AKHLAK YANG BAIK DAN PENTINGNYA HAL ITU BAGI PARA PENUNTUT ILMU

Banyak manusia yang memiliki pemahaman bahwa akhlak yang baik hanyalah terjadi(ada) dalam pergaulan (mu’amalah) dengan sesama makhluk,bukan mu’amalah dengan khaliq (Allah). Akan tetapi ini adalah pemahaman yang pendek (kerdil) karena akhlak yang baik sebagaimana ada dalam mu’amalah dengan makhluk , juga ada dalam mu’amalah dengan Khaliq. Jadi, materi pembahasan akhlak yang baik mencakup mu’amalah dengan Khaliqdan juga mu’amalah dengan makhluk.

Lalu bagaimanakah akhlak yang baik dalam bermu’amalah dengan Khaliq ?

Akhlak yang baik dalam bermu’amalah dengan Khaliq mencakup tiga perkara:

  1. Menerima semua berita dari Allah Ta’ala dengan mempercayainya (membenarkannya).

  2. Menerima hukum-hukum-Nya dengan cara melaksanakan dan menerapkannya.

  3. Menerima takdir-Nya dengan sabar dan ridha.

Inilah tiga hal yang menjadi poros kebaikan akhlak kepada Allah  عزوجل .

1 . Menerima Berita-Nya Dengan Cara Membenarkanya

Dengan cara tidak boleh adanya keraguan pada diri manusia dalam mempercayai berita dari Allah Ta’ala karena berita dari Allah عزوجل bersumber dari ilmu dan dia adalah yang paling benar ucapan-Nya,sebagaimana Allah Ta’ala berfirman tentang diri-Nya :

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ الله حَدِيْثًا

Siapakah yang lebih benar ucapannya dari pada Allah ? ( QS. An-Nisaa’: 87 )

Berita ini wajib kita terima dengan akhlak yang baik.dan akhlak yang baik terhadap berita ini adalah menerimanya dan meyakini bahwa apa yang dikatakan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم dalam hadits ini adalah benar sekalipun banyak orang yang menentangnya. Kita mengetahui dengan ilmu yang yakin bahwa apa yang menyelisihi hadits shahih dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم adalah bathil,karena Allah berfirman :

فَمَاذَا بَعْدّ الْحَقِّ إِلَا الضَّلَلُ فَأَنَّى تُصْرَفُوْنَ

Maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan,maka mengapa kamu berpaling ( dari kebenaran )?’’ ( QS.Yunus : 32 )

Contoh lain :

Tentang berita hari Kiamat,Nabi صلى الله عليه وسلم , telah mengabarkan bahwa matahari akan berada dekat dari manusia pada hari Kiamat sejauh satu mil. Baik ( ukuran ) mil (untuk ) waktu tempuh atau mil ( untuk ) jarak. Jarak antara matahari dan manusia saat ini begitu dekat,sekalipun demikian manusia tidak terbakar dengan panasnya,padahal seandainya matahari di dunia sekarang berada dekat sejarak beberapa mil,pasti dunia ini akan terbajkar. Mungkin ada orang yang berkata, ‘’ Bagaimana matahari dekat dengan manusia pada hari Kiamat dengan jarak seperti itu lalu manusia tetap ada? ‘’ Bagaimana akhlak yang baik terhadap hadits ini ? Akhlak yang baik terhadap hadits ini adalah menerima dan membenarkannya,dan tidak boleh ada ( rasa ) keberatan dalam hati kita tentang masalah ini, rasa sempit atau keraguan. Hendaklah kita mengetahui bahwa apa yang diberitakan oleh Rasul صلى الله عليه وسلم tentang masalah ini adalah benar. Tidak mungkin kita menganalogikan keadaan di akhirat dengan keadan dunia karena adanya perbedaan yang amat besar. Jika demikian,maka seorang mukmin harus menerima berita seperti ini dengan lapang dada dan hati yang tenteram serta meluaskan pemahamannya terhadap hal ini.

