Alloh Ada Di Mana-Mana?

Sudah begitu menyeruak di tengah masyarakat, keyakinan dan anggapan bahwa Alloh ada di mana-mana. Tidak hanya orang awam saja, namun sebagian kalangan terpelajarpun beranggapan seperti itu. Kita ingin menimbang permasalahan ini menurut persepsi yang diberikan Alloh dan Rosul-Nya, agar kita tidak mengada-ada tentang keyakinan ini. sehingga kitapun mempunyai keyakinan yang dilandasi oleh dalil yang bisa dipertanggungjawabkan. Kita akan nukilkan di sini apa yang dipaparkan berkenaan dengan masalah ini.

Ucapan dan anggapan yang menyatakan Alloh ada di mana-mana, ini jelas-jelas bertentangan dengan Kitab Alloh dan sunnah Nabi-Nya, serta ijma’ dari ulama salaf.

Alloh berfirman: Apakah kamu merasa aman terhadap Alloh yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang? (QS. Al-Mulk: 16)

Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS. Fathir: 10)

Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka (An-Nahl: 50)

Tetapi (yang sebenarnya), Alloh telah mengangkat Isa kepada-Nya. (An-Nisa: 158).

Dan dalam Shohih Bukhori dan Muslim dari hadits Abu Said Al-Khudri, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

أَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

Tidakkah kalian merasa percaya kepadaku, sedangkan aku adalah orang kepercayaan dari Dzat yang ada di langit.[1] Datang kepadaku berita dari langit baik di pagi hari maupun di sore hari.”

Dan dalam Shohih Muslim dari hadits Muawiyah Bin Hakam As-Sulami, bahwa Nabi n bersabda kepada seorang budak wanita: “Di manakah Alloh?” ia menjawab: “Di atas langit.” Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bertanya lagi: “Siapakah aku ini?” Ia menjawab: “Engkau utusan Alloh.” Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Bebaskanlah dia, karena sesungguhnya ia seorang yang beriman.”

Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam juga bersabda:

وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهَا فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِى فِى السَّمَاءِ سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى عَنْهَا

Demi Dzat Yang jiwaku berada di tangan-Nya. Tidaklah seorang lelaki yang memanggil istrinya untuk menuju ke ranjangnya, lalu ia enggan memenuhinya, melainkan Yang ada di atas langit akan murka atasnya hingga suami ridho kepadanya.” (HR. Muslim)

Dan hadits-hadits mengenai perihal ini sangatlah banyak.

Adapun dari ucapan para salaf, maka itu banyak sekali. Berikut sebagian dari ucapan mereka.

Auzai berkata: “Kami dan kaum tabi’in masih banyak. Kami mengatakan: Alloh ‘Azza wa jalla ada di atas arsy-Nya. Dan kami mengimani apa yang diterangkan oleh As-Sunnah berkenaan dengan sifat-sifat-Nya.”

Imam Malik berkata: “Alloh ada di langit; sedangkan ilmunya meliputi segala tempat. Tak ada sesuatupun yang luput dari-Nya.”

Dari Ali Bin Hasan Bin Syaqiq, ia berkata: aku bertanya kepada Abdulloh Bin Mubarok: Bagaimana kita mengenal Robb kita ‘Azza wa jalla? Ia menjawab: “Dia ada di langit ketujuh di atas arsy-Nya. Dan kita tidak mengatakan seperti yang dikatakan kaum Jahmiyyah, bahwa Dia ada di sini, di bumi. Lalu hal ini ditanyakan kepada Imam Ahmad Bin Hanbal, lalu dia berkata: “Demikian pula menurut kami seperti itu.”

