AGAR KENYATAAN TIDAK JAUH DARI HARAPAN

AGAR KENYATAAN TAK  JAUH DARI HARAPAN

     Anak adalah anugerah terindah dari Allah bagi orang tuanya adalah jantung hati dan belahan jiwa. Seorang ayah dan ibu agar sangat rela untuk berletih dan lelah mencari rejeki demi kebahagiaan sang anak kelak. Mereka juga akan siap bergadang manakala sang anak sakit untuk menjaga dan merawatnya serta berdo`a untuk kesembuhanya tidak sedikitpun keluh kesa mereka ucapkan karna kerepotan yang mereka rasakan dalam menjaga buah hatinya.

Maka alangkah bahagianya kedua orang tua ketika mendapati anak mereka telah tumbuh dewasa menjadi anak yang sholih, berbakti kepada mereka serta menunaikan hak-hak mereka karena Allah. Terasa terbayar sudah lelah dan letih yang pernah mereka rasakan selama mendidiknya dan menjaganya. Serasa hilang sudah rasa capek yang dulu mereka rasakan ketika mencari rejeki dalam memenuhi kebutuhan anaknya demi kebahagiaannya ketika dewasa. hari-hari terasa begitu indah mereka lalui bersama anak yang sholih dan berbakti kepada mereka.

Begitu juga sebaliknya, betapa hati orang tua akan hancur berkeping-keping, perih bagaikan tersayat  sembilu ketika ia dapati anaknya tumbuh dewasa menjadi anak yang durhaka tidak taat kepada Allah dan rasulNya apa lagi kepada orang tuanya. Kata-katanya kasar lagi kotor, tidak ada sedikitpun rasa hormat yang dia berikan untuk orang tuanya.

Disini kita harus bijak untuk mencari sebab dari kesalahan ini tidak seharusnya kita sebagai orangtua menimpakan kesalahan itu kepada anak saja disebabkan kedurhakaannya itu adalah dari orangtua itu sendiri karena tidak pernah mengajarkan dengan baik bagaimana ia harus mentaati Allah dan rasulNya serta berbakti kepada kedua orang tuanya mereka juga tidak pernah menjelaskan dengan baik tentang bahaya kedurhakaan sehingga sang anak bisa menjauhinya. Intinya pendidikan yang salah telah menciptakan yang salah pula.

Dan sebaik-sebaik contoh bagi kita dalam segala urusan adalah rasulullah tidak terkecuali dalam pendidikan anak. Allah berfirman;

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri tauladan yang baik bagi kalian.(QS.Al-Ahzab:21)’’

Maka dalam kesempatan ini disebutkan beberapa contoh dari metode nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dalam mendidik anak agar apa yang kita harapkan dari anak kita berupa kesholihan mereka bisa terwujud atau paling tidak, tidak terlalu jauh dari apa yang kita harapkan.

Pertama: Memberikan contoh yang baik untuk mereka

Ketahuilah bahwa anak itu dilahirkan dalam keadaan bersih dan lurus, apa bila dia dijaga dan dididik dengan benar, maka akan terjaga pula kelurusan dan kebersiaan jiwanya, sehingga akan lahir pula darinya akhlak yang bersih lagi lurus, sejalan dengan syari`at islam. Tapi juga tidak ada contoh yang baik yang ditunjukan orang tua berupa akhlak yang islami maka sang anak akan meniru perilaku buruk orang tuanya rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

“Tidaklah seorang anak pun kecuali ia dilahirkan dalam keadaan bersih, maka orang tualah yang menjadikan ia yahudi,atau nasrani atau majusi.’’(HR Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam senantiasa menyuruh orang tua agar memberikan contoh yang baik untuk anak-anaknya, karena seorang anak akan mengikuti apa yang ia lihat dari orang tuanya dan akan menjadi kebiasaannya.

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Abdullah bin Amir di panggil oleh ibunya, dan Rasulullah waktu itu sedang berada dirumahnya, maka ibunya berkata: “kemarilah nanti kamu beri sesuatu”. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pun bertanya padanya :”Apa yang hendak engkau berikan ?” ibunya menjawab : “Aku akan beri dia kurma. Maka Rasulullah bersabda:

أما إنك لولم تعطه شيئا كتبت عليك كذبة

Ketahuilah sesungguhnya engkau jika tidak memberinya sesuatu, maka hal itu akan dicatat sebagai suatu kebohongan.”(HR. Abu Dawud)

Dengan memberikan contoh yang baik maka orang tua berarti sedang mengajak anaknya berbuat baik, karena seorang anak akan terus melihat perilaku orantuanya kemudian akan berusaha untuk terus menirunya.

Kedua: Berbuat adil kepada semua anaknya.

Orang tua dituntut untuk berbuat adil kepada anak-anaknya, memperlakukan mereka dengan perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan mereka. Karna dengan perilaku yang sama akan meninggalkan bekas yang baik pada anak-anak mereka, untuk berbuat baik pada orang tua mereka.

Cukup bagi kita untuk mengetahui bahwa ketika seorang anak merasa bahwa salah satu dari orang tuanya lebih memperhatikan saudaranya dari pada dirinya maka hal ini akan melahirkan sifat dengki dan keras hati sehingga orang tua akan kesulitan untuk menasehati.

