Agama Islam yang Benar, Solusi dari Semua Problem

islam

Agama Islam yang Benar, Solusi dari Semua Problem

(BAGIAN 2)

 

Dialah agama yang para penganutnya yang konsisten berpegang dengan petunjuk dan ajaran-ajarannya telah membuka banyak hati umat manusia dengan cahaya ilmu dan iman serta telah menaklukkan banyak wilayah dengan keadilan dan kasih sayang. Dengan agama ini, Allah azza wajalla telah memperbaiki banyak keyakinan dan akhlak, telah memperbaiki kehidupan dunia dan akhirat. Dengan agama ini, Allah azza wajalla menyatukan hati-hati yang telah bercerai-berai.

Dialah agama yang paling muhkam (kokoh, akurat) dalam semua pemberitaan dan hukumnya. Islam tidak akan memberitakan kecuali dengan jujur dan benar serta tidak akan menetapkan hukum kecuali dengan benar dan adil. Tidak ada dan tidak akan ada ilmu pengetahuan yang benar yang bisa menyangkal sedikit pun dari semua beritanya dan tidak akan ada hukum yang lebih baik daripada hukum-hukumnya.

 

Allah azza wajalla berfirman:

الر. ۚ كِتَٰبٌ أُحۡكِمَتۡ ءَايَٰتُهُۥ ثُمَّ فُصِّلَتۡ مِن لَّدُنۡ حَكِيمٍ خَبِيرٍ١

Alif laam raa, (inilah) suatu Kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Maha tahu. (QS. Hud/11:1)

 

Dialah agama yang membimbing umat manusia menuju kebenaran dan jalan yang lurus. Kebenaran adalah -syiarnya, keadilan adalah porosnya, al-haq adalah penopangnya, kasih sayang adalah ruh dan tujuannya, kebaikan adalah pengiringnya, baik dan mengadakan perbaikan merupakan perhiasannya dan amal perbuatannya, hidayah dan petunjuk adalah bekalnya.

 

Dialah agama yang memadukan antara kebutuhan ruh, hati dan jasad. Allah azza wajalla memerintahkan para hamba-Nya dengan perintah yang sama dengan perintah-Nya kepada para rasul-Nya  yaitu perintah beribadah kepada-Nya, mengerjakan amal shaleh yang mendatangkan ridha-Nya, mengkonsumsi makanan dan minuman yang baik-baik serta mengeluarkan semua yang Allah azza wajalla tundukkan buat mereka dalam kehidupan ini. Sehingga semua orang yang mengamalkannya dengan benar, pasti akan terdorong ke arah peningkatan dan ke arah kemajuan yang benar.

 

Barang siapa mengetahui sifat-sifat agama ini, pasti dia akan tahu keagungan anugerah Allah azza wajalla kepada para makhluk-Nya berupa agama ini. Dan barang siapa mencampakkannya, maka dia pasti akan terjerumus dalam kebatilan, kesesatan dan kerugian. Karena semua agama yang berseberangan dengan agama Islam itu keadaannya antara khurafat atau watsniyaat (penyembah berhala), antara ateis atau yang menuhankan materi. Jika agama yang benar ini hengkang dari hati seseorang, maka akhlak-akhlak terpuji pun akan ikut hengkang dan diganti dengan akhlak rendahan yang tercela. Akhlak-akhlak tercela itu akan menyeret pelakunya ke derajat paling rendah, sehingga keinginan dan cita-cita tertinggi mereka adalah hanya bersenang-senang dengan kehidupan dunia yang singkat ini.

 

Problem Kedua : Masalah Ilmu

Banyak orang salah dalam memahami maksud dari ilmu yang shahih, yang harus dicari atau dipelajari. Dalam hal ini, ada dua pendapat yang sama-sama keliru, satu satunya lebih berbahaya dari yang lain.

 

Pertama:

Pendapat yang mengatakan bahwa ilmu (yang wajib dituntut) itu hanya sebagian ilmu syar’i saja, yaitu ilmu yang berhubungan langsung dengan perbaikan akidah (keyakinan), akhlak dan ibadah, tidak seperti yang telah diisyaratkan oleh al-Kitab (Al-Quran) dan as-Sunnah; yang menyatakan bahwa ilmu itu mencakup semua ilmu syar’i dan perangkat-perangkatnya serta ilmu tentang alam ini.

 

Pendapat (keliru) di atas merupakan perkataan orang yang tidak memahami syariat dengan benar. Namun, sekarang ini, pendapat ini mulai ditinggal, ketika mereka tahu ada kemaslahatan yang besar (yang bisa direalisasikan-red) dengan mempelajari ilmu kauni dan juga ketika sebagian besar mereka menyadari kandungan-kandungan nash agama.