2 . Menerima Hukum-Hukum-Nya dengan Cara Melaksanakan dan Menerapkannya

Sesungguhnya akhlak yang baik dalam bermu’amalah dengan Allah عزوجل berkaitan dengan hukum-hukum-Nya adalah manusia harus menerima,melaksanakan dan menerapkannya. Maka, dia tidak boleh menolak sedikit pun dari hukum-hukum Allah itu. Jika dia menolak sedikit saja dari hukum-hukum Allah,maka ini merupakan akhlak yang jelek terhadap Allah,baik menolak karena mengingkari hukum-hukumnya atau menolak karena takabbur ( sombong ), tidak mau mengamalkannya atau menolaknya karena menganggapnya hina dalam mengamalkannya,karena semua itu meniadakan akhlak yang baik terhadap Allah عزوجل .

Kita beri contoh tentang hal ini. Tidak diragukan lagi bahwa shaum ( puasa ) berat bagi manusia,karena manusia harus meninggalkan kesenangannya berupa makan,minum dan nikah ( berhubungan badan suami-istri ). Ini adalah hal yang berat. Akan tetapi bagi seorang mukmin yang berakhlak baik terhadap Rabb-nya عزوجل akan menerima beban ( syari’at ) ini, menerima dengan lapang dada dan hati yang tenteram,jiwanya akan lega terhadapnya.

Contoh lain ( dalam masalah shalat ).

Tidak diragukan lagi bahwa shalat berat ( dilakukan ) bagi sebagian orang. Dia pun berat bagi orang-orang munafik,sebagaimana sabda Nabi صلى الله عليه وسلم

أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَا فِقِيْنَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ.

Shalat yang paling berat ( untuk dilaksanakan ) bagi orang-orang munafik adalah shalat ‘isya dan shalat fajar ( shubuh )

Tapi shalat itu sendiri bagi seorang mukmin adalah suatu ketentraman dan kesenangan jiwa.

وَاْسْتَعِيْنُواْ بِاْلصَّبْرِ وَالْصَّلَوةِ وَإِنَّهُا لَكَبِيْرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَشِعِيْنَ .

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أنَّهُم مَّلَقُواْ رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَجِعُونَ

Dan mohonlah pertolongan ( kepada Allah ) dengan sabar dan shalat. Dan ( shalat ) itu sunguh berat,kecuali bagi orang -orang yang ( khusyu’ ) yaitu mereka yang yakin akan menemui Rabb-Nya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. ‘’ ( QS. Al-Baqarah: 45-46 )

Shalat bagi mereka tidaklah berat,bahkan terasa mudah dan ringan. Oleh karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

جُعِلَتْ قُرَّةَ عَيْنِى فِي الصَّلَاةِ

Telah dijadikan kesenanganku di dalam shalat.

Jadi,akhlak yang baik terhadap Allah عزوجل , berkaitan dengan shalat adalah menunaikannya dengan keadaan hati yang lapang dan tenteram. Engkau bahagia apabila sedang melakukannya dan selalu menunggu apabila waktunya telah lewat waktunya. Jika engkau telah selesai mengerjakan shalat fajar,maka engkau rindu menantikan shalat Zhuhur,jika engkau selesai mengerjakan shalat Zhuhur, maka engkau rindu menantikan shalat ‘Ashar,maka engkau rindu menantikan shalat maghri, dan jika engkau selesai mengerjakan shalat maghrib,maka engkau rindu menantikan shalat ‘isya’, dan jika engkau selesai mengerjakan shalat ‘isya’,maka engkau rindu kepada shalat fajar,demikianlah seterusnya,hatimu selalu bergantung dengan shalat-shalat ini.

Kita berikan contoh ketiga dalam hal mu’amalah

Dalam hal mu’amalah Allah mengharamkan riba kepada kita.

Dia telah mengharamkannya dengan pengharaman yang jelas di dalam al-Qur’an,sebagaimana Allah Ta’ala berfirman :

وَأَحَلَّ الله البَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَواْ..

Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..

