Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar

amar ma'ruf nahi munkar

Sesungguhnya keamanan umat dari kebinasaan, pemeliharaan masyarakat dari kehancuran, dan tali pelana keselamatan bagi umat di tempatkan di dalam perkara besar, jika umat ini tetap berpegang teguh dengannya. Ketahuilah, ia adalah amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Benar, tidaklah anda mengetahui bahwa Rasulullah shallallahualaihi wa sallam menyerupakan masyarakat dengan sebuah kapal? Jika di dalamnya amar ma’ruf dan nahi mungkar sudah di tinggalkan, niscaya ia akan tenggelam dan binasalah orang yang ada didalamnya. Jika tangan orang yang bodoh dicegah (dari berbuat- kerusakan) niscaya mereka semua akan selamat.

Nabi muhammad shallallahualaihi wa sallam bersabda :

” مَثَلُ المُدْهِنِ فِي حُدُودِ اللَّهِ، وَالوَاقِعِ فِيهَا، مَثَلُ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا سَفِينَةً، فَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَسْفَلِهَا وَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَعْلاَهَا، فَكَانَ الَّذِي فِي أَسْفَلِهَا يَمُرُّونَ بِالْمَاءِ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلاَهَا، فَتَأَذَّوْا بِهِ، فَأَخَذَ فَأْسًا فَجَعَلَ يَنْقُرُ أَسْفَلَ السَّفِينَةِ، فَأَتَوْهُ فَقَالُوا: مَا لَكَ، قَالَ: تَأَذَّيْتُمْ بِي وَلاَ بُدَّ لِي مِنَ المَاءِ، فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَنْجَوْهُ وَنَجَّوْا أَنْفُسَهُمْ، وَإِنْ تَرَكُوهُ أَهْلَكُوهُ وَأَهْلَكُوا أَنْفُسَهُمْ “

Artinya: “Perumpamaan orang yang melaksanakan hukum-hukum Allah dan orang yang terjerumus didalamnya seperti suatu kaum yang melakukan undian dalam sebuah kapal. Maka sebagiannya ada di bagian atas dan yang lain di bagian bawah. Orang-orang yang berada di bawah, apabila mengambil air, melewati orang-orang yang ada di atas. Mereka berkata, ‘jika kita membuat satu lubang pada bagian kita dan kita tidak mengganggu orang yang berada di atas kita. ‘jika mereka (orang-orang yang di atas) membiarkan orang-orang yang di bawah melakukan apa yang mereka kehendaki, niscaya semuanya binasa. Dan jika mereka (orang-orang yang di atas) memegang tangan mereka (menghalangi mereka melakukan kerusakan), niscaya mereka semua akan selamat. “ (HR. AL-BUKHARI).

Di dalam hadits yang agung ini terdapat petunjuk bahwa yang melakukan perbuatan maksiat-maksiat, atau meremehkan amalan keta’atan, sesugguhnya dia tidak boleh (di biarkan) bebas dalam tindakkannya itu, akan tetapi ia wajib di halangi (dari melakukan dosa atau meninggalkan ibadah).

Di dalam sebuah hadits, dari Abu Bakar Radiyallahu’anhu, ia berkata :

(105)يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini, ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberikan mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapatkan petunjuk.’ (AL-MA’IDAH: 105 )

Dalam hadits Nabi disebutkan: Rasulullah Shallallahualaihi wa sallam bersabda,

«لَا يَتْرُكُ قَوْمٌ الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنِ الْمُنْكَرِ إِلَّا عُمَّ الْقَوْمُ بِعِقَابٍ»

Artinya:
“Apabila manusia melihat orang yang zholim, lalu mereka tidak memegang tangannya (tidak menghalanginya berbuat zholim, pent.), hampir-hampir Allah meratakan siksa-Nya kepada mereka ‘.” HR.ABU DAWUD, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i dengan isnad-isnad yang shahih.

Sesungguhnya umat islam mendapatkan kemuliaan dan kebaikan atas umat-umat terdahulu hanyalah dengan sebab perkara yang agung ini, yaitu amar ma’ruf dan nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman,

 كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ

(110)  وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya:
“Kamu adalah umat terbaik yang di lahirkan untuk manusia, menyuruh kepada ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali Imran: 110)

Maka siapa yang sifat ini terwujud pada dirinya, berarti dia adalah umat yang terbaik.
Orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil mendapatkan laknat dikarenakan mereka meninggalkan nahi mungkar. Allah ta’ala berfirman,

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَى لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (78) كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

Artinya:
“Telah di laknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat itu.” (Al-Ma’idah: 78-79).