 

Kedua:

Pendapat yang mengatakan bahwa ilmu yang dimaksud hanyalah ilmu modern yang merupakan bagian dari ilmu tentang alam semesta.

Pendapat ini muncul dari mereka yang berpaling dari agama, ilmu-ilmunya serta akhlak-akhlaknya. Ini sebuah kesalahan fatal, karena mereka telah menjadikan washilah (perantara) sebagai tujuan dan mereka menolak ilmu yang benar dan ilmu yang bermanfaat hanya dikarenakan tidak sejalan dengan ilmu modern. Mereka tertipu dengan karya-karya serta penemuan-penemuan baru mereka. Merekalah yang dimaksud dalam firman Allah azza wajalla :

فَلَمَّا جَآءَتهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلَبيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلعِلمِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَستَهزِءُونَ٨٣

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab Allah azza wajalla yang selalu mereka perolok-olokkan itu. (QS Ghafir:40/83)

 

Mereka merasa bangga dan sombong dengan ilmu mereka serta meremehkan ilmu yang diajarkan para rasul Allah. Sehingga akhirnya, kebenaran yang mereka olok-olok itu datang. Adzab yang dijanjikan buat mereka yang mendustakan para rasul telah menimpa mereka. Mereka di adzab di dunia dengan ditutup hati, pendengaran dan mata mereka, sehingga mereka buta tidak bisa melihat kebenaran. Allah azza wajalla berfirman:

وَلَعَذَابُ ٱلأٓخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبقَىٰٓ١٢٧

Dan sesungguhnya adzab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (QS Thaha : 20/127)

 

Lalu apakah ilmu yang bermanfaat itu? Al-Quran dan as-Sunnah telah menunjukkan dan mengisyaratkan apa yang dinamakan ilmu yang bermanfaat. Yaitu semau ilmu yang mengantarkan kepada tujuan yang mulia, serta membuahkan sesuatu yang bermanfaat, tidak ada beda antara ilmu yang berkaitan dengan masalah dunia atau masalah akhirat. Apa pun yang bisa menunjukkan kepada jalan (yang benar) dan meningkatkan keyakinan, akhlak dan amal perbuatan, maka itu adalah ilmu.

 

Ilmu bisa dibagi dalam dua kategori:

Maqashid (ilmu-ilmu yang menjadi tujuan) dan wasail (ilmu-ilmu yang menjadi perantara) yang bisa mengantarkan atau membantu untuk sampai kepada tujuan.

Al-Maqashid adalah ilmu-ilmu yang mendatangkan kemashlahatan agama (seseorang atau umat manusia).

Al-wasa-il adalah semau ilmu penunjang yang bisa membantu seseorang untuk bisa mencapai tujuan sebenarnya, seperti ilmu-ilmu tentang bahasa Arab juga berbagai macam ilmu tentang bahasa Arab juga berbagai macam ilmu tentang alam semesta, yang bisa membuat umat manusia mengenal Allah azza wajalla, mengenal keesaan-Nya azza wajalla, kesempurnaan-Nya serta kebenaran para rasul-Nya.

Akhirnya adalah menggunakan semau itu untuk ibadah kepada Allah azza wajalla, bersyukur kepada-Nya dan untuk menegakkan agama.

 

Disini ada motivasi agar umat manusia (kaum Muslimin) mempelajari ilmu-ilmu tentang alam yang bisa dipergunakan untuk mengeluarkan atau mengeksplore segala yang telah Allah azza wajalla tundukkan untuk kita. Karena manfaat-manfaat itu tidak akan bisa kita realisasikan tanpa ada usaha untuk mencarinya, memikirkannya dan melakukan eksperimen (dan ini butuh ilmu tentang alam itu sendiri-red). Allah azza wajalla berfirman:

وَأَنزَلۡنَا ٱلۡحَدِيدَ فِيهِ بَأۡس شَدِيد وَمَنَٰفِعُ

Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia. (QS. Al-Hadid/57: 25)

 

Banyak sekali nash dari Al-Quran dan as-Sunnah yang memuji ilmu, memuji orang-orang yang berilmu serta menyebutkan keutamaan mereka dibandingkan yang selainnya, Allah azza wajalla berfirman:

قُلۡ هَلۡ يَستَوِي ٱلَّذِينَ يَعلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعلَمُونَۗ

Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar/39 : 9)

 

Dan untuk orang-orang yang jahil atau belum tahu, maka mereka diperintahkan agar bertanya kepada para ahli ilmu. Suatu perintah tidak akan mungkin bisa ditaati begitu juga larangan, kecuali setelah mengetahui ilmunya. Oleh karena itu, semua perintah dan larangan dalam syariat menunjukkan adanya kewajiban mempelajari segala ilmu yang dengannya larangan dan perintah itu bisa dilaksanakan. Misalnya, Allah azza wajalla membolehkan bentuk muamalah yang lainnya. Dalam hal ini, tidak mungkin seseorang bisa membedakan antara yang dihalalkan dengan yang diharamkan kecuali dengan berdasarkan ilmu.