Imam Syafi’i berkata: “Ungkapan menurut sunnah yang menjadi landasanku dan aku pun mendapati orang-orang yang aku lihat mereka berpegang padanya; seperti halnya Sufyan, Malik dan yang lainnya adalah: mengikrarkan syahadat la ilaha illalloh wa anna Muhammadar Rosululloh; dan bahwa Alloh di atas arsy-Nya di langit. Dia mendekat pada makhluk-Nya seperti yang Dia kehendaki; dan turun ke langit dunia seperti yang Dia kehendaki…” dan beliau juga menyebutkan keyakinan-keyakinan lainnya.

Imam Ahmad pernah ditanya: “(Apakah) Alloh di atas langit yang tujuh di atas arsy-Nya; terpisah dari makhluk-Nya; sedangkan kekuasaan dan ilmu-Nya ada di segala tempat?” Beliau menjawab: “Ya. Dia ada di atas arsy-Nya; dan tak ada sesuatupun yang lepas dari ilmu-Nya.”

Dari Abdurrohman Bin Abi Hatim, ia berkata: Aku bertanya kepada ayahku dan juga kepada Abu Zur’ah -semoga Alloh merahmati keduanya- tentang madzhab ahlus sunnah dalam perkara dasar-dasar pokok agama, dan apa yang mereka berdua dapatkan dari para ulama di semua penjuru negeri; dan mengenai apa yang mereka berdua yakini dalam hal tersebut. Maka keduanya menjawab: “Kami dapatkan para ulama di semua penjuru negeri, dan madzhab mereka adalah bahwa iman itu ucapan dan perbuatan; bisa bertambah dan berkurang. Dan bahwa Al-Quran adalah kalam Alloh, bukan makhluk dari semua sisinya. Bahwa takdir itu, apakah itu yang baik maupun yang buruk, datangnya dari Alloh. Dan bahwa Alloh di atas arsy-Nya; terpisah dari makhluk-Nya; sebagaimana yang Dia sifatkan terhadap Diri-Nya dalam Kitab-Nya dan seperti yang diungkapkan lisan Rosul-Nya; tanpa mempersoalkan tentang bagaimananya. Dia meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya. Tak ada sesuatupun yang seperti Dia, dan Dia adalah Maha Pendengar lagi Maha Melihat.”

Ibnu Khuzaimah berkata: “Barangsiapa yang tidak mengakui bahwa Alloh di atas arsy-Nya, bersemayam di atas langit yang tujuh; terpisah dari makhluk-Nya, maka berarti ia kafir; harus diminta untuk bertaubat. Kalau dia bertaubat (maka diterima taubatnya), tapi kalau tidak, maka ia harus dipenggal, dan dicampakkan di tempat pembuangan sampah; agar ahli kiblat (kaum muslimin) dan kaum dzimmi tidak terganggu dengan baunya.”

Syaikh Abdul Qadir Al-Jili dalam kitab Al-Ghun-yah berkata: “Dia bersemayam di atas arsy; menguasai kerajaan; ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS. Fathir: 10). Dan tidak boleh digambarkan bahwa Dia ada di setiap tempat. Akan tetapi yang dikatakan adalah: Dia di langit di atas arsy; seperti yang Dia firmankan: (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy (QS. Thoha: 5). Dan sudah semestinya menyebutkan hal itu tanpa takwil (tanpa diselewengkan maknanya). Dan perihal Dia di atas arsy, itu sudah disebutkan di semua kitab yang Alloh turunkan kepada setiap nabi yang diutus, tanpa harus dibahas tata caranya (tidak ditanya tentang bagaimananya).”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Dan dalam hal yang telah kami sebutkan (yaitu terkait iman kepada Alloh) masuk pula ke dalamnya iman kepada apa yang Alloh beritakan dalam Kitab-Nya dan telah mutawatir dari Rosul-Nya serta apa yang telah disepakati para ulama salaf dari umat ini; yaitu bahwa Alloh ada di atas langit-Nya; di atas arsy-Nya; berada tinggi di atas makhluk-Nya. Dan Dia ‘Azza wa jalla bersama mereka di manapun mereka berada. Dia tahu apa yang mereka kerjakan. Seperti halnya yang Alloh himpunkan dalam ayat-Nya: Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ´arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Alloh Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid :4).

