Antara Hari `Ied Dan Hari Kiamat

Hari raya selalu berulang kedatangannya. Entah, apakah hari raya sekarang lebih membekas dalam ketaatan kita, atau sama saja dengan tahun-tahun lalu. Tapi yang jelas, hari raya selalu diperingati kaum muslimin tiap tahunnya, baik oleh yang taat, maupun yang suka maksiat.

Sebenarnya, banyak pelajaran yang bisa dipetik, sehingga seorang muslim akan senantiasa bisa ingat kepada Alloh. Namun, perayaan ini seolah sudah menjadi rutinitas belaka. Hal-hal yang tadinya menjadi pantangan di bulan puasa, seolah dengan datangnya Ied menandakan bahwa segala pantangan telah usai. Segala larangan sudah kedaluarsa. Karena hari bersenang dan bergembira ria sudah tiba. Tenggelamnya matahari puasa, seolah menandakan bahwa amal ketaatan pun juga turut tenggelam. Amal kebajikan sudah tamat riwayatnya.

Namun mereka lalai, mereka pun akan tamat pula riwayatnya di dunia, cepat ataupun lambat. Maka wahai orang yang telah melalui Romadhon dengan baik, janganlah berubah dari kebaikan yang telah engkau pupuk di bulan Romadhon! Karena Dzat yang memiliki Romadhon, Dia pula yang memiliki bulan-bulan lainnya. Engkau bukanlah penyembah Romadhon. Romadhon pastilah berlalu. Tapi Engkau hanya menyembah Alloh Sang pemilik bulan penuh berkah ini dan juga bulan lainnya. Dialah Dzat yang Maha Hidup, dan tak pernah mati. Maka sembahlah Dia semata. Bawalah semangat Romadhon untuk mengarungi bulan-bulan selanjutnya.

Lalu bagaimana dengan orang yang menyia-nyiakan Romadhon. Apakah itu berarti ia harus larut dalam kelengahannya?! Tentunya tidak demikian. Saatnya untuk memperbaiki diri kembali. Biarlah yang lalu berlalu. Songsonglah hari ini dengan penuh ketaatan, dengan membawa semangat perbaikan untuk bekal berjumpa dengan-Nya kelak di akhirat.

Hari raya bukanlah dengan mengenakan pakaian baru yang membuat jiwa menjadi sombong. Bukan pula dengan bersuka ria rakus menyantap hidangan. Namun hari raya adalah dengan mengenakan pakaian taubat dan taat.

Orang yang berbahagia di hari raya adalah yang bertakwa kepada Alloh dan beramal sholih. Hari raya adalah bagi orang yang amalnya diterima Alloh; yang beruntung karena dibebaskan dari api neraka dan memperoleh surga. Maka orang yang bahagia di hari raya bukanlah orang yang telanjang dari pakaian takwa, menyia-nyiakan sholatnya, dan lalai dari mengingat-Nya serta larut dalam lembah kemaksiatan terhadap-Nya.

Hari raya bukanlah dengan mengenakan pakaian baru. Hari raya adalah hanya bagi yang ketaatannya bertambah selalu. Hari raya hanyalah bagi orang yang bertakwa dan takut akan hari di mana ancaman telah menunggu. Hasan Al-Bashri berkata: “Setiap hari di mana tak ada maksiat kepada Alloh, itulah sejatinya hari raya. Setiap hari yang dilalui seorang mukmin dengan ketaatan kepada Robb Penguasanya, dipenuhi dengan dzikir dan syukur kepada-Nya, maka itu menjadi hari raya baginya.”

Cobalah untuk melihat keadaan sekeliling di hari raya. Akan tampak beragam keadaan manusia ketika itu. Ada yang tampak berseri-seri, penuh pancaran cahaya kebahagiaan, namun ada pula yang suram dan bermuram durja. Begitu pula nanti dengan keadaan pada hari kiamat kelak. Karena ada kemiripan antara dua gambaran ini, seperti yang dikatakan oleh Ibnu Jauzi. Ketika tiba hari raya, orang-orang bangun dari tidurnya. Mereka lalu keluar menuju tempat Id mereka, seperti keluarnya manusia yang telah mati dari kubur mereka menuju tempat kebangkitan mereka. Di hari raya, ada di antara mereka yang berhias dan berkendara dengan penuh indahnya. Ada lagi yang pertengahan keadaannya. Namun ada juga yang hina, tersisihkan. Nah, demikian pula dengan keadaan manusia kelak di hari kiamat.

Alloh berfirman: “(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perutusan yang terhormat (dengan berkendara), dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (QS. Maryam : 85-86). Rosululloh bersabda: “Mereka dibangkitkan dengan berkendara dan berjalan dan juga ada yang merangkak dengan wajah mereka.” (Ahmad, Turmudzi dengan mengatakan hasan, namun dinilai dho`if oleh Syaikh Albani)

Ada juga orang yang terinjak-injak saat berdesakan di hari raya. Demikian pula para manusia yang zalim diinjak-injak oleh orang-orang pada hari kiamat.

Tampak pula orang-orang yang suka bersedekah pada hari raya. Di hari kiamat, orang yang gemar melakukan kebaikan di dunia mereka mendapatkan kebaikan di akhirat kelak.

Ada juga orang miskin yang meminta-minta; mengharap pemberian. Demikian pula pada hari pembalasan: “Aku persiapkan syafaatku untuk orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar.” (Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah)

Ada lagi orang yang tidak mendapat belas kasih sama sekali. “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafa’at seorangpun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab.” (QS. Asy-Syu’ara: 100-101). Dan merekalah orang yang sama sekali tak dibelas kasihi, karena mereka mati dalam kekufuran.

Dan akhirnya, masing-masing peserta hari Id, menerima balasan yang setimpal, sesuai dengan amal yang diusahakannya. Demikian juga di akhirat. Akan dikumandangkan: si fulan bahagia, tak akan pernah sengsara setelahnya. Namun bila timbangan amalnya ringan, akan diumumkan: si fulan celaka, di mana tak akan bahagia setelahnya selamanya.

Mereka itulah orang-orang yang didekatkan kepada Alloh.” (QS. Al-Waqi’ah [56]: 11). Kemudian muncullah keputusan untuk mereka: “dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan).” (QS. Al-Insan [76]:22). Semoga hari raya ini menjadi media kita menuai bahagia kelak di hari kiamat. Amin.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 02 Tahun 02

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.