 

Dengan uraian di atas, kita tahu bahwa syariat yang sempurna ini memerintahkan pengikutnya untuk mempelajari semau ilmu yang bermanfaat, seperti ilmu tauhid, ilmu ushuludin, ilmu fikih dan ilmu tentang hukum-hukum, ilmu bahasa arab, ilmu ekonomi dan ilmu politik serta semua ilmu yang akan bermanfaat untuk kebaikan masyarakat dan individu.

Maka, tidak ada ilmu yang bermanfaat dalam agama dan dunia ini kecuali akan diperintahkan oleh syariat ini, dimotivasi serta dianjurkan untuk mempelajarinya. Sehingga dalam syariat ini akan terpadu antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu tentang alam semesta, dan akan bersatu antar ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu dunia, bahkan bisa saja syariat mengkategorikan ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat itu sebagai bagian dari ilmu agama.

 

Sementara itu, sebagian kelompok ekstrem hanya membatasi ilmu yang wajib dituntut hanya pada sebagian ilmu saja. Dengan ini, mereka telah terjatuh dalam kesalahan yang buruk.

Sedangkan, mereka yang berpaham materialism, mereka mencukupkan pada sebagian ilmu tentang alam saja, dan mengingkari yang lain. Dengan ini,  berarti mereka berpaling dan menyia-nyiakan agama dan akhlak mereka, sehingga akibatnya, hasil dari ilmu mereka merupakan produk-produk yang kering tidak bisa membersihkan akal dan jiwa serta tidak memberikan kontribusi apa pun dalam perbaikan akhlak. Kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada manfaat yang dihasilkan. Mereka mendapatkan manfaat dari sisi kemajuan produk dan berbagai inovasi penemuan baru dan berbagai pengaruhnya, namun dari beberapa sisi, kerusakan yang timbul, minimalnya dari dua sisi:

Pertama: berbagai penemuan dan produk mereka menimbulkan bencana besar untuk mereka sendiri dan umat manusia umumnya, karena produk-produk mereka sering menimbulkan kerusakan, peperangan dan kehancuran.

Kedua: menimbulkan kesombongan pada diri-diri mereka sehingga akhirnya mereka berani meremehkan ilmu-ilmu yang dibawa oleh para rasul juga ajaran-ajaran agama.

 

Allah azza wajalla berfirman:

إِنَّ ٱلَّذِينَ يُجَٰدِلُونَ فِيٓ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ بِغَيرِ سُلطَٰنٍ أَتَٰهُمۡ إِن فِي صُدُورِهِمۡ إِلَّا كِبر مَّا هُم بِبَٰلِغِيهِۚ فَٱستَعِذۡ بِٱللَّهِۖ  إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلبَصِيرُ٥٦

Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah azza wajalla tanpa alasan yang sampai kepada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran yang merak sekali-kali tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya dia Maha mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Ghafir/Mukmin/40: 56)

 

Allah azza wajalla juga berfirman:

فَلَمَّا جَآءَتهُمۡ رُسُلُهُم بِٱلبَيِّنَٰتِ فَرِحُواْ بِمَا عِندَهُم مِّنَ ٱلعِلمِ وَحَاقَ بِهِم مَّا كَانُواْ بِهِۦ يَستَهزِءُونَ٨٣

Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membaca keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu. (QS. Ghafir/40 : 83)

 

Dengan pemaparan di atas, dapat diketahui dengan jelas bahwa ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat itulah ilmu-ilmu dibawa oleh kitabullah azza wajalla dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ilmu-ilmu itu mencakup semua ilmu yang bermanfaat dan ilmu pengetahuan yang benar.

REFERENSI:

 

Diringkas oleh Fauzan Alexander

Staff Ponpes Darul-Qur’an Wal-Hadits, OKU Timur

Diringkas dari MAJALAH ASSUNNAH EDISI 09/TAHUN. XXII/JUMADIL AWWAL 1440 H/ JANUARI 2019 M

Penulis: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di

Baca Juga Artikel:

Adab-Adab Bertamu

Benarkah Cara Islam Anda?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.