( QS. Al-Baqarah: 275 )

فَمَن جَآءَهُ, مَو عِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَاْنتَهَى فَلَهُ, مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ, إِلَى الله وَمَن عَادَ فَأُوْلَئِكَ أَصْحَبُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَلِدُونَ

Maka barangsiapa yang telah datang pelajaran kepadanya dari Rabb-Nya lalu dia berhenti ( dari riba )maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu,dan urusannya terserah kepada Allah. Dan barangsiapa yang melakukan kembali ( riba ), maka merekalah para penghuni Neraka,mereka kekal di dalamnya.’’ ( QS.Al-Baqarah : 275 )

Jadi orang yang kembali melakukan riba setelah datang pelajaran kepadanya dan mengetahui hukumnya,maka dia diancam dengan kekekalan dia dalam Neraka. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

3 . Menerima Takdir-Nya dengan Sabar dan Ridha

Hal yang ketaiga tentang masalah akhlak yang baik terhadap Allah adalah sabar dan ridha atas apa yang ditakdirkan. Setiap kita mengetahui bahwa takdir-takdir Allah عزوجل yang telaksana pada makhluknya,sebagian ada yang memuaskan dan sebagian lain ada yang tidak memuaskan.

Apakah sakit sesuai dengan keinginan manusia ? Sama sekali tidak,seorang manusia menginginkan dirinya sehat. Apakah kefakiran sesuai dengan keinginan manusia ? Tidak! Karena manusia ingin menjadi kaya. Apakah kebodohan sesuai dengan keinginan manusia ? Tidak! Karena manusia ingin menjadi pintar. Akan tetapi takdir Allah عزوجل berdasarkan sifat hikmah-Nya bermacam-macam.

Adapun akhlak yang baik kepada makhluk,tentang hal ini telah diterangkan oleh sebagian ulama. Diterangkan dari al-Hasan al-Bashri bahwa akhlak yang baik adalah tidak mengganggu ( menyakiti ),bersikap dermawan dan ramah.

Tiga perkara :

  1. Tidak mengganggu ( menyakiti )

  2. Bersikap dermawan

      3. Bersikap ramah

4. Tidak Mengganggu

Arti tidak mengganggu adalah seseorang menahan diri dari mengganggu orang lain,baik gangguan ini berkaitan dengan harta,jiwa,ataupun kerhormatan maka barangsiapa yang tidak menahan diri dari mengganggu orang lain,itu bukanlah termasuk akhlak yang baik,tetapi akhlak yang jelek.

5. Bersikap Dermawan

An-Nada artinya dermawan dan suka memberi,yakni bersikap dermawan. Kedermawanan bukanlah seperti banyak diduga manusia yaitu hanya memberi harta saja,tetapi kedermawana bisa juga berupa memberi pengorbanan jiwa,kedudukan,dan juga harta. Apabila kita melihat seseorang memenuhi kebutuhan manusia dan membantu mereka dengan mencurahkan perhatian mereka kepada orang yang tidak mampu mencapai tujuannya,menyebarkan ilmu di kalangan manusia,memberi hartanya kepada sesama,maka kita mensifatinnya dengan akhlak yang baik karena dia berbuat dermawan.

6. Bersikap Ramah ( Wajah yang Berseri )

Adapun bersikap ramah yaitu dengan wajah yang berseri-seri.

Lawannya adalah wajah yang masam ( cemberut ). Oleh karena itu Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا, وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بَوَجْهٍ طَلْقٍ.

Janganlah kalian menganggap rendah kepada kebaikan apan pun sekalipun dengan memasang wajah berseri-seri kepada saudaramu.’’

Wajah yang berseri-seri akan memasukkan kegembiran bagi orang yang bertemu dan berhadapan denganmu dan bisa melahirkan cinta dan kasih sayan,serta akan memberikan kelapangan hati,bahkan kelapangan dada bagimu dan bagi orang lain,cobalah,maka engkau akan merasakannya-akan tetaapi jika engkau bermuka masam ( cemberut ) maka manusia akan lahir darimu,mereka tidak akan merasa nyaman ketika duduk atau berbicara deanganmu,terkadang akan menimbulkan penyakit yang disebut dengan stress,karena kelapangan dada dan wajah yang berseri-seri termasuk terapi pencegah penyakit stress ini.

Akan tetapi memberikan kegembiraan kepada orang yang berhubungan denganmu,baik keluarga,teman,ataupun kerabat termasuk akhlak yang baik. Oleh karena itu,Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

إِنَّ خَيْرَ كُمْ خَيْرُ كُمْ لأَ هْلِهِ وَأَنَا خَيرُ كُمْ لأَهْلِى

Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian kepada keluargaku.

DAFTAR PUSTAKA

Buku berjudul ~~~ MENUNTUT ILMU~~~~

Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin

Diringkas oleh : Asandri

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.