ADAB TAWADHU

logo tawadhu

TAWADHU’

HIASAN SETIAP MUKMIN

Doa adalah amalan ibadah yang paling mulia, sebagaimana Rosululloh  bersabda : “Sebaik-baik ibadah adalah doa”[1]. Oleh karena itu kita harus berusaha memenuhi semua hal  yang menjadikan doa ini diterima dan mendapatkan faidah yang dihasilkan dari doa.

Dan di antara faidah dari sisi orang yang berdoa adalah dia  akan memiliki sifat tawadhu’. Karena di antara hakikat doa adalah kita merendahkan diri di hadapan Alloh, bersimpuh sujud memohon hal yang bermanfaat dan menolak marabahaya.

Pengertian Tawadhu’

Secara bahasa, tawadhu’ bermakna tunduk dan merendahkan diri.[2]

Sedangkan secara istilah di antara maknanya adalah:

  1. Menampakkan derajat yang rendah, yang seharusnya dia berhak mendapatkan pengagungan[3].
  2. Kerelaan seorang dengan derajat yang rendah yang seharusnya dia berhak mendapatkan kemuliaan dan keutamaan. Derajat tawadhu’ yaitu  pertengahan antara sombong dan lemah, adapun lemah adalah meletakkan dirinya pada posisi tercela sehingga haknya hilang, sedangkan sombong adalah meninggikan dirinya di atas kemampuannya.[4]
  3. Meninggalkan sikap ingin menjadi pemimpin, menampakkan kerendahan, membenci sikap diagungkan dan ingin dimuliakan, dan menjauhi pemberian yang di dalamnya ada sifat pemuliaan dan pujian baik berupa jabatan atau harta dan menjaga diri dari sikap congkak dan sombong. [5]

Keutamaan tawadhu’

Sifat tawadhu’ adalah sifat yang mulia, sehingga dia  memiliki keutamaan, yang semoga dengan keutamaan ini, akan memberikan dorongan bagi kita untuk segera mengamalkannya, di antara keutamaannya adalah:

  1. Menunaikan perintah Alloh

Alloh l memerintahkan untuk bersikap tawadhu’ dengan merendahkan diri. Sebagaimana firman Alloh l :

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang beriman” (QS. Asy Syu’aro : 215)

  1. Dikarunai surga.

Orang yang tawadhu’ tidak akan bersikap sombong, sehinga Alloh akan membalasnya dengan surga. Alloh berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ عُلُوّاً فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَاداً وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Qoshos [28]: 83)

Rosululloh n bersabda :

« أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ ». قَالُوا بَلَى. قَالَ -صلى الله عليه وسلم- « كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لأَبَرَّهُ ». ثُمَّ قَالَ « أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ ». قَالُوا بَلَى. قَالَ « كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ »

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang ahli surga?” Para sahabat menjawab: “Ya.” Rosululloh n bersabda : “(yaitu) Setiap yang lemah (fakir, atau lemah menghadapi gangguan orang, atau berhati tunduk), orang yang tawadhu; kalau bersumpah maka dia akan  memembebaskan sumpah tersebut (dengan menunaikannya –pent- ).” Rosululloh bersabda : “Maukah aku kabarkan tentang penghuni neraka?” Para sahabat menjawab: “Ya.” Rosululloh n bersabda : Setiap yang keras, kasar dan sombong.[6]

Rosululloh n bersabda :

مَنْ تَرَكَ اللِّبَاسَ تَوَاضُعًا لِلَّهِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ دَعَاهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ مِنْ أَيِّ حُلَلِ الْإِيمَانِ شَاءَ يَلْبَسُهَا

“Barangsiapa yang meninggalkan suatu pakaian  karena tawadhu’ kepada Alloh padahal dia mampu, maka Alloh akan memanggilnya pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk hingga Alloh memberinya pilihan dari perhiasan penduduk surga, ia bisa memakainya sekehendaknya.” [7]

  1. Alloh akan mengangkat derajatnya.

Rosululloh n bersabda : “Sodaqoh itu tidak akan mengurangi harta, dan tidaklah Alloh akan menambah seorang hamba karena sikap pemaaf melainkan dengan kemulian, dan tidaklah seorang bersikap tawadhu’ karena Alloh melainkan Alloh akan mengangkat derajatnya”[8]

Berkata Qodhi ‘Iyadh tentang sabda Rosululloh n (dan tidaklah seorang bersikap tawadhu’ karena Alloh melaikan Alloh akan menaikkan derajatnya)[9] : di dalamnya mengandung dua hal :

Pertama : Alloh l akan memberi balasan di dunia dikarenakan sikap ketawadu’annya, dan Alloh akan menetapkan di dalam hatinya adanya kecintaan, pangkat dan kemuliaan dikarenakan sifat tawadhu’nya.

Kedua : dia akan mendapat pahala di akhirat dikarenakan ketawadhu’annya.[10]

  1. Tawadhu’ merupakan akhlak yang mulia

Alloh l berfirman :

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (alfurqon : 63)

Berkata Ibnul Qoyyim berkaitan dengan “Firman Alloh “berjalan di atas bumi dengan rendah hati” yaitu mereka berjalan dengan tenang, penuh dengan ketawadhu’an, tidak congkak dan sombong.” [11]

Macam-macam tawadhu’

Pertama : Tawadhu’ yang terpuji

Yaitu meninggalkan sikap melampaui batas, sombong, meremehkan dan menghina  terhadap para hamba Alloh. Yang mana tawadhu’ ini dibagi menjadi dua macam:

  • Macam pertama :  Tawadhu’nya seorang hamba dalam mentaati perintah Alloh dan menjauhi larangan- Karena ketika seorang hamba merendahkan dirinya dikarenakan menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangan-Nya maka dia telah bersikap tawadhu’ yang memuat makna ibadah.
  • Macam kedua : Tawadhu’nya seorang hamba dikarenakan keagungan, ketinggian dan kemuliaan Alloh. Maka setiap  orang yang merasa besar, ketika dia mengingat akan keagungan, keesaan, dan murka Alloh yang sangat keras kepada orang yang menentang dan menyelisihi-Nya, maka orang tersebut akan memiliki sifat tawadhu’ kepada-Nya dan hatinya akan lunak dan tenang dikarenakan keagungan dan kekuasaan-Nya , dan inilah tujuan dari tawadhu’.[12]

Kedua : Tawadhu’ yang tercela

Yaitu tawadhu’nya seseorang dikarenakan mengharap dunia dan ini adalah tawadhu’ yang tercela dan hina, seperti sikap tawadhu’ untuk mendapatkan bagian dari dunia dan untuk memenuhi keinginan syahwatnya.[13]

Tingkatan Tawadhu’

Syaikhul islam al Harowi menyebutkan bahwasanya tawadhu’ memiliki tiga tingkatan:

Tingkatan pertama: Tawadhu’ di dalam agama

Yaitu tidak menolak sesuatu yang sudah dinukilkan dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan akalnya dan tidak menuduh dengan kejelekan dan mencurigainya dengan menjadikan agama sebagai dalil, serta tidak memandang baik jalan yang menyelisihinya.[14]

Berkata Ibnul Qoyyim : “Tawadhu’ dikarenakan agama adalah berpegang teguh kepada apa yang datang dari Rosululloh n dan berserah diri serta tunduk kepada apa yang datang kepadanya, yang mana hal ini dapat dicapai dengan tiga hal[15]:

  • Pertama : Tidak menolak dan menentang salah satu dari apa yang datang kepada Rosululloh n dengan empat sikap pertentangan dan perlawanan yang berjalan di dunia ini yaitu dengan akal, analogi, perasaan dan politik.
  • Kedua : Tidak menunduh jelek kepada salah satu dalil agama ini, dimana dia menyangka ini adalah kesalahan dalam berdalil atau kurang dan lemah di dalamya, atau menyangka dalil yang lain lebih baik dari pada dalil yang berasal dari agama Islam, jadi tatkala dia berlawanan dengan salah satu dalil syar’i, maka dia akan menuduh jelek kepada apa yang ada dalam pemahaman dalil tersebut dan dia memahami ini adalah kesalahan dan keluputan dari dalil syar’i tersebut
  • Ketiga : Tidak mengambil jalan lain yang menyelisihi nash syar’i selama-lamanya, tidak dengan batinnya, lisannya, perbuatannya maupun dengan keadaannya.

Tingkatan Kedua: Menerima kebenaran dari orang yang dicintai atau yang dibenci

Seorang yang memiliki sifat tawadhu’ akan selalu menerima kebenaran dari siapa saja, baik yang dia sukai atau dibenci, karena setiap kebenaran pasti ada hikmahnya, meskipun kita tidak tahu hikmah. Karena sudah ketetapan Alloh untuk mentaati Alloh dan Rasulnya. Sebegaimana firman Alloh :

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Alloh dan taatilah Rosul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Alloh (Al Quran) dan Rosul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Alloh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (an-Nisa’ : 59 ).

Tingkatan Ketiga: Menjunjung al-haq

Yaitu menjadikan al-haq dan perintah sebagai dasar perbuatan dan menjalankan ibadah kepada Alloh semata-mata karena perintah dari Alloh dan bukan karena kebiasaan atau hawa nafsu, karena kebenaran datangnya hanya dari Alloh.

 

BERSAMBUNG

[1] HR. Bukhori Muslim.

[2] Taajul ‘Aruus, Murtadha Az-Zubaidiy. (22/347)

[3] Fathul Baari , Ibnu Hajar (11/341)

[4] Adz-Dzarî`ah ilâ Makârimil Akhlâq, Ar-Roghib Al-Ashfahani, hal. 299.

[5] Tahdzibul Akhlâq, Al Jaahidz ,hal. 25.

[6] HR Bukhori (4918), Muslim (2853), dari Haaritsah bin Wahb rodhiyallahu ‘anhu.

[7] HR. Titmidzi (2481) dari hadits Mua’dz bin Anas radhiyallahu ‘anhu, dan beliau menghasankan, dan dishohihkan oleh syaikh al- Albani di Shohih al Jaami’ (6145).

[8] HR. Muslim (2588), dari sahabat Abu Hurairah rodiyallahu ‘anhu.

[9] HR. Muslim (2588), dari sahabat Abu Hurairah rodiyallahu ‘anhu.

[10] “Ikmaalul Mu’allim Syarh Sohih Muslim”. al-Qodhi ‘Iyaadh (8/59)

[11] Madaariju as-Saalikiin, Ibnu Qoyyim (3/108)

[12] Ar-Ruuh , Ibnul Qoyyim, hal 234 dengan sedikit ringkasan

[13] Ar-Ruuh , Ibnul Qoyyim, hal 234 dengan sedikit ringkasan

[14] Madârijus Sâlikîn; Ibnul Qoyyim; 3 / 120, dengan sedikit ringkasan.

[15] Madârijus Sâlikîn; Ibnu Qoyyim; 3 / 120, dengan sedikit ringkasan.

Referensi : Diambil dari Majalah Lentera Qalbu

baca artikel sebelumnya : Berakhlak Mulia Dalam Pergaulan

juga artikel selanjutnya : Hinanya Profesi Pengemis

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.