan kata-kata yang buruk

Banyak orang yang tidak menyukai bercanda seperti ini. Dan seringkali berkembang menjadi pertengkaran dan perkelahian. Sering kita dengar kasus perkelahian yang terjadi berawal dengan bercanda.

REFERENSI:

DI RINGKAS DARI : MAJALAH AS SUNNAH MAJELIS GELAK TAWA  EDISI 09 1428 H

DI RINGKAS KEMBALI OLEH : MUHAMMAD IQBAL { PEGAWAI DQH)

Baca Juga Artikel:

Sihir Dan Cara Pengobatannya Menurut Islam

Perang Badar Awal Kemenangan

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.