ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL

LOGO TARBIYAH

ANAK DAN PENDIDIKAN SEKSUAL

Dorongan seksual diciptakan Allah ta’ala pada jiwa manusia sebagai sebab kelangsungan hidup dan agar bisa meneruskan keturunan.

Dorongan seksual adalah fitrah, maka jangan sikapi dengan negatif! Kadang perlu kita bercerita dari hati ke hati dengan anak, tentang dorongan yang mereka rasakan terhadap lawan jenis dengan mendampingi dan memberikan pengarahan kepada mereka. Selanjutnya, jaga agar dorongan seksual anak bisa berjalan normal tanpa ada pembangkit dari luar yang bisa menyebabkan penyimpangan perilaku.

Ajarkan Kepada Anak Adab Meminta Izin

Ajarkanlah anak adab meminta izin, baik ketika ingin masuk ke kamar orang tuanya, kamar saudaranya apalagi rumah orang lain. Memulainya dengan salam lalu meminta izin. Jelaskan kepada mereka bahwa ucapan salam berbeda dengan isti’dzan(meminta izin).

يآءَيُّهَا الَّذِينَ ءامَنُوا لاَ تَدخُلُوا بُيُوتًا غَيرَ بُيُوتِكُم حَتَّى تَستَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذاَلِكُم خَيْرٌ لَّكُم لَعَلِّكُم تَذَكَّرُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu agar kamu (selalu) ingat.” (Q.S. An-Nuur: 27)

Berkaitan dengan meminta izin, Islam membagi usia anak beberapa fase:

  1. Fase dimana anak harus meminta izin pada waktu-waktu tertentu, yaitu diwaktu sebelum subuh, ketika istirahat siang dan setelah isya’.

Ini diberlakukan bagi anak sebelum menginjak mumayyiz (sebelum baligh).

Sebab, pada tiga waktu tersebut biasanya aurat sering terbuka. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat An-Nuur ayat 58.

Oleh sebab itu, Allah ta’ala melarang anak-anak di bawah umur untuk masuk ke kamar tidur orang dewasa tanpa izin pada ketiga waktu ini.

  1. Fase usia di mana anak harus meminta izin secara mutlak ketika hendak masuk menemui orang dewasa.

Ini diberlakukan ketika anak menginjak usia baligh.

وَإِذَا بَلَغَ الأَطْفَالُ مِنكُمُ الحُلُمَ فَلْيَسْتَئْذِنُوا كَمَا اسْتَئْذَنَ الذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَالِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَتِهِ.

وَاللهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ.

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S. An-Nuur: 59)

 

Diantara adaab isti’dzan (meminta izin) yang perlu kita ajarkan kepada anak adalah:

  1. Memilih waktu yang tepat. Tidak pada tiga waktu yang terlarang tersebut, kecuali bila ada kepentingan yang sangat mendesak.
  2. Mengetuk pintu sebanyak tiga kali.

إذا استأذن أحدكم ثلاثا فلم يؤذن له فليرجع

“Jika salah seorang dari kamu meminta izin tiga kali lalu tidak diizinkan hendaknya ia kembali (berpaling).” (muttafaqun ‘alaihi)

  1. Mengetuk pintu dengan perlahan

Pernah seorang wanita mendatangi Imam Ahmad dan mengetuk pintu dengan keras, maka Imam Ahmad berkata, “ini adalah ketukan pintu ala aparat keamanan.”

  1. Memberi jarak waktu antara satu ketuka dengan ketukan berikutnya.
  2. Tidak menghadap ke pintu

Yaitu mengambil posisi berdiri di sisi kanan atau kiri pintu.

كان رسول الله، إذا أتى باب قومٍ لم يستقبل الباب من تلقاء وجهه ولكن من ركنه الأيمن أو الأيسر ويقول :

 (السلام عليكم السلام عليكم) وذلك أن الدور لم يكن عليها يومئذٍ ستورٌ.

“Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya ke arah pintu. Akan tetapi beliau berdiri di sisi kanan atau sisi kiri pintu seraya mengucapkan: ‘Assalamu’alaikum, Assalamu’alaikum.”

Hal ini disebabkan pada waktu itu rumah-rumah belum dilangkapi tirai-tirai.” (H.R. Imam Ahmad IV/189)

  1. Mengucapkan salam dahulu sebelum meminta izin untuk masuk

لاتأذنوا لمن يبدأ بالسلام

“Janganlah kamu mengizinkan masuk orang yang tidak mengucapkan salam.”

(H.R. Abu Nu’aim dalal tarikh ashbahan I/357 dan dishahihkan Al-Albani dalam silsilah ash-shahihah 817

  1. Memperkenalkan identitas

Rasulullah pernah didatangi Jabir, Iapun mengetuk pintu. Beliau bertanya, “Siapa?” Jabir menjawab, “Saya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalamberkata, ‘saya.. saya..’ seakan beliau membencinya” (Muttafaqun ‘alaihi).

 

Karena jawaban ‘saya’ tidak menunjukkan identitas diri.

 

  1. Menundukkan pandangan ketika masuk

Yaitu jangan liar memandangi pemandangan isi rumah. Adab seperti ini harus ditekan kepada anak semenjak dini.

إنما جعل الاستئذان من أجل البصر

“Sesungguhnya meminta izin itu diberlakukan untuk menjaga pandangan” (Muttafaqun ‘alaihi).