Dan sesungguhnya meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah penyebab turunnya di azab dan di tolaknya do’a. Dari Hudzaifah Radiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, beliau bersabda,

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ، ثُمَّ لَتَدْعُوُنَّهُ وَلَا يَسْتَجِيبُ لَكُمْ»

Artinya:
“Demi Dzat yang jiwaku berada ditangannya, kalian benar-benar melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, atau tiba saatnya Allah mengirim azab dari-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, maka tidak di kabulkan doa kalian.” (HR. At-Tirmidzi dan ia berkata,” Hadits hasan)

Akan tetapi di sini ada satu masalah yang ingin saya paparkan, yaitu bahwa sebagian orang meyakini atau mengira bahwa ma’ruf dan nahi mungkar hanya tugas orang-orang yang berpegang teguh terhadap agama dan orang-orang baik. Adapun manusia pelaku sebagian dosa dan kesalahan, maka dia tidak pantas melakukan amar ma,ruf dan nahi mungkar. Ini adalah sangkaan yang keliru, karena melakukan salah satu dari perbuatan maksiat bukan merupakan alasan dan tidak pula mengharuskan meniggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar.
Siapakah yang tidak pernah sama sekali melakukan kesalahan dan siapakah yang hanya melakukan kebaikan.
Sebagaimana Anda wajib meninggalkan maksiat dan berlepas diri darinya, maka disaat yang sama Anda di tuntut melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar.

Jika orang-orang tidak menasihati orang yang berbuat dosa. Maka siapakah yang akan memberikan nasihat kepada orang-orang yang berdosa setelah muhammad?!

Bahkan wajib bagi pelaku maksiat –seperti yang lainnya untuk memerintahkan (yang ma’ruf) dan melarang (yang mungkar), dengan catatan perkaranya itu dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan benar, tidak terkesan meremehkan dan mengolok-ngolok dengannya.

Dan Allah ta’ala berfirman di dalam surat luqman,

(17)يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Artinya:
“Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegalah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal hal yang di wajibkan (oleh Allah).” (LUQMAN: 17)

Jiks kita tidak mau melaksanakan amar ma’ruf dan nahi mungkar, maka Allah akan menyiksa kia dengan pemimpin yang zhalim dan menindas kita dan tidak mengabulkan segala do’a kita. Hendaklah kamu beramar ma’ruf nahi mungkar, kalau tidak, maka Allah akan menguasakan atasmu orang-orang yang paling jahat di antara kamu, kemudian orang-orang yang baik-baik di antara kamu berdo’a dan tidak di kabulkan (Do’a mereka).

Dari abu sa’id Al khudry radhiyallahuanhu berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

«مَنْ رَأَى أَمْرًا مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»

Artinya:
”Barang siapa diantara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah(mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia mengubahnya dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR.Muslim no.49)

Dalam riwayat lain, “Tidak ada sesudah itu (mengingkari dengan sepenuh hati) keimanan sebesar biji sawi (sedikitpun)”

Syaikhul islam ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya maksud dari hadits ini adalah: Tidak tinggal sesudah batas pengingkaran ini (dengan hati) sesuatu yang dikategorikan sebagai iman sampai seseorang mukmin itu melakukannya, akan tetapi mengingkari dengan hati merupakan batas terkahir dari keimanan, bukanlah maksudnya, bahwa barangsiapa yang tidak mengingkari hal itu dia tidak memiliki keimanan sama sekali, oleh karena itu Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada sesudah itu”, maka beliau menjadikan orang-orang yang beriman tiga tingkatan, masing-masing diantara mereka telah melakukan keimana yang wajib atasnya, akan tetapi yang pertama (mengingkari dengan tangan) tatkala ia yang lebih mampu diantara mereka maka yang wajib atasnya lebih sempurna dari apa yang atas kedua (mengingkari dengan lisan), dan apa yang wajib atas yang kedua lebih sempurna dari apa yang wajib atas yang terakhir, maka dengan demikian di ketahui bahwa manusia bertingkat-tingkat dalam keimanan yang wajib atas mereka sesuai degan kemampuannya beserta sampainya khitab (perintah) kepada mereka.”(Majmu’ Fatawa, 7/427)

Hadits dan perkataan syaikhul Islam di atas menjelaskan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan karakter seorang yang beriman, dan dalam mengingkari kemungkaran tersebut ada tiga tingkatan:
Mengingkari dengan tangan, Mengingkari dengan lisan, Mengingkari dengan hati.
Tingkatan pertama dan kedua wajib bagi orang yang mampu melakukannya, sebagaimana yang di jelaskan oleh hadits di atas, dalam hal ini seseorang apabila melihat suatu kemungkaran maka ia wajib mengubahnya dengan tangan jika ia mampu melakukannya, seperti seorang penguasa terhadap istri, anak dan keluarganya, dan mengingkari dengan tangan tangan bukan berarti dengan senjata.