Oleh karena itulah rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menjelaskan kepada kita akan pentingnya orang tua untuk berbuat adil kepada anak-anaknya. Imam Bukhori dan Muslim membawakan riwayat dari Nu`man bin Basyir bahwa ayahnya mengajaknya untuk menghadap rasulullah, kemudian berkata: “sesungguhnya aku telah memberi putraku ini seorang budak milikku’’. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bertanya: “Apakah seluruh putramu engkau beri juga?’’ Ayahku menjawab: “Tidak’’. Maka rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berkata: “kalau begitu jangan kau jadikan aku saksi atas perbuatan dzalimmu ini’’. Kemudian beliau menambahkan: “Tidaklah engkau senang jika seluruh anakmu berbuat baik terhadapmu? Ayahku menjawab: “Tentu’’. Maka rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kembali bersabda: Kalau begitu jangan kau lakukan itu’’. Dalam riwayat muslim dikatakan: “Apakah engkau melakukan ini kepada seluruh anakmu? Ayahku menjawab: “Tidak’’. maka rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

إتقوالله واعدلوا في اولادكم

“Bertakwalah engkau kepada Allah dan berbuatlah adil pada anak-anakmu.’’ Maka ayahku pun mengambil kembali sedekah itu (dariku).(HR Muslim)

 

Ketiga: Mendoakan anak dengan kebaikan.

Sudah tidak asing bagi kita akan keajaiban do`a, dan betapa hebatnya pengaruh yang ditimbulkannya, terlebih do’a tersebut dari orang tua untuk anaknya. Maka hendaknya orang tua betul-betul memperhatikan waktu-waktu yang mustajab agar ia mendoakan didalamnya untuk kebaikan dunia dan akhirat putra putrinya.

Oleh karena itu kita sebagai orang tua dilarang untuk mendo’akan keburukan untuk anak kita. Seburuk-buruknya akhlak anak kita misalnya maka jangan sampai terucap dari kita do’a yang buruk untuk mereka. Karena do’a yang buruk tidak akan membantu anak untuk menjadi baik, justru bisa menambah perkaranya jadi lebih parah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “janganlah kamu mendo’akan keburukan untuk dirimu, jangan kamu mendo`akan keburukan anakmu, jangan kamu mendo’akan keburukan untuk pembantumu, jangan kamu mendo’akan keburukan untuk hartamu. Jangan sampai kalian berdo’a (keburukan) dan menepati suatu waktu yang Allah turunkan waktu itu hingga akan terkabulkanlah do’amu’’.

Maka dari pada do’a kita menambah keburukan bagi anak kita, sudah seharusnya kita merubah do’a buruk itu dengan mendo’akan mereka dengan do`a yang baik.

Abdullah bin Abbas pernah berkata: “rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mendekapku dan mendekatkanku ke dada beliau, kemudian dia berdo`a:

أللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل

“Ya Allah, jadikanlah ia orang yang faham agama ini, dan ajarkanlah ia tafsir’’.(HR Ahmad)

Maka dengan keberkahan do’a beliau (Ibnu Abbas) tumbuh menjadi orang yang ‘Alim, menjadi tempat rujukan untuk bertanya tentang perkara agama, dan beliau terkenal dengan julukan turjuman al-Qur`an.

Keempat: Meninggalkan banyak mencela dan mencerca anak.

Bila kita memperhatikan kehidupan rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam maka akan kita dapatkan bahwa beliau sangat jarang sekali mencela atau mencerca perbuatan seseorang, terlebih terhadap anak-anak. Sahabat Anas yang membantu rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam selama sepuluh tahun berturut-turut pernah menceritakan bagaimana rasulullah mendidiknya, beliau berkata: “rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah mengatakan“ah!’’kepadaku sama sekali.’’ Tidak pula mengatakan terhadap apa yang aku melakukan “kenapa engkau melakukan ini!’’. Atau mengatakan terhadap apa yang aku tidak melakukan “kenapa engkau tidak melakukan ini!’’.

Syaikh Syamsuddin al-inbaby mengatakan dalam riwayat risalah beliau yang berjudul: “Riyadatush Shibyaan wa ta’limihim’’ mengatakan. “janganlah mencela anak setiap waktu, karna hal itu akan menjadikan anak tersebut mudah untuk mencela dan melakukan perbuatan yang buruk’’.

Ini lah beberapa metode yang bersumber dari perilaku rasulullah dalam mendidik, dan semoga dapat membantu kita dalam mendidik putra-putri kita, sehingga akan terlahir kelak generasi rabbani, dan menjadikan kenyataan yang akan kita lihat tidak jauh dari apa yang kita harapkan. Wallahu a`lambish-showab.

 

 

REFERENSI:

MAJALA LENTERA QALBU/EDISI.1/VOL.05/2014../

DITULIS OLEH                  : UST. HIZBUL MAJID.

DIRINGKAS OLEH            : FITRI LESTARI.

KELAS                                  : IMAH 1 (SMA)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.