 

  1. Dilarang mengintip ke dalam kamar ataupun rumah orang lain.

Ajarkan bahwa haram hukumnya mengintip ke dalam rumah ataupu kamar orang lain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalambersabda:

لو أنّ امرأً اطلع عليك بغير إذنٍ فخذفته بحصاةٍ ففقأت عينه ما كان عليك من جناحٍ

 “Sekiranya ada seseorang yang mengintip rumahmu tanpa izin lalu engkau melemparnya dengan batu hingga tercungkil matanya maka tiada dosa atasmu.” (Muttafaqun ‘alaihi).

 

Biasakan Anak Untuk Menundukkan Pandangan Dan Menjaga Aurat

Terangkan kepada anak bahwasannya pandangan mata terhadap lawan jenis bisa menjadi panah-panah syetan yang akan merusak hati.

Jagalah pandangan anak dari hal-hal yang tidak senonoh hingga naluri seksualnya tidak keburu matang secara tidak sehat. Apalagi dizaman sekarang ini yang begitu merebaknya dan menjalarnya dimana-mana layar-layar atau tampilan gambar-gambar menampakkan aurat yang tidaklah pantas untuk dilihat, terkhusus kepada anak.

Allah ta’ala berfirman.

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah ta’ala Maha Mengetahui apa yang kamu perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya….” (Q.S. An-Nuur: 30-31)

Biasakan Anak Menjaga Aurat

Sedari dini mungkin orang tua mengajarkan dengan cara membiasakan anak untuk berpakaian yang menutup aurat. Seperti laki-laki dilatih berpakaian menutup aurat dari pusar hingga lutut kaki. Biasakan pula untuk berpakaian yang rapi dan sopan.

Demikian juga untuk perempuan, dilatih berpakaian menutup aurat dengan menutupi seluruh tubuhnya, seperti membiasakan berpakaian jubah dan jilbab lebar.

Hal ini sebagaimana firman Allah ta’aladalam Al-Qur’an surat An-Nuur:31 dan surat Al-Ahzab: 59.

Pisahkan Tempat Tidur Anak Dengan Saudaranya

Pisahkan tempat tidur anak saat mereka berumur sepuluh tahun. Sebab pada usia ini mereka mulai menginjak masa pubertas. Laranglah mereka tidur pada satu ranjang apalagi di dalam satu selimut, sebab hal ini dapat menyebabkan naluri seksual anak tumbuh dengan cepat hingga menimbulkan berbagai indikasi penyimpangan seksual.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalambersabda:

“Perintahkanlah anak-anakmu shalat sejak usia tujuh tahun. Dan pukullah (jika meninggalkan shalat) pada usia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka (anak laki-laki dan perempuan).”

(H.R. Abu Daud dan dishahihkan Al-Albani 466, 467 dan 509).

Jauhkanlah anak dari ikhtilath yaitu bercampur baunya laki-laki dan perempuan.

Ketika di dalam rumah bersama saudaranya yaitu dipisahkan tempat tidur, dan ketika diluar rumah dipisahkan bermain atau bergaulnya anak antara laki-laki dan perempuan.

Terlalu banyak bahaya yang disebabkan ikhtilath ini. Betapa pilu hati mendengar anak usia sekolah dasar melakukan perbuatan mesum dengan kawan mainnya yang berbeda jenis kelaminnya. Atau mereka pergi ke sebuah warnet, atau zaman sekarang yang canggih dengan smartphone mereka menonton bareng menikmati video-video tak senonoh. Wallahul musta’an.

Hakikat Mahram

Termasuk pelajaran yang perlu disampaikan kepada anak adalah tentang hakikat mahram.

Mahram adalah kerabat yang haram untuk dinikahi selamanya.

Jelaskan dan perkenalkanlah kepada mereka siapa saja yang menjadi mahram bagi mereka. Dan jelaskan juga hukum-hukum dan larangan-larangan yang berkaitan dengan mahram. Serta hukum-hukum yang berkaitan dengan yang bukan mahram. Seperti menyentuh atau berduaan dengan yang bukan mahram, sehinnga sedari dini telah tertanam dalam benaknya akan urgensi dan besarnya bahaya yang timbul akibat mengabaikannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda:

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya. Dan janganlah seorang wanita bersafar (berpergian) kecuali bersama mahramnya.” (muttafaqun ‘alaihi).

Terangkan juga kepada anak akan bahayanyan zina yang telah merebaknya di zaman sekarang ini.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam :

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah menetapkan atas setiap bani adam bagiannya dari zina yang tidak bisa tidak, mesti dia dapatkan : zina mata adalah melihat, zina lisan adalah berbicara, zina hati adalah berangan dan tertarik, dan kemaluan yang mengikuti dan membenarkan hal itu atau berpaling mendustakannya.” (muttafaqun ‘alaihi).

 

Sumber: “Mencetak Generasi Rabbani” oleh Ummu Ihsan dan Abu Ihsan, halaman 181 – 194. Penerbit Pustaka Darul Ilmi

 

Diringkas oleh: Harits Setiawan (Pengajar Ponpes Darul-Qur’an OKU Timur)

baca artikel sebelumnya: Beramal Tiada Henti Sampai Mati

juga artikel selanjutnya: Penjagaan Islam Terhadap Wanita

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.