Imam Al Marrudzy bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal,

”Bagaimana beramar ma’ruf dan nahi mungkar?”

Beliau menjawab,

“Dengan tangan, lisan dan dengan hati, ini paling ringan,”

saya bertanya lagi:

“Bagaimana dengan tangan?”

Beliau menjawab,

“Memisahkan diantara mereka,”

dan saya melihat beliau melewati anak-anak kecil yang sedang berkelahi, lalu beliau memisahkan di antara mereka. Dalam riwayat lain beliau berkata,”Merubah (mengingkari) dengan tangan bukanlah dengan pedang dan senjata .”(Lihat, Al Adabusy syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/185).

Adapun dengan lisan seperti memberikan nasihat yang merupakan hak diantara sesama muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu sendiri, dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubhat (kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.
Adapun tingkatan terakhir (mengingkari dengan hati) artinya adalah membenci kemungkaran-kemungkaran tersebut, ini adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap individu dalam setiap situasi dan kondisi, oleh karena itu barang siapa yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia akan binasa.
Imam ibnu rajab berkata setelah menyebutkan hadits di atas dan hadits-hadits yang senada dengannya-,

“seluruh hadits ini menjelaskan wajibnya mengingkari kemungkaran sesuai kemampuan, dan sesungguhnya mengingkari dengan hati sesuatu yang harus dilakukan, barang siapa yang tidak mengingkari dengan hatinya, maka ini pertanda hilangnya keimanan dari hatinya.”

Salah seorang berkata kepada Ibnu Mas’ud,

“Binasalah orang yang tidak menyeru kepada kebaikan dan tidak mencegah kepada kemungkaran”, lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Justru binasalah orang yang tidak mengetahui dengan hatinya kebaikan dan tidak mengingkari dengan hatinya kemungkaran.”

(Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf beliau no.37581)

Imam ibnu Rajab mengomentari perkataan Ibnu Mas’ud di atas dan berkata, “Maksud beliau adalah bahwa mengetahui yang ma’ruf dan mungkar dengan hati adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap orang, maka barang siapa yang tidak mengetahuinya maka dia akan binasa, adapun mengingkari dengan lisan dan tangan ini sesuai dengan kekuatan dan kemampuan.” (jami’ul Ulum wal Hikam 2/258-259)

Seseorang yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia adalah orang yang mati dalam keadaan hidup, sebagaimana perkataan Hudzaifah radiyallahu anhu tatkala ditanya, “Apakah kematian orang yang hidup?” Beliau menjawab: “Orang yang mengenal kebaikan dengan hatinya dan tidak mengingkari kemungkaran dengan hatinya.” (Riwayat Ibnu Abi syaibah).

Perkara lain yang juga harus diingatkan adalah kewajiban kita terhadap lembaga amar ma’ruf dan nahi mungkar, yang membedakan negara ini dengan negara lainnya. (Yaitu) lembaga yang bertugas memerintahkan (berbuat) kebaikan, memotivasi manusia untuk melakukannya, memberikan mereka petunjuk kepadanya, memperingatkan mereka terhadap kemungkaran dan melarang mereka (agar tidak) terjerumus kedalamnya. Sesungguhnya kewajiban kita terhadap mereka (anggota lembaga ini) adalah menolong dan membantu mereka, berdiri bersama mereka, mendoakan mereka, memberikan nasihat kepada mereka, dan memperkuat barisan mereka.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya:
“Dan orang orang Mukmin, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat dan mereka ta’at kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan di beri rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. At –Taubah: 71).

Saya memohon kepada Allah ta’ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Sesungguhnya Dia lah yang Menangani semua itu, dan Maha kuasa atasnya. Semoga Allah ta’ala senantiasa mencurahkan shalawat kepada Nabi kita. Muhammad shallallhu alaihi wa sallam , juga kepada seluruh keluarga dan para sahabat beliau.

Dikutip dari buku: AD-DIN AN-NASHIHAH
Penulis: Abdurrahman bin Abdullah as-Sanad
Penulis: Fiqri Hakim Nasution

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*