Firman Alloh “Dan Dia bersama kalian” bukan berarti Alloh bercampur dan berpadu dengan makhluk-Nya. Ini bertentangan dengan apa yang menjadi ijma’ dari para salaf umat ini; dan menyelisihi fitrah yang telah Alloh tetapkan atas makhluk-Nya. Kalau kita lihat bulan; ia adalah satu pertanda dari sekian banyak pertanda dari Alloh yang ada di langit. Dan bulan ada bersama orang yang bepergian, dan juga bersama orang yang tidak bepergian, di manapun ia berada (dan itu bukan berarti bahwa bulan bercampur dan bersatu padu dengan manusia, meski diungkapkan dengan kalimat ‘bulan ada bersama orang yang bepergian’. Bulan tetap di langit, manusia tetap di tempatnya). Dan Alloh ada di atas arsy-Nya; Maha melihat para makhluk; dan mengawasi mereka; dan makna-makna rububiyyah Alloh lainnya.”

Syaikh Hafizh Hakami berkata: Kita mempersaksikan Alloh, mempersaksikan para pembawa arsy-Nya, semua malaikat, nabi dan Rosul, dan mempersaksikan semua makhluk-Nya, bahwa kita menetapkan bagi Alloh apa yang Alloh tetapkan atas diri-Nya dalam Kitab-Nya dan apa yang Rosul n tetapkan. Dan ahlus sunnah wal jamaah, baik mereka di masa dahulu maupun masa belakangan, sepakat bahwa Alloh ada di atas langit; di atas arsy-Nya; terpisah dari makhluk-Nya. Dan Dia tahu apa yang ada pada makhluk-Nya. Tak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya. Dan bersemayamnya Dia di atas arsy-Nya, itu sepert apa yang Alloh beritakan; sesuai dengan apa yang Alloh maksudkan; yang sesuai dengan keagungan dan kebesaran-Nya. Dan kita tidak memaksakan diri untuk mentakwilkannya, tidak pula untuk membahas tentang bagaimana caranya. Namun yang kita ucapkan adalah: kita beriman kepada Alloh, dan beriman dengan apa yang datang dari Alloh sesuai dengan maksud Alloh. Dan kita beriman kepada Rosululloh; dan beriman dengan apa yang datang dari Rosululloh, sesuai dengan apa yang dimaksudkan Rosululloh. Kita tidak mencari imam selain Al-Quran dan As-Sunnah; dan kita tidak melangkahi keduanya menuju selain keduanya, dan kita tidak melangkahi apa yang datang dari keduanya. Maka kita mengucapkan dengan apa yang diucapkan oleh keduanya, dan kita diam dari apa yang didiamkan oleh keduanya. Kita berjalan sesuai dengan jalan keduanya; di manapun keduanya berjalan; dan kita berhenti bersama keduanya di manapun keduanya berhenti. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Alloh Yang Maha Tinggi.”

Jadi secara ringkas, anggapan bahwa Alloh ada di mana-mana merupakan anggapan yang salah. Bahkan bisa menjadi kesalahan yang fatal bila yang dimaksudka adalah Alloh secara Dzat-Nya. Namun Alloh ada di atas arsy di atas langit-Nya. Meski demikian, ilmu dan pengetahuan Alloh meliputi segala hal. Ilmu-Nya ada di mana-mana. Tak ada sesuatupun yang luput dari ilmu-Nya.

Diambil dari akhtho’ fil Aqidah hal 72-80 dengan penyesuaian.

Sumber: Majalah Lentera Qolbu Edisi 06 Tahun 03

[1] Dzat yang ada di langit, yaitu Alloh yang ada di atas arsy di atas langit, sebagaimana telah shohih hadits-hadits tentang hal itu. (dari Fathul Bari)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*